Selasa, 05 May 2026 12:08 UTC

Hewan ternak unta yang dikembangbiakkan di kandang Berkah Wafa Farm. Foto: Hasan
JATIMNET.COM, Mojokerto – Pagi itu, suasana di Desa Watesnegoro, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, terasa berbeda dari kebanyakan sentra peternakan menjelang Iduladha. Di saat kandang-kandang lain dipenuhi sapi, kambing, atau kerbau yang disiapkan untuk musim kurban, Berkah Wafa Farm justru menghadirkan panorama yang tak biasa.
Beberapa ekor unta berdiri tenang di area peternakan. Leher panjang mereka sesekali bergerak pelan saat menikmati pakan, sementara sebagian lainnya dilepas ke area terbuka untuk merumput liar di sekitar kandang. Pemandangan itu menghadirkan nuansa Timur Tengah di tengah hamparan pedesaan Mojokerto.
Kehadiran unta di wilayah tropis Jawa Timur tentu bukan sekadar atraksi unik. Di balik langkah tak lazim tersebut, ada visi besar yang tengah dibangun Faisal Effendi, pemilik Berkah Wafa Farm. Pada 2025, Faisal mengambil keputusan berani dengan mendatangkan unta langsung dari Australia—langkah yang masih sangat jarang dilakukan oleh peternak rakyat di Indonesia.
"Kita datangkan dari Australia. Jadi, kalau yang pertama kemarin kita habiskan untuk zoo. Jadi zoo di Bali, zoo di Jawa Tengah, di Jawa Barat, ngambil ke kami," katanya, Selasa, 5 Mei 2026.
BACA: Makam Troloyo, Magnet Wisata Religi di Mojokerto
Pada tahap awal, keberadaan unta-unta tersebut memang lebih banyak memenuhi kebutuhan kebun binatang dan taman satwa. Pasar itu dinilai cukup potensial mengingat unta masih tergolong satwa eksotis di Indonesia.
Namun bagi Faisal, peluangnya tidak berhenti di sana. Ia melihat masa depan yang lebih besar: menjadikan unta sebagai bagian dari peternakan masyarakat, bahkan sebagai alternatif hewan kurban.
Di kandangnya, unta-unta itu ternyata mampu beradaptasi dengan cukup baik. Meski identik dengan habitat gurun yang panas dan kering, hewan tersebut justru menunjukkan daya tahan yang kuat di lingkungan Mojokerto.
Faisal mengaku, pengalaman memelihara unta memberinya banyak kejutan. Menurutnya, dari sisi perawatan, unta justru lebih praktis dibanding sapi.
BACA: Dari Bejijong Mojokerto, Rasa Telur Asin Asap Ini Menyebar ke Luar Kota
"Saya kira lebih praktis, lebih gampang karena makannya juga gampang, terus pertumbuhannya memang agak lama tapi lebih mudah kalau daripada sapi lebih kuat unta itu daya tahan tubuhnya," tambahnya.
Ketahanan tubuh itu menjadi nilai lebih tersendiri. Saat banyak peternak sapi menghadapi ancaman penyakit seperti PMK, LSD, maupun perubahan cuaca ekstrem, unta dinilai lebih tangguh.
"Kalau sapi kan ada gampang kembung, terus gampang kena semacam panas perubahan cuaca juga dia gampang sakit. Apalagi sekarang kan ada PMK, ada LSD, sama juga demam ya, demam pada sapi," bebernya.
Berangkat dari pengalaman tersebut, Faisal kini tidak sekadar berjualan unta. Fokus utamanya adalah breeding atau pengembangbiakan, demi membangun populasi unta yang berkelanjutan di level peternakan rakyat.
BACA: Sensasi Pedas Gurih Becek Mentok dan Belut Rica di Warung Pak To Tuban
Baginya, langkah ini adalah fondasi jangka panjang. Jika populasi stabil, bukan tidak mungkin unta akan menjadi pilihan baru dalam pasar hewan kurban nasional.
"Selain untuk zoo, kita pengen ngembangin untuk di ternak. Kita pengen berbreeding, supaya nanti ke depan kita pengennya ada namanya hewan kurban unta. Kita jual belikan untuk korban. Tapi kita harus menyesuaikan yang umurnya sudah tua," tuturnya.
Di Jawa Timur, langkah seperti ini masih tergolong pionir. Selama ini, pengembangbiakan unta lebih banyak berada di lingkup kebun binatang atau konservasi, bukan peternakan kampung.
Justru di situlah Faisal melihat peluang besar. Ia ingin membuka jalan baru, membuktikan bahwa unta bukan hanya hewan eksotis dari negeri gurun, melainkan juga komoditas peternakan masa depan yang bisa dikembangkan masyarakat Indonesia.
"Makanya mau kita kembangkan untuk di sini, di breeding. Supaya berkembang di unta kalau untuk zoo itu kan udah biasa, udah banyak, udah bertahun-tahun tapi kalau untuk di ternak, di peternakan kampung belum ada," pungkasnya.
Di tengah hamparan hijau Mojokerto, unta-unta itu kini bukan sekadar pemandangan langka. Mereka menjadi simbol keberanian mencoba hal baru—membuka kemungkinan bahwa masa depan peternakan Indonesia bisa berkembang jauh melampaui kebiasaan lama.
