Sabtu, 11 July 2026 13:30 UTC

Ilustrasi gempa bumi. Foto: magnific.com
JATIMNET.COM – Guncangan gempa kembali terasa di gugusan pulau utara Sulawesi. Gempa bermagnitudo 5,6 mengguncang wilayah Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Sabtu sore, tetapi hasil pemodelan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memastikan peristiwa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Gempa M5,6 Sangihe terjadi pada Sabtu, 11 Juli 2026 pukul 17.51 WIB dengan pusat gempa berada di laut sekitar 39 kilometer utara Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Hasil analisis BMKG menempatkan episenter pada koordinat 5,14 derajat Lintang Utara dan 125,58 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 32 kilometer.
Parameter tersebut merupakan hasil pemutakhiran analisis BMKG. Dalam pencatatan awal gempa, parameter cepat dapat mengalami perubahan setelah data dari jaringan sensor seismik dianalisis lebih lanjut.
Pemutakhiran parameter gempa merupakan bagian dari proses analisis kegempaan. Data awal biasanya dipublikasikan dengan cepat untuk memberi informasi kepada masyarakat. Kemudian, diperbarui setelah BMKG memperoleh data yang lebih lengkap dari stasiun pemantauan.
Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, BMKG mengategorikan gempa Sangihe sebagai gempa bumi dangkal. Peristiwa itu dipicu aktivitas subduksi dengan mekanisme sumber berupa pergerakan geser naik atau oblique thrust.
Oblique thrust adalah mekanisme patahan yang memadukan gerakan naik dan pergeseran mendatar. Gerakan batuan pada zona pertemuan lempeng dapat melepaskan energi yang kemudian merambat sebagai gelombang gempa.
Guncangan paling kuat dilaporkan terasa di Kepulauan Marore dengan intensitas IV pada skala Modified Mercalli Intensity atau MMI. Pada tingkat tersebut, gempa dapat dirasakan banyak orang di dalam rumah dan sebagian orang di luar bangunan.
Getaran skala IV MMI juga dapat membuat pintu atau jendela berderik dan dinding mengeluarkan bunyi. Intensitas MMI berbeda dengan magnitudo karena menggambarkan dampak getaran yang dirasakan di suatu lokasi, bukan besarnya energi gempa pada sumbernya.
Di Kendahe, Kepulauan Sangihe, gempa dirasakan pada intensitas III hingga IV MMI. Sementara itu, masyarakat di Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, merasakan getaran pada skala III MMI.
Pada skala III MMI, getaran terasa nyata di dalam rumah. Sensasinya dapat menyerupai getaran ketika sebuah truk melintas, meski tidak semua orang yang berada di luar bangunan menyadari terjadinya gempa.
Direktur Gempa bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto memastikan analisis yang dilakukan tidak menemukan ancaman gelombang tsunami akibat gempa tersebut.
“Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” katanya dalam keterangannya.
Kepastian mengenai potensi tsunami menjadi informasi penting bagi masyarakat Sangihe. Sebagai wilayah kepulauan, banyak permukiman dan aktivitas masyarakat berada di kawasan yang berdekatan dengan pesisir.
Informasi resmi mengenai tsunami juga memiliki arti tersendiri setelah wilayah Sangihe mengalami rangkaian aktivitas seismik dalam beberapa waktu terakhir.
Pada Juni 2026, gempa besar di wilayah selatan Mindanao sempat memicu peringatan dini tsunami dan membuat sejumlah warga pesisir Sangihe bergerak menuju dataran yang lebih tinggi.
Pengalaman tersebut membuat kecepatan dan ketepatan informasi kegempaan penting bagi masyarakat. Setiap gempa kuat yang terasa di kawasan pesisir dapat memunculkan pertanyaan yang sama: apakah warga perlu menjauh dari pantai atau tetap berada di lokasi yang aman dari bangunan rusak.
Dalam gempa M5,6 pada Sabtu sore, BMKG memastikan tidak terdapat potensi tsunami berdasarkan hasil pemodelan. Namun, status tersebut bukan alasan untuk mengabaikan keselamatan terhadap dampak langsung guncangan.
BMKG meminta masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga juga perlu memeriksa kondisi bangunan setelah merasakan getaran gempa.
“Menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi,” kata Wijayanto dalam imbauan mitigasi BMKG setelah gempa M5,6 mengguncang Kepulauan Sangihe.
Pemeriksaan bangunan penting karena kerusakan struktural tidak selalu langsung terlihat ketika guncangan berhenti. Retakan pada bagian tertentu, pergeseran material, atau benda yang tidak stabil dapat menimbulkan risiko susulan bagi penghuni.
Hingga informasi awal mengenai gempa dipublikasikan, belum terdapat laporan korban atau kerusakan dalam keterangan yang tersedia.
Kondisi di lapangan tetap perlu dipantau karena pendataan dari wilayah kepulauan dapat membutuhkan waktu, terutama untuk menjangkau pulau dan permukiman yang berjauhan.
Monitoring awal BMKG juga belum menunjukkan aktivitas gempa susulan. Meski demikian, perkembangan aktivitas seismik dapat berubah sehingga masyarakat disarankan mengikuti pembaruan dari sumber resmi.
Kepulauan Sangihe berada di kawasan dengan aktivitas tektonik yang kompleks. Letaknya di bagian utara Sulawesi dan berdekatan dengan wilayah Filipina selatan membuat kawasan ini dipengaruhi interaksi struktur tektonik aktif.
Catatan kegempaan pada Juni hingga Juli 2026 memperlihatkan sejumlah gempa bermagnitudo di atas 5 terjadi di sekitar Sangihe dan perairan sekitarnya. Pada 6 Juli, gempa M5,9 tercatat di kawasan tersebut, sedangkan gempa M5,3 juga terjadi pada 25 Juni.
Rangkaian peristiwa itu tidak serta-merta berarti gempa yang satu menjadi penyebab gempa lainnya. Setiap kejadian harus dianalisis berdasarkan lokasi sumber, kedalaman, dan mekanisme patahannya.
Bagi masyarakat kepulauan, memahami perbedaan magnitudo, intensitas MMI, dan peringatan tsunami merupakan bagian dari literasi mitigasi bencana.
Magnitudo menjelaskan besarnya energi gempa, sedangkan MMI menggambarkan tingkat getaran dan dampak yang dirasakan pada suatu tempat.
Sementara itu, potensi tsunami ditentukan melalui analisis sumber gempa dan pemodelan. Karena itu, gempa yang terasa kuat tidak selalu memicu tsunami, sebagaimana gempa M5,6 Sangihe pada Sabtu sore.
Namun, masyarakat pesisir tetap perlu mengenali tanda alam dan jalur evakuasi di lingkungannya. Dalam situasi gempa yang sangat kuat atau berlangsung lama, pengetahuan mengenai lokasi dataran tinggi dan rute penyelamatan dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk bergerak ketika peringatan resmi dikeluarkan.
Literasi tersebut semakin penting bagi wilayah yang terdiri atas pulau-pulau. Akses informasi, kondisi jaringan komunikasi, dan jarak antardaerah dapat memengaruhi kecepatan penyampaian kabar saat terjadi bencana.
Gempa M5,6 Sangihe kali ini tidak memicu tsunami. Informasi BMKG memberi kepastian bagi masyarakat pesisir, sementara data intensitas menunjukkan guncangan sempat terasa cukup kuat terutama di Marore dan Kendahe.
Bagi warga di kawasan rawan gempa, kesiapsiagaan tidak berhenti ketika guncangan mereda. Memeriksa bangunan, mengenali jalur evakuasi, dan mengikuti informasi resmi menjadi bekal praktis untuk hidup berdampingan dengan aktivitas tektonik di kawasan kepulauan utara Sulawesi.
