Selasa, 03 March 2026 23:30 UTC

Pjs. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari saat memaparkan materi konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Februari 2026 secara daring di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026. Foto: Tangkapan layar akun YouTube OJK.
JATIMNET.COM, Jakarta – Konflik antara Israel dan sekutunya Amerika Serika terhadap Iran memicu gejolak di pasar keuangan global.
Penjabat sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan bahwa dinamika geopolitik yang tengah terjadi juga berdampak bagi Indonesia.
“Tentu saja memberikan pressure (tekanan) yang tentunya harus diantisipasi rambatannya kepada kita,” katanya dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan untuk menyampaikan kebijakan strategis OJK serta perkembangan terkini di sektor jasa keuangan di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.
Berdasarkan hasil pencermatan OJK, lanjut Kiki, sapaan akrab Frederica, terdapat tiga dampak dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah terhadap pasar global.
BACA: Timur Tengah Memanas, Jemaah Umrah Asal Indonesia Waswas
Pertama, kenaikan harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak dunia. “30 persen suplai minyak dunia lewat situ,” ujarnya.
Selain minyak dunia, jalur distribusi LNG atau gas alam cair yang berperan penting bagi kehidupan juga mayoritas lewat Selat Hormuz.
“Sehingga, perlu diantisipasi dampak rambatannya kepada kita terkait dengan (naiknya) harga minyak (dunia) ini,” ucap Friderica.
BACA: Timur Tengah Bergolak, Bandara Juanda Sebut Penerbangan Umrah Masih Normal
Ia melanjutkan, konflik di Timur Tengah juga berpotensi meningkatkan inflasi global. Kondisi ini akan memengaruhi kebijakan bank sentral meningkatkan suku bunga. Namun, di sisi lain likuiditas di pasar keuangan global semakin diperketat yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi.
“Maka, harus kita pastikan kesiapan di dalam negeri supaya bisa menghadapi exposure global (tingkat keterpaparan) yang tinggi ini,” ungkapnya.
Dampak perang Iran ketiga bagi pasar keuangan global, ia melanjutkan, meningkatnya ketidapastian ekonomi. Kondisi ini, mendorong investor mengalihkan modalnya dari aset berisiko ke aset yang lebih aman dan stabil. Pengalihan aset ini seperti dari saham ke obligasi pemerintah maupun emas.
“Pasar negara berkembang, seperti di dituntut untuk menunjukkan integritas dan likuiditas yang kuat sekaligus tata kelola yang kredibel supaya tetap kompetitif dan menarik aliran modal asing,” Kiki menerangkan.
