Analisis

Kenapa Suara Khofifah di Madura Tak Mengalir ke Jokowi?

Anang Zakaria
Anang Zakaria

Selasa, 14 Mei 2019 - 08:45

JATIMNET.COM, Surabaya – Ibarat medan perang, Madura adalah wilayah tersulit untuk ditaklukkan legiun Joko Widodo. Meski berhasil menguasai mayoritas daerah di Jawa Timur, dalam dua ajang pemilihan presiden-2014 dan 2019-, perolehan suaranya di Pulau Garam selalu jeblok.

Pada Pilpres 2019 ini, beratnya persaingan suara di Madura telah disadari kubu Jokowi sejak awal. Sejumlah jurus diterapkan untuk mendongkrak perolehan suara. Silaturahmi antara Cawapres KH Ma’ruf Amin dan kiai sepuh Madura di Hotel JW Marriott Surabaya pada Kamis 24 Januari 2019, misalnya.

Di depan para alim, Ma’ruf menyampaikan kegelisahan. “Dulu (Pilpres 2014) Pak Jokowi di Madura kalah,” katanya.

BACA JUGA: Kampanye Lebih Banyak, Suara Prabowo-Sandiaga Kalah di Jawa Timur

Tak ingin kekalahan serupa terulang di Pilpres 2019, ia meminta para kiai mendukungnya. “Kita tidak ingin kalah lagi.”

Pun sulit untuk tak mengaitkan kebijakan pemerintah tentang pembebasan tarif Jembatan Suramadu, pada Sabtu 27 Oktober 2018, dengan strategi politik. Meski Jokowi menegaskan penggratisan itu untuk menunjang perekonomian Madura, lawan politiknya tetap mencurigai keputusan itu tak lepas dari kepentingan pilpres. Toh, kubu pendukung Jokowi meyakini kebijakan itu menguntungkan.

Jurus terhandal dari strategi meraup suara di Madura, bisa dibilang, adalah dengan menempatkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai Ketua Dewan Pengarah Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN). Ini bukan bagian struktural Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf, tapi dianggap efektif menjadi mesin politik untuk mengonsolidasikan suara santri.

SURAMADU. Presiden Jokowi mengumumkan pembebasan tarif tol Jembatan Suramadu di atas truk, Sabtu 27 Oktober 2018. Foto: Dok.

Jawa Timur adalah ladang tak ijo royo-royo. Mayoritas masyarakatnya kaum santri. Hasil survei Populi Center pada 22-28 April 2018, beberapa bulan menjelang Pilkada Jatim 2018, menyebutkan 75,5 persen masyarakat Jawa Timur berafiliasi pada Nahdlatul Ulama. Sebagian sisanya, sebesar 6,3 persen Muhammadiyah.

Yang patut diperhatikan, Khofifah baru saja memenangi pemilihan Gubernur Jawa Timur. Berpasangan dengan Emil Dardak, ia mengantongi 10.465.218 suara (53,55 persen), unggul dibanding pasangan Saifullah Yusuf-Puti Soekarno yang meraup 9.076.014 suara (46,45 persen).

Kedua kandidat gubernur berlatar belakang santri. Khofifah adalah Ketua Muslimat NU, sedangkan Gus Ipul-sapaan Saifullah Yusuf-, adalah Ketua GP Ansor dua periode (2000-2005 dan 2005-2010).

BACA JUGA: TKD Jatim Puas Rebut Kemenangan di Basis Prabowo 

Di Madura, Khofifah menguasai suara tiga kabupaten; Sampang (339.222/52 persen), Pamekasan (343.494/72 persen), dan Sumenep (248.074/51 persen). Sedangkan Gus Ipul memenangi suara di Bangkalan (271.088/51 persen).

Khofifah yakin perolehan suaranya pada Pilkada mampu menjadi bekal memenangkan Jokowi di Madura. “Karena elektabilitas Pak Jokowi di atas saya dan Mas Emil,” katanya saat deklarasi JKSN di Sumenep, Selasa 15 Januari 2019.

Data: Tim Riset Jatimnet.com.

Sabtu 11 Mei 2019 pekan kemarin, Komisi Pemilihan Umum Jawa Timur tuntas merekapitulasi perhitungan suara Pilpres 2019. Hasilnya, ponten suara Jokowi tetap merah di Madura.

Kenapa suara Khofifah pada Pilkada tak serta-merta mengalir ke Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres?

 “Di Madura, faktor kiai, pejabat, dan klebun masih sangat besar,” kata Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura Mochtar W.Oetomo, Minggu 12 Mei 2019.

BACA JUGA: [Infografis] Dua Skor Jokowi dan Prabowo

Ketiga faktor itulah yang mendasari patron klien masyarakat Madura. Kasus perolehan suara di Bangkalan menjadi contoh nyata, bagaimana seorang yang merepresentasikan ketiga faktor itu memengaruhi suara pemilih.

Adalah mantan Bupati Bangkalan Fuad Amin. Meski terkurung di balik jeruji karena kasus korupsi, perubahan sikap politiknya mendukung Jokowi telah mengubah narasi politik di sana.

Data: Tim Riset Jatimnet.com.

Pada Pilpres 2014, ia mendukung Prabowo. Saat itu, Bangkalan menjadi tempat kekalahan Jokowi paling telak. Mengantongi 142.258 suara (19 persen), Prabowo unggul dengan 644,608 suara (81 persen).

Kini, pada Pilpres 2019, perolehan suara Jokowi di Bangkalan mencapai 440.129 (57,74 persen). Untuk lebih lengkap, baca jugaIni Hasil Lengkap Rekapitulasi Suara Capres-Cawapres di Jawa Timur

Kemenangan itu menjadikan Bangkalan sebagai satu-satunya daerah di Madura yang dimenangi Jokowi. Bangkalan pula, satu-satunya daerah di Madura, yang tak dimenangi Khofifah saat Pilkada.

Baca Juga

loading...