Kamis, 16 April 2026 03:48 UTC

para peziarah sedang berdoa di kompleks wisata religi makam Troloyo, Kabupaten Mojokerto. Foto: Dini
JATIMNET.COM, Mojokerto – Makam Troloyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kabupaten Mojokerto yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Tempat ini merupakan pemakaman Islam pada masa kejayaan Majapahit. Salah satu alasan yang mendongkrak kepoluleran kompleks ini karena keberadaan makam Punjer Wali Songo Syech Jumadil Qubro.
Sepak terjang tokoh ini di masa lalu dikenal memiliki andil besar dalam syiar Islam di Trowulan. Peran tersebut membuat makam Syech Jumadil Qubro paling banyak dikunjungi para peziarah.
Demikian yang disampaikan Estian Budiarti, salah seorang peziarah yang datang ke makam Troloyo bersama rombongan.
“Karena menurut kami, beliau (Syech Jumadil Qubro) adalah sesepuh yang memiliki peran dalam penyebaran Islam di sini,” ujar perempuan yang berprofesi sebagai guru sejarah di salah satu sekolah di Mojokerto ini, Kamis, 16 April 2026.
Estian menilai, makam Troloyo sebagai warisan yang tidak terpisahkan dari identitas lokal. Ia menyebut, keberadaan situs religi ini sudah sangat dikenal luas, terutama dalam tradisi ziarah wali.
“Kalau soal dikenal, Troloyo ini sudah sangat terkenal. Bahkan saat momen tertentu, peziarah membeludak sampai parkiran tidak cukup,” jelasnya.
Namun di balik popularitas itu, ia menyoroti pentingnya pembenahan fasilitas. Baginya, kenyamanan peziarah menjadi kunci agar nilai spiritual dan sejarah tetap bisa dirasakan secara utuh oleh para pengunjung.
“Harapannya tentu ada peningkatan sarana dan prasarana, supaya orang yang datang bisa lebih nyaman dalam berziarah,” tambahnya.
Tak hanya dari Mojokerto, magnet spiritual makam Troloyo juga menarik peziarah dari berbagai penjuru Nusantara. Salah satunya adalah Umi Napisah yang datang bersama keluarganya dari Kalimantan Selatan.
Perjalanan panjang yang ia tempuh bukan tanpa alasan. Cerita dari keluarga dan dorongan batin menjadi alasan kuat untuk menapakkan kaki di tanah yang sarat sejarah ini.
“Kami awalnya tahu dari keluarga. Lalu suami ingin ke sini, mencari rida dan berkah. Alhamdulillah hari ini bisa sampai bersama keluarga,” tuturnya.
Umi mengaku, perjalanan mereka melintasi berbagai daerah di Pulau Jawa hingga akhirnya tiba di Trowulan. Bagi keluarganya, ziarah ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin.
“Ini tentang sejarah juga, tapi lebih dari itu, kami ingin mencari makna dan keberkahan ridho Allah SWT,” imbuhnya.
Troloyo sendiri memang bukan sekadar kompleks makam biasa. Dalam catatan sejarah, kawasan ini diyakini memiliki keterkaitan erat dengan masa peralihan dari era Majapahit menuju perkembangan Islam di tanah Jawa.
Beberapa tokoh yang dimakamkan di sini dipercaya memiliki peran penting dalam masa tersebut.
Perpaduan antara nilai sejarah dan spiritual inilah yang membuat Troloyo tetap hidup hingga kini. Makam ini bukan hanya menjadi tujuan wisata religi, tetapi juga ruang refleksi bagi siapa saja yang datang.
Di komples makam Troloyo, waktu seolah berjalan berbeda. Masa lalu dan masa kini bertemu dalam doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap.
Dan selama manusia masih mencari makna, tempat seperti ini akan selalu punya alasan untuk tetap ramai dan tak lekang oleh zaman.
