Senin, 13 July 2026 01:00 UTC

Presiden Prabowo Subianto berpidato Hari Koperasi Nasional ke-79 di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno , Minggu, 12 Juli 2026. Foto: Youtube Setpres RI
JATIMNET.COM, Jakarta – Pemerintah menargetkan Indonesia mampu menghasilkan bensin berbasis tanaman dalam tiga hingga empat tahun mendatang untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.
Rencana tersebut akan membutuhkan produksi etanol dalam skala besar sekaligus memperluas kebutuhan bahan baku pertanian seperti tebu, singkong, jagung, dan sorgum.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan target itu saat puncak peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu, 12 Juli 2026.
Pemerintah saat ini mengembangkan bensin berbasis kelapa sawit dan etanol dari sejumlah tanaman sebagai bagian dari kebijakan swasembada energi. Jika produksi diperluas, kebijakan tersebut juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian dan industri gula di Jawa Timur.
“Saya harap dalam tiga sampai empat tahun lagi kita nanti juga bisa menghasilkan bensin dari tanaman,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, peneliti di Indonesia tengah mengembangkan bensin dari kelapa sawit. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan etanol yang dapat diproduksi dari singkong, jagung, sorgum dan komoditas pertanian lainnya.
Pengembangan bahan bakar nabati itu diarahkan untuk mengurangi kebutuhan energi dari luar negeri. Prabowo menilai peningkatan penggunaan tanaman sebagai sumber energi juga dapat menciptakan permintaan baru terhadap hasil pertanian.
“Berarti petani singkong akan hidup makmur. Petani jagung akan hidup makmur. Petani-petani di seluruh Indonesia akan berbuat
yang terbaik untuk bangsa dan untuk keluarganya sendiri,” ujarnya.
Target tersebut disampaikan setelah pemerintah meluncurkan mandatori biodiesel B50. Program itu menggunakan campuran 50 persen bahan bakar berbasis minyak kelapa sawit pada solar.
Prabowo menyatakan penerapan B50 memungkinkan Indonesia menghentikan impor solar mulai Juli 2026. Pemerintah kemudian mengarahkan pengembangan bahan bakar nabati ke jenis bensin yang konsumsi nasionalnya masih jauh melampaui kapasitas produksi dalam negeri.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat kebutuhan bensin Indonesia mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun. Sementara itu, kapasitas produksi domestik sebelumnya hanya sekitar 14,3 juta kiloliter.
Tambahan produksi sekitar 5,5 juta kiloliter dari Kilang Balikpapan telah meningkatkan kemampuan pasokan nasional. Namun, Kementerian ESDM memperkirakan Indonesia masih harus mengimpor sekitar 20 juta kiloliter bensin setiap tahun.
Besarnya kebutuhan impor menjadi salah satu alasan pemerintah menyiapkan program E20. Kebijakan tersebut akan mencampurkan bensin dengan 20 persen etanol yang diproduksi dari bahan baku dalam negeri.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan penerapan E20 membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter etanol per tahun. Jumlah tersebut dihitung berdasarkan konsumsi bensin nasional sekitar 40 juta kiloliter.
“Untuk mengurangi impor yang tersisa 20 juta kiloliter maka kita akan menerapkan Program E20,” kata Bahlil.
Pemerintah merencanakan bahan baku etanol berasal dari tebu, singkong, dan jagung. Negara juga disiapkan menjadi pembeli produksi etanol untuk memberikan kepastian penyerapan hasil produksi petani dan industri pengolahan.
Kebutuhan 4 juta kiloliter etanol menunjukkan program bensin berbasis tanaman memerlukan peningkatan kapasitas produksi dalam jumlah besar.
Selain ketersediaan tanaman, pemerintah harus menyiapkan fasilitas pengolahan, penyimpanan, pencampuran hingga distribusi bahan bakar.
Bahlil juga meminta perguruan tinggi terlibat dalam pengembangan teknologi pengolahan komoditas lokal. Kolaborasi riset diperlukan agar teknologi yang dikembangkan di laboratorium dapat digunakan dalam produksi etanol skala industri.
Bagi Jawa Timur, kebijakan tersebut berhubungan langsung dengan industri tebu dan pengembangan bioetanol yang telah berjalan di daerah ini. Laporan Kinerja Direktorat Jenderal EBTKE mencatat bioetanol untuk produk bensin campuran E5 pernah dipasok dari fasilitas PT Energi Agro Nusantara di Mojokerto.
Bioetanol tersebut digunakan dalam produk Pertamax Green 95 yang mencampurkan bensin dengan 5 persen etanol. Pada tahap awal pemasaran, produk itu didistribusikan melalui 10 SPBU di Surabaya dan lima SPBU di Jakarta sejak pertengahan 2023.
Pengalaman tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai salah satu daerah yang telah masuk dalam rantai produksi dan pemasaran bioetanol untuk kendaraan.
Pengembangan E20 dapat meningkatkan kebutuhan terhadap fasilitas produksi dan bahan baku apabila pemerintah memperluas pencampuran etanol secara nasional.
Namun, peningkatan kebutuhan bahan baku juga membutuhkan pengaturan produksi pertanian. Tebu, singkong dan jagung tidak hanya digunakan untuk energi, tetapi juga menjadi bahan pangan maupun bahan baku industri.
Pemerintah karena itu perlu memastikan peningkatan permintaan dari sektor energi diikuti kenaikan produksi dan produktivitas tanaman. Tanpa tambahan produksi, persaingan penggunaan bahan baku dapat memengaruhi harga komoditas dan biaya produksi industri lainnya.
Kesiapan industri pengolahan juga menjadi faktor penting. Target E20 membutuhkan pasokan bioetanol murni sekitar 4 juta kiloliter setiap tahun, jauh lebih besar dibanding kebutuhan pada program E5 yang telah dipasarkan secara terbatas.
Kementerian ESDM sebelumnya telah melakukan uji pencampuran bioetanol dengan bensin, termasuk uji jalan hingga 15 ribu kilometer. Hasil pengujian tersebut menjadi dasar pengembangan bensin RON 95 dengan campuran bioetanol 5 persen.
Pemerintah kemudian menargetkan peningkatan campuran etanol menuju E10 hingga E20. Pada Oktober 2025, Bahlil menyatakan pengembangan bensin dengan campuran etanol 10 hingga 20 persen diarahkan mulai 2027 sebagai bagian dari upaya memperbesar penggunaan energi nabati.
Target Prabowo menghasilkan bensin dari tanaman dalam tiga hingga empat tahun kini mempertegas arah kebijakan tersebut. Pemerintah tidak hanya harus memastikan teknologi tersedia, tetapi juga meningkatkan produksi etanol dan menjamin pasokan tanaman dalam jumlah berkelanjutan.
Bagi Jawa Timur, peningkatan penggunaan bioetanol dapat memperluas kebutuhan tebu dan industri pengolahannya. Perkembangan program E20 selanjutnya akan menentukan besarnya tambahan permintaan bahan baku serta investasi fasilitas bioetanol di daerah penghasil tanaman energi.
Pemerintah saat ini masih menyiapkan pengembangan produksi etanol dan pola penyerapan hasil petani. Jika kapasitas produksi dapat memenuhi kebutuhan nasional, bensin berbasis tanaman diproyeksikan menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mengurangi impor BBM sekaligus memperbesar pasar komoditas pertanian dalam negeri.
