Ini 16 Pemuda Indonesia yang Masuk Daftar Forbes

Nani Mashita

Sabtu, 6 April 2019 - 18:45

JATIMNET.COM, Surabaya – Usia boleh dianggap muda, tapi 16 pemuda ini punya ide dan kemampuan brilian. Forbes pun memasukkan mereka dalam Forbes 30 Under 30 Asia, daftar pemuda berpengaruh di kawasan Asia.

Ke-16 pemuda ini sejajar dengan 300 anak muda lain, yang dianggap punya pengaruh, dan mengubah persaingan bisnis konvensional. Mereka dianggap terdepan dan memegang kendali permainan, yang ada di kawasan Asia Pasifik.

"Mereka berinovasi lewat teknologi, dan menunjukkan bakat luar biasa, dan mendominasi panggung dunia, kelompok bintang muda ini bersinar dengan lebih dari satu cara," tulis Forbes dilansir dari Forbes.com, Sabtu 6 April 2019.

 Agung Bezharie, Harya Putra and Sofian Hadiwijaya  

Startup ini didirikan oleh Agung Bezharie, Harya Putra and Sofian Hadiwijaya yang meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan adalah bisnis mikro. Ketiganya berhasil menciptakan 1.200 kios yang dioperasikan oleh 500 pengusaha mikro.

BACA JUGA: Pertumbuhan Startup Dorong Penjualan Komputer dan Peralatan Teknologi

Warung Pintar telah mengumpulkan USD 8 juta dalam pendanaan awal dari SMDV, East Ventures, Insignia Ventures Partner, Digital Garage, Triputra Group dan berbagai investor lainnya.

 Amanda Cole 

Punya minat di bisnis agrikultur, Amanda Cole akhirnya keluar dari pekerjaan, dan membuat pertanian sendiri, tapi dalam bentuk startup yang diberi nama Sayurbox. Startup ini membantu para petani, mendapatkan harga yang lebih fair.

Aplikasi ini membantu konsumen, mendapatkan produk segar langsung dari petani, tanpa melewati tengkulak. Sayurbox telah bermitra dengan 300 peternakan, dan melayani 50.000 pelanggan, dengan 1.000 pengiriman sehari.

BACA JUGA: Startup di Indonesia Berawal dari Cocroach Sebelum Jadi Unicorn

Aplikasi yang dibuat perempuan 28 tahun ini memenangkan kompetisi startup Seedstars Jakarta, dan telah menerima lebih dari USD 2 juta dalam pendanaan.

Angky William

Mantan engineering Amazon, Angky William mendirikan Stoqo sebuah pasar business to  business untuk gerai makanan dan minuman kecil, untuk mendapatkan bahan-bahan segar, andal, dan harga bersaing.  

William telah membangun teknologi multi-platform lewat Stoqo, untuk melayani puluhan ribu pelanggan di Indonesia.

Stoqo telah mengumpulkan dana tujuh digit dari Accel Partners, Monk Hill Ventures, ZhenFund, Insignia Ventures, dan Alpha JWC Ventures.

BACA JUGA: Startup Kesehatan Asal Indonesia Dapat Suntikan Dana USD65 Juta

William memperoleh gelar sarjana sains, di bidang teknik komputer, dari University of Illinois di Urbana-Champaign.

Gitta Amelia

Setelah lulus dari Wharton School di Universitas Pennsylvania in 2017, Gitta Amelia memulai EverHaus, sebuah perusahaan modal ventura tahap awal senilai USD 5 juta, yang berfokus di Indonesia.

Pada tahun 2018, EverHa's diperingkat oleh Crunchbase sebagai perusahaan awal paling aktif mendapatkan kesepakatan.

BACA JUGA: Startup Malaysia Tawarkan Browser Islami

Sebelumnya, Gitta mendirikan Think Nusantara, sebuah publikasi online untuk anak muda Indonesia untuk memperdebatkan perkembangan holistik negara ini.

Ellen Nio

Ellen Nio adalah partner Patamar Capital dengan impact fund hampir USD 40 juta. Di antara tugasnya antara lain, mempelopori inisiatif perusahaan untuk berinvestasi dalam startup yang dipimpin perempuan di Indonesia dan Filipina dengan USD 2 juta, serta program pengembangan kapasitas selama empat bulan.

Nio juga memimpin SheVC Indonesia, sebuah platform untuk percakapan terbuka dan kesempatan mentoring bagi calon kapitalis ventura perempuan.

BACA JUGA: Surabaya Tuan Rumah Pekan Startup Nasional dan Internasional

Sebelum Patamar, Nio adalah kepala staf untuk inisiatif Jakarta Smart City, di mana perempuan 29 tahun ini melapor langsung ke Gubernur Jakarta.

Denica Flesch

Perempun 28 tahun ini seorang ekonom terlatih dan pendiri SukkhaCitta, sebuah perusahaan sosial yang bertujuan untuk mempertahankan 5 kerajinan warisan di Indonesia mulai dari Ikat, Sidan, Batik, Sulaman dan pewarna alami.

Bisnisnya membantu pengrajin pedesaan di Jawa Tengah, dan Jawa Timur, Flores, dan Kalimantan untuk mendapatkan upah yang layak.

BACA JUGA: Akuisisi Careem, Uber Ekspansi ke Timur Tengah

Sebelum bergabung dengan SukkhaCitta, ia adalah seorang konsultan dalam program pembangunan sosial di Bank Dunia.

Benz Budiman

Pendiri dan CEO Pomona, startup adtech yang fokus pada industri FMCG Indonesia. Pomona dimulai sebagai aplikasi seluler yang menawarkan promosi cashbackkepada pengguna untuk pembelian bahan makanan offline mereka, sebelum akhirnya menawarkan data konsumen pada akhir 2017.

Sejak didirikan pada tahun 2016, startup telah mencapai 200.000 pengguna dan telah didukung oleh investor seperti Stellar Kapital, Central Capital Ventura (Grup BCA), Capital Data Batas, Prasetia, dan Fenox VC.

BACA JUGA: Gojek Minta Regulator Awasi Penerapan Tarif Ojek Daring

Menurut perusahaan, penilaiannya telah mencapai delapan digit pada putaran penggalangan dana terbaru mereka.

Aruna Harsa

Dia adalah pendiri dan CTO Dekoruma, sebuah platform yang menawarkan desain rumah, suplier dan vendors kebutuhan rumah.

Selain itu, layanan ini juga membuat dan mendistribusikan produk mereka secara massal, dengan harga yang transparan kepada konsumen akhir.

BACA JUGA: Pendiri Gojek Masuk 50 Sosok Menginspirasi 2018

Pada Oktober 2018 lalu, Dekoruma mengumumkan telah berhasil mengumpulkan dana jutaan dolar Seri B dari Global Digital Niaga dan AddVentures, sebuah perusahaan ventura dibawah Siam Cement Group.

Aries Susanti

Aries Susanti adalah satu-satunya atlet Indonesia yang masuk dalam daftar ini. Dikenal sebagai atlet panjat tebing, Aries mencatat prestasi dengan memenangkan medali emas di Asian Games 2018.

Perempuan yang dijuluki Spiderwoman itu, mencatatkan diri sebagai juara dunia dua kali berturut-turut selama IFSC Climbing World Cup pada 2017, dan 2018.

Tiffany Robyn Soetikno

Pada 2015, Tiffany Robyn Soetikno mendirikan Global Urban Essential (GUE), sebuah aplikasi kesehatan digital yang bertujuan untuk menciptakan ekosistem yang lebih baik, bagi pengelolaan pasien.

BACA JUGA: Grab Layani Dua Juta Lebih di Enam Bandara Internasional

Platform ini terdiri dari publikasi daring soal kesehatan, aplikasi parenting mobile, aplikasi manajemen bagi penderita diabetes dan marketplace peralatan kesehatan.Secara keseluruhan GUE membantu 400 ribu pengguna.

Archie Carlson dan Sugito Alim

Keduanya bersama Garry Limanata dan Hartanto Alim mendirikan StickEarn, sebuah startup adtech  yang didirikan tahun 2017. Stick Earn membantu pengiklan mengiklankan produknya lewat pemilik mobil, yang mendapat keuntungan atas iklan itu. 

Menurut perusahaan, StickEarn memiliki 200 klien dari 17 jenis industri di Indonesia dan membayar USD 2 juta sebagai pemasukan tambahan kepada 60 ribu pemilik mobil. 

Sabrina dan Elena Bensawan

Kakak-adik ini mendirikan Saab Shares, yang menyediakan akomodasi, pendidikan dan akses ke fasilitas layanan kesehatan bagi anak tidak mampu, dan keluarga miskin.

BACA JUGA: Ojek Grab Jombang Lecehkan Penumpang, Aktivis Desak Perbaikan Sistem

Saab Shares merupakan kelanjutan dari inisiatif Sabrina sejak usia 16 tahun, yang peduli pada anak yatim piatu, dan tidak memiliki rumah.

Steven Wongsoredjo

Setelah lulus dari Columbia University dan kembali ke Indonesia, Steven Wongsoredjo mendirikan Nusantara Technology, sebuah startup yang fokus pada media digital dan marketing.

Perusahaannya mencakup Keepo.me, YuKepo.com dan PlayingViral, telah memiliki 35 juta monthly visits serta satu juta pengikut. 

BACA JUGA: Baru Seminggu Dibentuk, Google Bubarkan Komite Etik AI

Nusantara menjadi startup media pertama yang menerima program Y Combinator di Sillicon Valley.

Adapun kliennya, termasuk perusahaan-perusahaan Fortune 500 seperti P&G dan Singapore Airlines, serta ribuan bisnis kecil dan menengah di seluruh Asia Tenggara.

Hendra Kwik, Jefriyanto and Ricky Winata 

Di tahun 2016, ketiganya mendirikan Payfazz, sebuah platform fintech yang bertujuan untuk membantu penduduk mendapat akses keuangan, meski tidak punya rekening bank. Lembaga keuangan ini telah melayani sekitar 10 juta orang, sejak pendiriannya.

BACA JUGA: RIP, Google+ Resmi Dimatikan

Perusahaan tersebut, yang telah mengumpulkan dana total USD 21,3 juta dalam pendanaan dan menjadi perusahaan Indonesia pertama yang berhasil masuk ke Y Combinator. 

James Prananto

Bersama dengan Edward Tirtanata, James Prananto mendirikan Kopi Kenangan yang  menjual kopi berkualitas tinggi, dengan harga terjangkau.

Pada akhir 2019, Kopi Kenangan berencana menjalankan 130 toko dan menjual 3 jtua cangkir kopi tiap bulannya. Perusahaan baru-baru ini berhasil mengumpulkan dana USD 8 juta dari Alpha JWC Ventures. 

Haryanto Tanjo

Grady Laksmono dan Haryanto Tanjo mendirikan Moka, sebuah startup yang membantu UKM dan pengecer mengelola pembayaran dan pengoperasian bisnis mereka.

BACA JUGA: Tagar Ini Trending di Twitter Pasca Rencana Blokir Gim PUBG

Pada September 2018, Moka berhasil mengumpulkan dana USD 24 juta Seri B dari Sequoia India dan Southeast Asia, yang terdiri dari SoftBank Ventures Korea and EDBI, serta  Dewan Pengembangan Ekonomi Singapura. Total Moka mengumpulkan USD 28 juta.  

Baca Juga

loading...