Selasa, 11 August 2026 10:48 UTC

Warga menunjukkan saluran irigasi yang rusak akibat proyek pembangunan Sekolah Rakyat yang digarap oleh PT Waskita Karya Selasa, 11 Agustus 2026. Foto: Zidni Ilman
JATIMNET.COM, Tuban – Warga RT 04 RW 06, Kelurahan Mondokan, Kecamatan/Kabupaten Tuban, meminta PT Waskita Karya segera merealisasikan sejumlah kesepakatan terkait dampak pembangunan Sekolah Rakyat (SR) Tuban.
Warga menilai pelaksana proyek belum sepenuhnya menindaklanjuti hasil komunikasi dan joint survey yang sebelumnya melibatkan warga, DPRD, serta PT Waskita Karya. Sejumlah persoalan lingkungan permukiman hingga kini masih menjadi perhatian warga.
Achmad Budiyono, warga RT 04 RW 06 Kelurahan Mondokan, mengatakan warga bersama DPRD dan PT Waskita Karya sebelumnya telah membahas berbagai dampak pekerjaan proyek. Para pihak bahkan turun langsung melakukan joint survey untuk melihat kondisi di sekitar lokasi pembangunan.
Namun, Achmad menyebut sejumlah hasil pembahasan tersebut belum seluruhnya terealisasi. Warga masih menemukan persoalan mulai dari kerusakan saluran air, pembongkaran gapura lingkungan, hingga debu yang berasal dari aktivitas proyek.
BACA: Dampak Proyek SR Tuban: Dari Kerusakan Rumah Hingga Hilangnya Nyawa
Salah satu persoalan yang paling dikhawatirkan warga ialah kerusakan saluran air di antara pagar Sekolah Rakyat sisi barat dan rumah warga RT 04 RW 06.
"Saluran tersebut mengalami kerusakan. Warga khawatir kondisi itu mengganggu fungsi drainase ketika musim hujan tiba dan berpotensi menimbulkan genangan di lingkungan permukiman," ujarnya kepada Jatimnet.com saat ditemui pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Perbaikan Saluran Belum Direalisasikan
Achmad menjelaskan, PT Waskita Karya sebelumnya menyatakan belum dapat memenuhi permintaan warga untuk memasang U-Ditch sepanjang saluran. Warga sempat mengusulkan U-Ditch berukuran 80×80 sentimeter maupun 60×80 sentimeter.
Sebagai jalan tengah, pelaksana proyek dan warga menyepakati pengembalian kondisi saluran seperti semula. Perbaikan akan menggunakan pasangan batu kali dengan ukuran yang menyesuaikan saluran eksisting yang memiliki lebar sekitar 80 sentimeter.
Kesepakatan tersebut juga mencakup perapian sisi kiri dan kanan saluran menggunakan rabat beton dan/atau plesteran. Namun, Achmad mengatakan pekerjaan perbaikan tersebut belum terlaksana hingga kini.
BACA: Hingga Empat Minggu, Upah Buruh Proyek Sekolah Rakyat Tuban Diduga Belum Dibayar
Selain saluran air, warga mempersoalkan pembongkaran gapura di sekitar akses masuk permukiman. Menurut mereka, pembongkaran berlangsung tanpa koordinasi terlebih dahulu dengan pengurus RT dan RW setempat.
Warga menilai gapura tersebut bukan sekadar bangunan lingkungan. Gapura itu memiliki nilai historis karena dibangun melalui swadaya masyarakat, termasuk menggunakan dana hadiah dari lomba Kampung Idaman Bersih (KIB) tingkat Provinsi Jawa Timur.
Karena itu, warga meminta proses pembangunan kembali gapura melibatkan pengurus lingkungan dan pemerintah kelurahan. Mereka berharap koordinasi dilakukan sejak awal agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Warga Keluhkan Debu Proyek Sekolah Rakyat
Aktivitas pembangunan Sekolah Rakyat juga menimbulkan persoalan debu. Warga mengeluhkan debu dari lokasi proyek yang terbawa hingga ke permukiman sehingga membuat rumah dan lingkungan sekitar menjadi kotor.
Keluhan juga datang dari warga yang memiliki sensitivitas terhadap debu. Mereka mengaku mengalami gangguan kesehatan, salah satunya kulit memerah.
Warga khawatir paparan debu secara terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan masyarakat. Kekhawatiran terutama ditujukan kepada anak-anak serta warga yang rentan mengalami gangguan pernapasan.
Warga juga mempertanyakan pengendalian debu melalui penyiraman jalan atau area proyek. Mereka menilai penyiraman belum berlangsung secara rutin.
"Penyiraman sempat dilakukan ketika terdapat kunjungan Gubernur Jawa Timur ke lokasi proyek. Namun, setelah kegiatan tersebut, penyiraman dinilai tidak dilakukan secara rutin," tuturnya.
BACA: Pembangunan Sekolah Rakyat Tuban Sempat Molor, Begini Respon Khofifah
Warga menegaskan keluhan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan Sekolah Rakyat. Mereka mendukung pembangunan, tetapi meminta pelaksana proyek tetap memperhatikan keselamatan, kenyamanan, kesehatan masyarakat, dan kondisi lingkungan permukiman.
“Warga berharap hasil komunikasi dan joint survey sebelumnya tidak berhenti pada kesepakatan saja, tetapi segera direalisasikan di lapangan,” pungkasnya.
PT Waskita Karya Janji Perbaiki Saluran dan Gapura
Koordinator Wilayah Pembangunan Sekolah Rakyat Tuban dari PT Waskita Karya, Agus Saputra, merespons keluhan warga tersebut. Ia memastikan pihaknya akan memperbaiki sejumlah fasilitas yang terdampak pekerjaan proyek.
Agus mengatakan PT Waskita Karya akan mengembalikan fungsi saluran air eksisting. Ia mengakui pihaknya sebelumnya telah melakukan perbaikan, tetapi hasilnya belum memenuhi harapan warga.
“Fungsi saluran eksisting akan kami lakukan perbaikan karena sebelumnya sudah pernah kami perbaiki, tapi belum sesuai dengan keinginan warga. Kesepakatannya dikembalikan ke bentuk semula yang mana akan kita kerjakan dalam waktu dekat,” kata Agus.
Mengenai gapura lingkungan, Agus mengatakan PT Waskita Karya juga akan melakukan perbaikan. Pihaknya masih menunggu desain dan konsep terbaru yang diajukan pemerintah kelurahan.
“Untuk bangunan gapura akan segera kami perbaiki, menunggu desain dan konsep yang terbaru dari ajuan kelurahan setempat atau akan kami ajukan desain dari kami dengan persetujuan kelurahan setempat,” pungkasnya.
