Logo

Impor Maret 2026 Menurun, Libur dan Geopolitik Jadi Tekanan

Perlambatan impor mulai memengaruhi aktivitas industri dan kebutuhan bahan baku nasional.
Reporter:,Editor:

Rabu, 06 May 2026 05:30 UTC

Impor Maret 2026 Menurun, Libur dan Geopolitik Jadi Tekanan

Aktivitas bongkar muat peti kemas di terminal pelabuhan. Perlambatan impor Maret 2026 dipengaruhi libur Lebaran dan geopolitik. Foto: Pelindo

JATIMNET.COM, Jakarta – Kinerja impor Indonesia pada Maret 2026 mengalami penurunan di tengah periode libur panjang Idulfitri dan meningkatnya tekanan geopolitik global.

 

Kondisi tersebut mulai memberi dampak terhadap aktivitas perdagangan, pasokan bahan baku industri, hingga permintaan domestik di berbagai sektor ekonomi nasional.

 

Kementerian Perdagangan mencatat nilai impor Indonesia pada Maret 2026 mencapai 19,21 miliar dolar AS atau turun 8,08 persen dibanding Februari 2026.

 

Meski secara tahunan masih tumbuh 1,51 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, penurunan bulanan terjadi di hampir seluruh kelompok barang impor.

 

Pelemahan impor dipengaruhi kombinasi faktor musiman selama Ramadan dan Lebaran, ketidakpastian geopolitik internasional, serta perlambatan permintaan dalam negeri.

 

Situasi ini membuat pelaku usaha cenderung menahan pembelian bahan baku dan barang modal dalam jangka pendek.

 

“Penurunan ini dipengaruhi faktor musiman libur panjang Idulfitri, tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah, serta pelemahan permintaan domestik,” kata Menteri Perdagangan Budi Santoso di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.

 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, kontraksi impor terbesar terjadi pada kelompok barang modal yang turun 15,75 persen dibanding bulan sebelumnya.

 

Sementara, impor barang konsumsi turun 11,64 persen dan impor bahan baku maupun barang penolong turun 5,21 persen.

 

Penurunan impor barang modal dinilai mencerminkan melambatnya aktivitas investasi dan produksi industri selama masa libur panjang.

 

Di sisi lain, penurunan impor bahan baku menunjukkan sektor manufaktur mulai lebih berhati-hati menjaga kapasitas produksi di tengah ketidakpastian pasar global.

 

Impor nonmigas menjadi penyumbang utama penurunan perdagangan luar negeri pada Maret 2026. Nilai impor nonmigas tercatat turun 15,14 persen dibanding Februari 2026.

 

Sebaliknya, impor migas meningkat 58,73 persen akibat kenaikan kebutuhan energi dan perubahan harga minyak dunia.

 

Tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memengaruhi rantai pasok internasional dan biaya logistik global. Ketidakpastian jalur distribusi perdagangan membuat biaya pengiriman internasional meningkat dan mendorong pelaku usaha menyesuaikan strategi impor.

 

Bagi Jawa Timur, perlambatan impor memiliki dampak cukup penting karena provinsi tersebut menjadi salah satu pusat industri manufaktur terbesar di Indonesia.

 

Kawasan industri di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto hingga Pasuruan masih bergantung pada pasokan bahan baku dan komponen impor untuk sektor logam, kimia, otomotif, elektronik, serta makanan dan minuman.

 

Jika pelemahan impor bahan baku berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kapasitas produksi industri daerah. Dampaknya dapat meluas terhadap distribusi barang, penyerapan tenaga kerja, hingga pertumbuhan ekonomi regional.

 

Meski demikian, secara kumulatif sepanjang Januari hingga Maret 2026, impor Indonesia masih mencatat pertumbuhan positif. Total impor nasional mencapai 61,30 miliar dolar AS atau naik 10,05 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

 

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang impor nonmigas yang naik 12,16 persen secara tahunan. Sementara, impor migas justru mengalami kontraksi 1,72 persen pada kuartal pertama tahun ini.

 

Data penggunaan barang menunjukkan seluruh kelompok impor secara kumulatif masih mengalami pertumbuhan. Barang modal naik 24,02 persen, bahan baku dan penolong tumbuh 6,89 persen, sedangkan barang konsumsi meningkat 6,12 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

 

Pemerintah menilai kenaikan impor barang modal pada awal tahun menjadi indikasi aktivitas investasi industri masih berjalan. Sejumlah komoditas utama yang mendorong kenaikan impor antara lain telepon pintar, perangkat komputer, serta pesawat dan komponennya.

 

Ekonom menilai perlambatan impor Maret 2026 lebih banyak dipengaruhi faktor musiman dan tekanan eksternal dibanding pelemahan struktural ekonomi nasional.

 

Namun, ketidakpastian geopolitik global tetap perlu diwaspadai karena dapat memicu gangguan distribusi, kenaikan biaya logistik, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah.

 

Ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor juga masih menjadi tantangan utama. Pemerintah dinilai perlu memperkuat diversifikasi sumber impor dan mempercepat pengembangan industri substitusi impor agar sektor manufaktur lebih tahan terhadap gejolak global.

 

Di tengah situasi tersebut, pemerintah juga dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan antara pengendalian impor dan kebutuhan industri domestik. Pembatasan impor yang terlalu ketat berisiko menghambat rantai produksi, sementara lonjakan impor dapat menekan daya saing produk lokal.

 

Memasuki kuartal kedua 2026, aktivitas impor diperkirakan kembali meningkat seiring normalisasi kegiatan industri pasca-Lebaran. Namun, perkembangan konflik geopolitik global dan kondisi permintaan domestik masih akan menjadi faktor utama yang menentukan arah perdagangan Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.