Kamis, 29 January 2026 06:00 UTC

Ribuan pengunjung memadati pembukaan BBW 2026 di Tunjungan Plaza 3 Lantai 6 Kota Surabaya, Kamis 29 Januari 2026. Foto: Januar.
JATIMNET.COM, Surabaya – Pameran buku internasional Big Bad Wolf Books (BBW) 2026 mulai berlangsung hari ini, Kamis, 29 Januari 2026. Saat pembukaan, ribuan pengunjung langsung memadati Convention Center Tunjungan Plaza 3 Lantai 6 Kota Surabaya yang menjadi lokasi event ini.
Para pengunjung tersebut rela antre untuk berburu buku yang menjadi incarannya. Kondisi ini dinilai sebagai indikator tingginya minat baca dan semangat literasi warga Jawa Timur (Jatim).
Karena alasan itu, BBW kembali memilih Surabaya sebagai lokasi pelaksanaan event monumental tersebut. “Artinya, minat baca dan literasi di Jawa Timur menjadi perhatian dan pilihan dari BBW,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai di Surabaya.
Pilihan BBW dinyatakan tidak meleset. Buktinya, antren pengunjung telah berlangsung sejak BBW dibuka pagi tadi.
“Saya tadi melihat sendiri antreannya panjang sekali. Dan saya yakin bukan hanya warga Surabaya atau Jawa Timur, bisa jadi ada masyarakat dari luar daerah yang datang khusus untuk melihat, membaca, dan membeli buku di sini,” katanya.
BACA: Kembali Hadir di Surabaya, Pameran BBW Targetkan Penjualan 5 Juta Buku
Aries mengakui, peningkatan minat baca masyarakat Jatim menunjukkan tren positif. Maka berlangsungnya event BBW hingga 8 Februari mendatang bakal menjadi pendorong peningkatan lebih lanjut. Apalagi, harga buku yang ditawarkan jauh lebih terjangkau.
“Kenaikannya (minat baca) memang belum signifikan, tapi naik. Kita berharap kegiatan seperti ini terus ada, karena harga buku sekarang cukup mahal. Dengan bazar ini, harganya jauh lebih kompetitif, bahkan tadi saya dengar ada buku Rp10 ribu sampai Rp19 ribu,” jelasnya.
Ia menambahkan, buku murah dapat menjadi alternatif positif di tengah dominasi penggunaan gawai dan media sosial.
“Daripada scroll media sosial terus, membaca buku seperti ini justru memperkuat daya ingat dan daya kritis kita dalam memahami literasi,” imbuhnya.
Aries berharap BBW tidak hanya digelar di Surabaya, tetapi juga merambah ke daerah lain di Jawa Timur yang lebih representatif.
“Saya sudah sampaikan, kalau bisa tidak hanya di Surabaya. Mungkin di Malang atau kabupaten/kota lain. Karena peminatnya pasti bukan hanya di Surabaya saja,” ujarnya.
BACA: AKD Kecamatan Gresik dan KWG Beri Literasi Media pada Kades dan Perangkat
Ia menegaskan, selama hampir satu dekade penyelenggaraan BBW di Indonesia, peminatnya tidak pernah surut. “Setahu saya ini sudah yang ke-10, dan peminatnya tidak pernah berkurang. Luar biasa,” katanya.
Ke depan, Dinas Pendidikan Jawa Timur juga membuka peluang kolaborasi dengan BBW untuk memperkuat literasi di daerah-daerah yang masih rendah.
“Kita ingin memetakan daerah mana yang literasinya belum maksimal, lalu kita intervensi bersama agar angkanya bisa meningkat,” pungkas Aries.
Sementara itu, Country Director Big Bad Wolf Indonesia Marthius Wandi Budianto, mengatakan BBW 2026 hadir dengan skala yang jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Tahun ini berbeda. Biasanya kami hanya mengunjungi enam sampai tujuh kota dalam setahun. Tahun ini kami hadir di 14 kota, dan harapannya tahun depan bisa sampai 15 kota atau lebih,” ujarnya.
BACA: PELMAR Gaungkan Literasi Digital lewat Roadshow di Madiun
Menurut Marthius, perluasan jangkauan ini dilakukan untuk menjawab persoalan distribusi dan keterbatasan akses buku berkualitas di berbagai daerah di Indonesia.
“Masalah terbesar di Indonesia itu distribusi. Di banyak kota, toko buku masih sangat terbatas. Karena itu kami ingin mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan buku-buku berkualitas, termasuk buku impor berbahasa Inggris,” jelasnya.
Di BBW Surabaya 2026, pihaknya membawa jutaan eksemplar buku dari berbagai genre dan usia. “Yang dipajang di sini baru sekitar 30–40 persen. Total buku yang kami bawa lebih dari 2,5 juta eksemplar,” ungkap Marthius.
Ia berharap kehadiran BBW dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan literasi nasional.
“Semoga literasi Indonesia bisa terus maju. Kalau seluruh warga Surabaya datang ke sini saja, rasanya masih belum cukup untuk menghabiskan semua buku yang kami bawa,” tutupnya.
