Temuan itu berasal dari penelitian Lembaga Guruku Hebat.

Sebagian Guru SMA Surabaya Sarankan Siswa Belajar dari Wikipedia

Khoirotul Lathifiyah

Kamis, 2 Mei 2019 - 16:27

JATIMNET.COM, Surabaya - 78 Persen pelajar di Kota Surabaya memanfaatkan gawai untuk memperoleh hiburan ketimbang untuk menambah referensi pelajaran.

Hal tersebut disebabkan, bahan ajar secara digital yang mudah diakses pelajar, sangat sedikit.

"Penelitian ini saya lakukan pada 397 siswa dan guru SMA di Surabaya, dengan tingkat error sebanyak lima persen," kata Anggota Lembaga Guruku Hebat Istidha Nur Amanah saat diwawancarai usai jumpa pers, di Warung Upnormal, Jalan Dharmahusada Surabaya, Kamis 2 Mei 2019.

Perempuan lulusan Antropologi ini mengungkapkan, dari jumlah sampel yang diteliti, hanya 10 persen yang menggunakan gawainya untuk mencari referensi belajar.

BACA JUGA: Dindik Jatim Tegaskan Zonasi Belum Bisa Diterapkan Sepenuhnya

Itu pun dilakukan menggunakan situs yang kurang terpercaya, atau tingkat akurasi data rendah.

"Jadi yang sering digunakan pelajar adalah situs seperti Wikipedia, Blog, Youtube, dan juga Google search, yang belum tentu kebenaran materinya. Karena beberapa situs tersebut, bisa diedit dan diubah oleh siapapun," katanya.

Isti menyampaikan,situs populer yang digunakan pelajar untuk mencari materi tersebut, justru merupakan arahan dan saran dari guru.

Hal tersebut membuktikan, bahwa beberapa guru juga belum mengetahui sumber yang tepat, untuk media belajar siswa.

BACA JUGA: Ratusan Siswa Pegunungan di Tulungagung Peringati Hari Buku

Sementara dari jumlah sampel, pelajar yang menggunakan internet dalam waktu lebih dari 5-9 jam, sebanyak 37 persen.

Menurutnya, kurangnya media pembelajaran itu menjadikan siswa lebih banyak mengakses media sosial. Media yang banyak digunakan untuk memperoleh hiburan, dan chatting.

"Berdasarkan penelitian saya, media terpopuler dikalangan pelajar meliputi Instagram, Facebook, Youtube, Twitter  Whatsapp, dan Line," kata Isti.

Dari sudut pandang antropologi, internet dan teknogi harus digunakan dalam proses kegiatan belajar mengajar.

BACA JUGA: Dorong Minat Literasi Matematika di Era Industri 4.0

Hal tersebut untuk mendukung kreativitas siswa dalam memperoleh pelajaran.

"Jadi siswa dituntut agar bisa mencari, menganalisis, mengevaluasi pembelajaran dari sumber digital," kata dia.

Ia menilai, dengan menyertakan kegiatan belajar melalui internet, akan mengembangkan sumber daya manusia, yang mampu berpikir kritis, dan mudah beradaptasi, dengan lingkungan baru.

Sementara, Dewan Pendidikan Kota Surabaya Murpin Josua Sembiring mengungkapkan, kebutuhan akan gerakan untuk membuat bahan ajar secara digital.

BACA JUGA: Menag Luncurkan Buku Serial Literasi Agama untuk Kalangan Millenial

"Jadi kumpulkan saja guru-guru terbaik sesuai mata pelajaran, dan dibuat bahan ajar yang bisa diakses oleh siswa," katanya.

Dengan adanya materi yang bisa dipertanggungjawabkan tersebut, pelajar akan mudah mengakses secara mandiri, sekaligus menciptakan kegiatan belajar mengajar yang lebih efisien.

Yakni siswa akan melakukan diskusi interaktif dengan guru, terkait materi yang kurang dipahami, dari media internet tersebut.

"Jadi yang harus dikembangkan disini adalah kualitas dan kreativitas guru untuk mengajar siswa," kata Murpin.

Baca Juga

loading...