Sekolah eco green di lereng Pegunungan Himalaya.

Melihat Secmol, Pionir Sekolah Eco Green di Dunia

Dyah Ayu Pitaloka

Minggu, 7 April 2019 - 13:43

JATIMNET.COM, Surabaya – Secmol adalah pioner bagi sekolah yang mempraktikkan pendidikan eco green, di lingkungan yang sangat keras di dunia. Kampusnya memiliki luas sekitar 3.350 meter, tak jauh dari Pegunungan Himalaya, di sepanjang Sungai Indus di Ladakh, di kota Jammu dan Kashmir.

Pelajar di Secmol (siswa pergerakan pendidikan dan budaya dari Ladakh) kekurangan wi-fi dan jaringan seluler.

Mereka berada di wilayah yang hanya bisa diakses lewat udara, di sepanjang musim dingin, ketika salju mengubur jalan provinsi sehingga tak bisa dilalui, dilansir dari Bbc, Minggu 7 April 2019.

Lanskap pegunungan di sekeliling sekolah hampir tanpa vegetasi, karena ketinggianya berada di atas batas pohon untuk tumbuh.

BACA JUGA: Facebook Hapus Seribuan Akun Asal India dan Pakistan

Sekolah bahkan menentukan zona waktu sendiri, untuk memaksimalkan waktu dengan limpahan sinar matahari.

Zona waktu berbeda, juga menjadi pengingat bagi siswa dan pengunjung, bahwa mereka telah memasuki dunia baru, ketika melewati pagar sekolah.

Penduduk Ladakh. Foto: Bill Wegener/Unsplash

Murid sekolah tersebut berasal dari sekolah umum di Ladakh, dan hanya mereka yang gagal dalam ujian tahun ke 10, boleh masuk di sekolah itu. Ada pula beberapa mahasiswa yang menjadi bagian dari komunitas sekolah, bersama gurunya.

Direktur sekolah Konchok Norgay menjelaskan, jika murid di sekolahnya belajar tentang lingkungan, selama satu atau dua jam setiap hari.

BACA JUGA: Indonesia Bisa Contoh India Terkait Tata Kelola Garam

Dalam pelajaran matematika pada umumnya, mereka akan belajar apakah air dari mata air cukup untuk menanam pohon, atau melakukan efisiensi atas pemanas matahari, yang digunakan untuk merebus air.

Kompor solar terlihat impresif dengan kaca, yang digunakan untuk menangkap sinar matahari, dan memfokuskan energinya untuk menciptakan panas yang intensif.

Namun, kompor itu hanya digunakan untuk memasak air atau teh.

Norgay dengan bangga menunjukkan pengolah biogas metana buatannya, yang bertenaga bubur kotoran ternak.

BACA JUGA: India Sukses Uji Coba Rudal Anti Satelit

Kotoran ternak dicampur dengan air, dan diletakkan dalam tabung panjang,sebelum ditinggalkan beberapa hari.

Kotoran akan menghasilkan gas, yang kemudian naik ke atas, dan disaring melalui serat baja, untuk menjamin gas tidak mengkorosi oven, sebelum mencapai tanki plastik anti terbakar.

“Ini fantastik, tidak hanya kamu mengurangi penggunaan gas komersial, tapi kamu juga menggunakan material alami,” kata Stanzin Sungrab, murid setempat. “Dan kami bisa menggunakan limbah bubur sebagai pupuk di taman,” katanya.

Setiap murid harus melakukan tugas harian, yang diatur berdasarkan shift dan mengembangkan kemampuannya dalam presentasi malam, di depan pengunjung, dan penduduk sekolah.

BACA JUGA: KPK Miris Ada Jual Beli Jabatan di Lingkungan Kemenag

Stanzin telah menghabiskan banyak waktu untuk mengembangkan hubungannya dengan Karjama, Thotkar dan Sheyma, nama tiga ekor sapi kampus.

Sekawanan ternak di Ladakh. Foto: Simon Matzinger / Unsplash

Jika pelajar sedang bebas dari shift menyiapkan sarapan pada pukul 04:00, maka pelajaran akan dimulai pukul 07:00, dengan meditasi selama tujuh menit.

Murid didorong untuk fokus pada tujuan masing-masing , dalam sehari, dengan bekal sarapan roti dingin, dan selai alpukat buatan sendiri.

Biji alpukat dikirim ke biara tetangga, untuk diolah menjadi minyak alpukat.

BACA JUGA: Ecoton Gugat Gubernur Jatim hingga Menteri Lingkungan Hidup

Inovasi ditunjukkan sebagai arsitek di dalam kampus, ditempa dengan lingkungan dengan suhu mencapai minus 15 hingga 25 derajat C di musim dingin, dan ketika musim panas, suhu meningkat mencapai 30 derajat C.

Ladakh memiliki sejarah lingkungan yang panjang, meskipun perkembangan hotel dan meningkatnya polusi di Ibu kota Leh, menjadi ancaman bagi rekor hijau.

“Kami melarang tas kresek di sini sejak 30 tahun lalu,” kata Sonam Gatso, operator organisasi pencinta lingkungan setempat.

Sonam juga percaya, jika budaya Budha setempat membantu mempromosikan kesadaran lingkungan. “ Kami mencoba untuk berbelas kasih, karena kami percaya pada Karma-sebab dan akibat. Jika kamu melakukan hal buruk pada orang lain atau lingkungan, hal buruk akan datang kepadamu,".

BACA JUGA: Aktivis Lingkungan Dukung UU Pencucian Uang Perangi Perdagangan Satwa

Secmol adalah sekolah yang impresif, namun sejauh apa pelajarannya bisa keluar dari sekolah yang inovatif namun terisolasi?

Urgain Nurbu, alummni Secmol yang kini tinggal di kampus itu lagi, merasa sangat terinspirasi atas apa yang telah dia kerjakan. Sehingga, ia mengorganisasi perkemahan pemuda di desanya, yang terpencil.

Peserta perkemahan membuat jas hujan dari plastik bekas, dan Urgain juga mengundang pembicara tentang lingkungan, untuk menginspirasi remaja.

Satu lulusan telah mulai membuat perusahaan travel ramah lingkungan, alumni lain membuat film bertema lingkungan.

BACA JUGA: Menteri Lingkungan Sedunia Berkumpul di Bali Bahas Sampah Laut

Shara, mahasiswa arsitektur, saat ini sedang bereksperiman dengan membuat bahan bangunan batu bata berbahan lumpur, serutan kayu, dan sedotan plastik.

Ia menjadi bagian dari tim yang sedang mendesain kampus baru, di area yang bertujuan mengajarkan pariwisata dan arsitektur ramah lingkungan, mengembangkan gagasan yang diperoleh dari Secmol.

Pegunungan Himalaya di Ladakh. Foto: Steven Lasry / Unsplash

Saat ini, dampak dari Secmol bisa dirasakan dari mengubah mindset individual, untuk menciptakan rasa tanggungjawab bersama.

“Kakek saya mengatakan bagaimana tenang dan indahnya desa kami dulu, dan ada ikan di sungai,” kata Padma Doma, pelajar di Secmol.

BACA JUGA: Dua Tahun Audit Lingkungan Lakardowo tak Kunjung Keluar

“Sehingga penting bagi saya untuk melindungi lingkungan kami yang sangat berharga. Di masa depan, mungkin lingkungan kami bakal kembali seperti dulu lagi,” katanya.

“Saya ingin pulang dan meyakinkan keluarga untuk memisahkan sampah kami. Apakah mereka mau mendengarkan? Mungkin tidak, tapi saya akan coba, dan ketika saya melihat seseorang membuang bungkusan sampah, akan saya ambil lagi,”.

Sementara dengan lingkungan yang sangat keras, penduduk Ladakh sangat sadar dengan perubahan yang sangat kecil di cuaca mereka, dan sangat sadar dengan perubahan iklim, kata Stanzin.

“Tahun lalu kami tidak mengalami banyak salju, sehingga tidak cukup tersedia lelehan salju saat musim semi. Karena kami berada di ketinggian, dan semuanya sangat berharga, kamu akan belajar betapa berharganya nilai setetes air", katanya.

Baca Juga

loading...