Kamis, 07 May 2026 03:00 UTC

Ilustrasi pengisian BBM di SPBU Pertamina. Kenaikan harga BBM nonsubsidi mulai memicu kekhawatiran terhadap biaya transportasi dan distribusi barang. Foto: Pertamina
JATIMNET.COM, Surabaya – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang berlaku pada Mei 2026 kembali memicu perhatian publik. Apalagi, solar dan bensin beroktan tinggi mengalami lonjakan harga cukup signifikan.
Kondisi ini dinilai berpotensi menambah tekanan biaya distribusi barang dan logistik di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur yang menjadi salah satu pusat industri dan perdagangan nasional.
Penyesuaian harga dilakukan PT Pertamina pada awal Mei 2026 untuk beberapa produk nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.
Berdasarkan daftar harga terbaru, Pertamax Turbo berada di kisaran Rp19.900 per liter, Dexlite Rp26.000 per liter, dan Pertamina Dex mencapai Rp27.900 per liter.
Sementara, Pertamax masih dipertahankan di level Rp12.300 per liter. Perubahan harga tersebut langsung menjadi perbincangan luas di media sosial karena selisih harga dinilai semakin jauh dibanding awal tahun.
Kenaikan paling disorot terjadi pada produk diesel nonsubsidi yang banyak digunakan kendaraan logistik dan sektor industri.
Pelaku usaha angkutan menilai lonjakan harga berpotensi memengaruhi biaya operasional harian, terutama distribusi pangan dan kebutuhan pokok antarwilayah.
“Kalau solar industri naik cukup tinggi, otomatis ongkos kirim ikut naik. Dampaknya biasanya tidak langsung, tapi beberapa minggu kemudian mulai terasa di harga barang,” ujar Suyanto, pengusaha angkutan barang di Surabaya, Kamis, 7 Mei 2026.
Fenomena tersebut muncul di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.
Pelemahan kurs dinilai ikut memengaruhi biaya impor minyak mentah dan komponen energi lain yang berkaitan dengan produksi BBM nasional. Situasi global yang belum stabil juga membuat harga energi internasional bergerak fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir.
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Airlangga, Dimas Prabowo menilai kebijakan mempertahankan harga Pertamax sementara produk nonsubsidi lain naik menunjukkan upaya pemerintah menjaga konsumsi masyarakat menengah agar tidak terguncang terlalu besar.
“Pertamax tampaknya masih dijaga untuk meredam tekanan sosial. Tetapi, produk diesel nonsubsidi yang naik tinggi tetap berisiko memicu inflasi distribusi karena digunakan sektor logistik dan industri,” ujarnya.
Menurutnya, dampak kenaikan BBM nonsubsidi kemungkinan tidak langsung terlihat pada pekan pertama. Namun, dapat mulai memengaruhi harga kebutuhan pokok apabila biaya distribusi terus meningkat dalam jangka menengah.
Jawa Timur termasuk wilayah yang cukup sensitif terhadap perubahan biaya logistik karena memiliki jalur distribusi besar untuk pangan, manufaktur, dan perdagangan antarpulau.
Kenaikan harga BBM juga memunculkan kekhawatiran dari pelaku usaha kecil dan sektor transportasi harian. Beberapa pengemudi travel dan angkutan barang mulai menghitung ulang biaya operasional karena margin usaha dinilai semakin menipis di tengah persaingan tarif yang ketat.
“Kami belum bisa langsung menaikkan tarif karena penumpang juga sedang berat. Tapi, biaya jalan terus naik,” kata Arif, pengemudi travel rute Surabaya-Malang.
Di sejumlah daerah, masyarakat mulai membandingkan biaya pengeluaran transportasi saat ini dengan awal tahun. Percakapan terkait BBM menjadi salah satu topik yang ramai dibahas di platform digital karena dianggap berkaitan langsung dengan kebutuhan harian rumah tangga.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa fluktuasi harga energi masih menjadi faktor penting yang memengaruhi stabilitas ekonomi domestik. Ketika harga BBM meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan sektor transportasi, tetapi juga distribusi pangan, biaya produksi industri, hingga pengeluaran masyarakat perkotaan.
Pemerintah hingga kini masih memantau perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah sebelum menentukan langkah lanjutan terkait kebijakan energi nasional.
Sejumlah ekonom memperkirakan tekanan harga BBM berpotensi terus menjadi perhatian apabila kondisi global dan kurs rupiah belum stabil dalam beberapa bulan mendatang.
