Kamis, 14 May 2026 13:30 UTC

Rupiah melemah terhadap US Dollar (Pic: Periskop)
JATIMNET.COM – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat hingga Kamis, 14 Mei 2025 mulai memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Kondisi tersebut mendorong DPR meminta pemerintah dan Bank Indonesia mengambil langkah antisipasi lebih agresif agar tekanan global tidak berkembang menjadi gangguan ekonomi yang lebih luas.
Pergerakan rupiah dalam beberapa pekan terakhir menjadi perhatian karena berlangsung di tengah ketidakpastian ekonomi global, penguatan dolar AS, serta meningkatnya tekanan pasar keuangan internasional.
Situasi ini juga memunculkan kekhawatiran terhadap potensi dampak lanjutan terhadap harga barang impor, inflasi, dan daya beli masyarakat.
Ketua DPR Puan Maharani meminta pemerintah dan Bank Indonesia segera menjelaskan strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah pelemahan mata uang domestik tersebut.
DPR disebut akan memanggil pemerintah dan otoritas moneter untuk membahas arah kebijakan ekonomi makro serta mitigasi risiko terhadap APBN 2027.
“Situasi ini jangan sampai pengaruhnya itu nantinya akan membuat Indonesia jadi terpuruk. Jadi harus diantisipasi sejak awal,” ujar Puan Maharani dalam keterangannya di Jakarta.
Pelemahan rupiah kali ini dinilai berbeda karena terjadi ketika ekonomi global masih dibayangi ketegangan geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, dan tingginya suku bunga acuan Amerika Serikat.
Kondisi tersebut membuat aliran modal asing ke negara berkembang menjadi lebih rentan berbalik keluar menuju aset dolar AS yang dianggap lebih aman.
Bank Indonesia sendiri menegaskan masih optimistis terhadap fundamental ekonomi nasional. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebut bank sentral tetap yakin rupiah dapat kembali stabil dan menguat seiring langkah intervensi dan kebijakan stabilisasi yang dilakukan otoritas moneter.
“Fundamental ekonomi Indonesia itu sangat baik dibandingkan dengan negara-negara lain,” ujar Ramdan di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.
Bank Indonesia menyatakan telah menempuh sejumlah langkah stabilisasi, mulai dari intervensi pasar valuta asing, penguatan instrumen SRBI, pembelian surat berharga negara di pasar sekunder, hingga menjaga likuiditas perbankan dan pasar uang domestik.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah tetap memunculkan kekhawatiran di sektor riil. Pelemahan mata uang berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku industri, energi, dan pangan.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berdampak pada kenaikan harga barang konsumsi dan biaya produksi nasional.
Bagi Jawa Timur, situasi ini memiliki implikasi penting karena provinsi tersebut menjadi salah satu pusat industri manufaktur, perdagangan, dan logistik nasional.
Pelemahan rupiah dapat memengaruhi biaya impor bahan baku industri di Surabaya, Gresik, dan Pasuruan yang selama ini bergantung pada pasokan luar negeri.
Selain sektor industri, tekanan kurs juga berpotensi dirasakan pelaku UMKM yang menggunakan bahan baku impor atau memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS.
Kenaikan biaya distribusi dan produksi dikhawatirkan dapat mempersempit margin usaha kecil di tengah perlambatan daya beli masyarakat.
Pengamat ekonomi menilai kondisi saat ini masih berada dalam fase yang dapat dikendalikan, namun membutuhkan koordinasi kuat antara pemerintah dan Bank Indonesia.
Stabilitas nilai tukar dinilai tidak hanya bergantung pada intervensi moneter, tetapi juga kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan fiskal dan ekonomi nasional.
Tekanan terhadap rupiah juga memperlihatkan tingginya ketergantungan ekonomi domestik terhadap dinamika global. Ketika dolar AS menguat akibat kebijakan suku bunga tinggi dan ketidakpastian internasional, negara berkembang seperti Indonesia cenderung mengalami tekanan arus modal dan pelemahan kurs.
Fenomena ini pernah terjadi pada krisis 1998, taper tantrum 2013, hingga gejolak pandemi Covid-19 pada 2020. Bedanya, pemerintah kini memiliki instrumen stabilisasi yang lebih lengkap, termasuk cadangan devisa lebih besar, koordinasi fiskal-moneter, serta sistem perbankan yang dinilai lebih kuat dibanding dua dekade lalu.
Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa stabilitas rupiah tetap harus dijaga karena kurs memiliki efek psikologis besar terhadap pasar dan masyarakat.
Ketika pelemahan berlangsung terlalu cepat, kekhawatiran publik terhadap kondisi ekonomi dapat meningkat dan memengaruhi perilaku konsumsi maupun investasi.
Di tengah tekanan global, pemerintah juga menghadapi tantangan menjaga pertumbuhan ekonomi domestik agar tidak melambat terlalu dalam.
Jika rupiah terus melemah sementara harga impor naik, risiko inflasi dan perlambatan industri dapat muncul bersamaan. Hingga Kamis malam, pemerintah dan Bank Indonesia masih menegaskan situasi ekonomi nasional tetap terkendali.
Namun, perkembangan nilai tukar dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan akan menjadi salah satu indikator penting yang menentukan arah kebijakan ekonomi nasional menuju semester kedua 2026.
