JATIMNET.COM, Surabaya – Pelatihan Peer Buddy mampu meningkatkan kepekaan dan rasa sosial siswa regular terhadap siswa disabilitas di dalam kelas. Hal ini menyebabkan siswa disabilitas tidak mengalami diskriminasi akibat perbedaan yang dimiliki.

Temuan itu berasal dari penelitian mahasiswa Program Studi Magister Psikologi Profesi Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Zainal Abidin (29). Mahasiswa asal Situbondo ini melakukan penelitian dalam tesis yang dibuat selama tiga bulan dengan treatmen satu hari.

"Nah program yang saya buat ini berlangsung di sekolah SMP 5 Surabaya dengan sampel kelas yang ada siswa reguler dan siswa PDBK (Pendidikan Didik Berkebutuhan Khusus)," katanya Jumat 8 Maret 2019.

Zainal menjelaskan agar konsep yang dicanangkan mendapatkan hasil yang relevan, Ia membagi siswa reguler menjadi dua kelompok yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

BACA JUGA: Agar Penyandang Disabilitas Tak Lagi Terdiskriminasi

Kelompok eksperimen diberikan pelatihan Peer Buddy untuk meningkatkan perilaku prososial siswa reguler pada siswa PDBK. Sedangkan kelompok kedua tidak diberikan pelatihan.

"Jadi total siswa yang saya saring untuk menjadi eksperimen sebanyak 64 siswa, dan yang relevan ada 16 siswa. Pemilihan ini berdasarkan paling banyak interaksi dengan siswa PDBK," kata Zainal.

Dari hasil treatment membuktikan bahwa siswa yang mendapatkan pelatihan, tingkat kepekaan dan rasa sosial terhadap siswa PDBK lebih tinggi ketimbang siswa lainnya. Hal tersebut sangat diharapkan agar siswa PDBK tidak didiskriminasi karena perbedaan yang dimilikinya.

Penelitian ini bermula dari hasil sharing terbuka yang dilakukan Zainal. Hasilnya ada banyak siswa yang merasa terganggu karena perbedaan sikap dari siswa disabilitas.

BACA JUGA: Pemkot Surabaya Tambah Fasilitas Publik untuk Penyandang Disabilitas

Dibutuhkan pelatihan maupun pemahaman terkait etika berinteraksi dengan anak PDBK.

"Nah hal tersebut dapat menimbulkan diskriminasi antara siswa reguler dengan anak disabiltas," kata Zainal.

Pentingnya pembinaan kepada siswa reguler ini juga dipengaruhi oleh faktor kedekatan antar siswa. Sebab siswa disabilitas akan lebih banyak berinteraksi langsung dengan siswa reguler dalam aktivitas belajarnya.

Sehingga menurutnya pemerintah harus membuat program khusus untuk memberikan pemahaman kepada siswa reguler. Apalagi saat ini terdapat pemerintah atau Dinas Pendidikan mencanangkan sekolah inklusi di semua sekolah.

BACA JUGA: Kemenag Terbitkan Fikih Ibadah Braille untuk Disabilitas Netra

Zainal berharap dengan adanya penelitian ini dapat menjadi acuan pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan Surabaya untuk memberikan program pelatihan kepada siswa reguler untuk berinteraksi dengan siswa PDBK.

Sebab selama ini banyak sekolah menolak menyisihkan waktu untuk melangsungkan pelatihan etika berperilaku kepada PDBK dengan alasan akan mengganggu kegiatan belajar mengajar di kelas.

"Sangat disayangkan jika peran siswa dikesampingkan, karena yang seharusnya memahami adalah siswa reguler, bukan malah PDBK yang harus menyesuaikan siswa reguler. Karena dalam jumlah pun (lebih) banyak siswa reguler," katanya.