Ahmad Suudi

Reporter

Ahmad Suudi

Kamis, 14 Februari 2019 - 13:34

JATIMNET.COM, Jember – Keputusan masyarakat Desa Pace Kecamatan Silo, Kabupaten Jember yang menolak tambang di wilayahnya memiliki pertimbangan. Mayoritas ingin mengedepankan tatanan ekonomi pada perkebunan dan perilaku sosial kota santri.

Masyoritas masyarakat Silo khawatir perubahan itu membawa dampak ekonomi dan sosial. Sebab mayoritas warganya keras dan kompak. Sikap itu yang mampu menekan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencabut izin wilayah tambang Blok Silo.

Setiap investasi membawa dampak baik plus maupun minus. Namun warga Silo memilih menolak masuknya investor tambang.

BACA JUGA: Izin Tambang Emas Blok Silo Jember Dicabut

Seperti disampaikan Dosen Ekologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember Dra Hari Sulistiyowati Msc PhD.

Dia mengatakan pertimbangan awal pertambangan akan menguntungkan atau jsutru merugikan bisa dilihat dari kondisi tanah tutupan yang ada di atasnya.

“Lihat dulu kondisi tanah tutupannya. Itu produktif atau tidak. Kalaupun produktif, mampu memberi pendapatan untuk masyarakatnya atau tidak,” kata dosen wanita yang kerap disapa Hari itu, Rabu 13 Februari 2019.

Dia mengatakan ketika tutupan tambang berupa tanah produktif, penambangan sebaiknya tidak dilakukan. Penambangan bisa dilakukan, tapi membutuhkan penelitian dan perhitungan yang panjang. Selain itu, harus dimasukkan kajian laporan Analisa Dampak Lingkungan (Amdal) agar menguntungkan semua pihak.

Bila lahan tidak produktif belum tentu juga langsung boleh ditambang. Sebab harus mempertimbangkan kemungkinan dilakukan peremajaan tanah untuk meningkatkan kesuburan dan produktivitas lahan.

Hari mengatakan tutupan tanah dengan produktivitas tinggi seperti Silo sebaiknya tetap menjadi lahan pertanian dan hutan produksi. Tanah yang produktif dan aman dari erosi di Silo akan mubazir bila diubah menjadi tambang yang otomatis menyebabkan kerugian dalam perhitungan valuasi sumber daya alam.

BACA JUGA: Warga Tolak Kedatangan Investor Asing Ke Jember

“Kajian ilmiah saya, perkebunan di Kecamatan Silo peruntukannya lebih baik tetap untuk perkebunan. Sustainability-nya jelas, produktivitas perkebunan tinggi, berfungsi untuk kesejahteraan masyarakat dan ekosistem terjaga,”kata Hari.

Berdasarkan hasil produksi salah satu warga Desa Pace, Kecamatan Silo yang mampu mendapatkan dua ton kopi robusta petik merah per tahun dari lahan 1 hektare. Hasil itu sebetulnya di atas rata-rata produktivitas kebun kopi nasional yang pada tahun 2016 berada di 0,7 ton per hektare.

Terpisah Dekan Fakultas Teknik Universitas Jember Dr Entin Hidayah M.UM mengatakan tambang bisa memberikan keuntungan atau tidak perlu perhitungan kajian bisnis (feasibility study) dengan waktu antara lima hingga sepuluh tahun.

Perhitungan itu mempertimbangkan kerugian dan keuntungan dari berbagai sisi, termasuk teknologi yang mampu mengatasi dampak buruk proses pertambangan.

“Harus ada pengambilan sampel kandungan mineral untuk menghitung kelayakan ekonomi dan finansial tambang secara sungguh-sungguh,” kata Entin di kantornya, Selasa 12 Februari 2019.

Kemudian jumlah angka-angka itu dibandingkan dengan nilai kerugian yang akan muncul sehingga diketahui pada akhirnya penambang, masyarakat, pemerintah, ekosistem, dari semua sisi mendapatkan keuntungan atau kerugian.

BACA JUGA: Warga Silo Lebih Sayang Kebun Daripada Tambang 

Dia menyoroti fungsi perbukitan Silo yang menjadi area tangkapan air hujan. Tujuannya agar air tidak langsung mengalir ke laut. Tetapi tersimpan di dalam tanah. Penggalian tanah bukit untuk tambang akan mengurangi area tangkap air hujan.

Bila jumlah area tangkapan air berkurang, air yang tidak terserap akan mengalir semakin deras dan besar ke bawah. Hal ini bisa menyebabkan banjir dan erosi di wilayah yang lebih rendah.

“Air itu sebanyak-banyaknya harus masuk ke tanah melalui penyerapan, jangan sampai langsung ke laut. Banyaknya masyarakat yang menolak juga menandakan kondisi sosial Silo belum layak untuk pertambangan,” pungkas Entin.

Baca Juga

loading...