Logo

Usai Reses, Cahyo Harjo Soroti Kasus Stunting di Surabaya

Kesehatan ibu hamil juga menjadi perhatiannya
Reporter:,Editor:

Rabu, 18 February 2026 05:30 UTC

Usai Reses, Cahyo Harjo Soroti Kasus Stunting di Surabaya

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso saat diwawancarai di DPRD Jatim, Rabu, 18 Februari 2026. Foto: Januar.

JATIMNET.COM, Surabaya – Kasus stunting yang masih ditemukan di wilayah Kota Surabaya mendapat sorotan dari anggota Komisi E DPRD Jawa Timur (Jatim) Cahyo Harjo Prakoso.

Temuan kasus ini terungkap saat Cahyo melaksanakan reses di RW 7 Pacarkeling, Kota Surabaya belum lama ini. Berdasarkan laporan kader kesehatan di sana, terdapat tiga anak yang mengalami stunting dan delapan anak dalam kategori prastuting.

“Data yang disampaikan kader menunjukkan ada tiga anak stunting dan delapan anak prastunting di satu RW. Ini tentu menjadi keprihatinan kita bersama,” katanya saat diwawancarai di DPRD Jatim, Rabu, 18 Februari 2026.

Menurut legislator muda dari Partai Gerindra ini, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena terjadi di ibu kota provinsi yang dekat dengan pusat pemerintahan.

Tidak hanya itu, Cahyo juga menekankan pentingnya perhatian terhadap ibu hamil yang termasuk kelompok berisiko.

Ia meminta pemerintah daerah memperkuat peran tim survei atau skrining kesehatan bagi ibu hamil dan anak-anak. Tujuannya, memastikan kesehatan dan tumbuh kembang mereka terpantau secara optimal.

BACA: Pemkot Mojokerto Perkuat Komitmen Penanganan Stunting lewat Penyaluran PMT

Cahyo menegaskan, pemerintah wajib hadir dalam melindungi kesehatan kelompok rentan secara konkret dan berkelanjutan.

"Pemerintah daerah, khususnya Dinas Kesehatan Kota Surabaya diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dengan berbagai komponen masyarakat, mulai dari aparatur kecamatan dan kelurahan, RT/RW, kader kesehatan, hingga organisasi kepemudaan dan tokoh masyarakat," jelasnya.

Dalam reses kali ini, Cahyo melakukan pertemuaan dengan kader kesehatan. Kehadirannya juga dalam rangka meningkatkan fasilitas pelayanan kesehatan.  Mulai dari alat timbang balita, alat cek darah, serta berbagai komponen pendukung layanan kesehatan lainnya.

Menurutnya, kebutuhan tersebut mendesak karena jumlah penduduk di wilayah tersebut cukup tinggi. Maka, pelayanan kesehatan masyarakat memerlukan penguatan sarana dan prasarana.

“Teman-teman kader kesehatan menyampaikan perlunya akselerasi atau tambahan peralatan pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kualitas layanan, karena jumlah penduduk di wilayah itu cukup besar,” ungkapnya.

Menurutnya, kerja sama lintas sektor penting dijalankan agar skrining kesehatan dapat dilakukan lebih masif.

BACA: Angka Stunting di Sampang Melonjak, Dinkes Ungkap Penyebabnya

Tidak hanya terkait dengan kesehatan fisik. Namun, juga menyangkut kondisi sosial ekonomi masyarakat, jaminan sosial, hingga berbagai persoalan sosial yang berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak.

“Kalau seluruh komponen masyarakat bergotong royong melakukan pemantauan dan skrining secara proaktif, berbagai persoalan kesehatan maupun sosial bisa lebih cepat terdeteksi dan ditangani,” ujarnya.

Cahyo menambahkan, Pemerintah Kota Surabaya sebenarnya telah memiliki sejumlah program akseleratif untuk menurunkan prevalensi stunting. Tapi keberhasilan program tersebut, menurutnya, sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan di lapangan serta sinergi antara pemerintah dan masyarakat.

Ia berharap dengan kerja sama yang lebih kuat, konsistensi program, serta peningkatan fasilitas dan pemantauan kesehatan masyarakat. "Sehingga kasus stunting di Surabaya dapat ditekan hingga tidak lagi ditemukan di masa mendatang," pungkas Cahyo.