Logo

Danantara Masuk GOTO, Porsi Saham Masih Misteri

Investasi negara di perusahaan teknologi memicu pertanyaan publik soal tujuan, pengaruh, dan arah kebijakan ojol.
Reporter:,Editor:

Jumat, 29 May 2026 06:30 UTC

Danantara Masuk GOTO, Porsi Saham Masih Misteri

Danantara beli saham GOTO, strategi bisnis atau kebijakan publik. (Dx Gen-AI)

JATIMNET.COM – Masuknya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai pemegang saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih menyisakan pertanyaan publik mengenai besaran kepemilikan dan tujuan strategis investasi tersebut.

 

Hingga Jumat, 29 Mei 2026, manajemen GOTO maupun Danantara belum mengungkap angka pasti saham yang telah diakumulasi, selain memastikan porsinya masih berada di bawah satu persen dari total saham yang diterbitkan perusahaan.

 

Kepastian mengenai masuknya Danantara ke GOTO pertama kali dikonfirmasi melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia pada 5 Mei 2026. Dalam penjelasan resmi tersebut, GOTO menyatakan Danantara telah membeli saham perseroan melalui mekanisme pasar reguler di Bursa Efek Indonesia.

 

Sekretaris Perusahaan GOTO, R.A. Koesoemohadiani, dalam keterbukaan informasi tertanggal 5 Mei 2026 menyatakan bahwa pihaknya memahami Danantara telah membeli saham perseroan dalam jumlah kurang dari satu persen dari total saham yang diterbitkan perusahaan.

 

“Perseroan menyambut baik investasi tersebut sebagai cerminan kepercayaan yang berkelanjutan terhadap fundamental usaha, kinerja, serta prospek jangka panjang Perseroan,” kata Koesoemohadiani di Jakarta, 5 Mei 2026.

 

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi konfirmasi resmi pertama setelah muncul berbagai spekulasi mengenai keterlibatan pemerintah dalam perusahaan aplikasi transportasi dan layanan digital terbesar di Indonesia tersebut.

 

Meski telah mengakui adanya pembelian saham, GOTO tidak merinci jumlah saham yang telah dikoleksi Danantara.

 

Karena kepemilikannya masih di bawah satu persen, posisi tersebut belum masuk kategori pemegang saham utama yang wajib diumumkan secara rinci kepada publik dalam laporan kepemilikan saham emiten.

 

Di sisi lain, CEO Danantara Rosan Roeslani mengakui lembaganya telah masuk sebagai investor di GOTO dan membuka kemungkinan penambahan kepemilikan pada periode berikutnya.

 

“Kita sudah masuk, terus akan kita tingkatkan secara bertahap,” ujar Rosan saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

 

Namun, Rosan belum menjelaskan target kepemilikan saham yang ingin dicapai maupun nilai investasi yang telah digelontorkan.

Sampai akhir Mei 2026, Danantara juga belum mengumumkan skema investasi maupun rencana keterlibatan lebih jauh dalam tata kelola perusahaan.

 

Masuknya Danantara menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya intervensi pemerintah terhadap industri transportasi online. Sejumlah pejabat negara secara terbuka mengaitkan investasi tersebut dengan agenda perlindungan pengemudi ojek online.

 

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad saat menerima audiensi serikat pekerja di Kompleks Parlemen, Jakarta, 1 Mei 2026, menyebut pemerintah telah masuk ke perusahaan aplikator melalui Danantara sebagai bagian dari upaya memperbaiki ekosistem transportasi berbasis aplikasi.

 

Menurut Dasco, salah satu tujuan yang ingin dicapai ialah menekan potongan komisi aplikator yang selama ini berada pada kisaran 10 hingga 20 persen.

 

“Potongan yang sebelumnya berada pada kisaran 10 hingga 20 persen akan ditekan menjadi delapan persen melalui kebijakan pemerintah,” ujar Dasco di Jakarta, 1 Mei 2026.

 

Kebijakan tersebut berjalan beriringan dengan penerbitan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 yang mengatur perlindungan pekerja transportasi online, termasuk pembatasan maksimal potongan aplikator terhadap mitra pengemudi.

 

Rosan juga sempat mengaitkan investasi Danantara dengan agenda peningkatan kesejahteraan pengemudi transportasi online. Dalam sejumlah pernyataannya kepada media pada awal Mei, ia menyebut isu perlindungan sosial pengemudi menjadi salah satu perhatian pemerintah.

 

Menurut Rosan, kebijakan yang didorong pemerintah mencakup perluasan perlindungan BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, hingga peningkatan bantuan hari raya bagi pengemudi aplikasi.

 

Meski demikian, hingga saat ini belum ada dokumen resmi yang menunjukkan bahwa kepemilikan saham Danantara memberikan hak khusus dalam menentukan tarif, potongan komisi, maupun kebijakan operasional GOTO. Secara korporasi, kepemilikan di bawah satu persen juga belum cukup untuk memberikan kendali langsung terhadap keputusan strategis perusahaan.

 

Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir pada 11 Mei 2026 menegaskan bahwa pembelian saham GOTO tetap merupakan keputusan investasi yang mempertimbangkan potensi keuntungan.

 

“Kalau sudah ada game plan nanti kita komunikasikan ke publik,” kata Pandu di Jakarta, Senin, 11 Mei 2026.

 

Ia juga menyatakan bahwa investasi tersebut dilihat sebagai peluang yang berpotensi menghasilkan keuntungan bagi Danantara sebagai pengelola dana investasi negara.

 

Sejumlah pelaku pasar menilai langkah Danantara masuk ke GOTO memiliki dua dimensi sekaligus, yakni dimensi investasi dan dimensi kebijakan publik.

 

Dari sisi bisnis, GOTO mulai menunjukkan perbaikan kinerja keuangan setelah beberapa tahun melakukan efisiensi dan restrukturisasi.

 

Sementara dari sisi kebijakan, pemerintah tengah berupaya memperkuat perlindungan terhadap jutaan pengemudi transportasi online yang menjadi bagian penting ekonomi digital nasional.

 

Hingga akhir Mei 2026, pertanyaan terbesar publik masih belum terjawab sepenuhnya: berapa target akhir kepemilikan Danantara di GOTO dan sejauh mana investasi tersebut akan memengaruhi arah kebijakan perusahaan.

 

Baik Danantara maupun GOTO sejauh ini masih menyatakan proses investasi berjalan bertahap sambil menunggu perkembangan kebijakan dan strategi bisnis ke depan.