Logo

Liburan di Bromo, Wisatawan Juga Bisa Wisata Budaya Rumah Adat Suku Tengger

Reporter:,Editor:

Kamis, 28 May 2026 12:07 UTC

Liburan di Bromo, Wisatawan Juga Bisa Wisata Budaya Rumah Adat Suku Tengger

Wisata Rumah Adat Suku Tengger di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Foto: Zulafif

JATIMNET.COM, Probolinggo – Libur panjang Hari Raya Iduladha dimanfaatkan wisatawan untuk berkunjung ke kawasan Gunung Bromo. Tidak hanya menikmati panorama alam dan lautan pasir, wisatawan kini mulai melirik wisata budaya dengan mendatangi rumah adat milik masyarakat Suku Tengger di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Deretan rumah kayu khas Tengger masih berdiri di sepanjang jalur menuju kawasan wisata Bromo. Warga setempat tetap mempertahankan rumah-rumah tersebut sebagai warisan budaya leluhur yang terus dijaga hingga sekarang.

Salah satu rumah adat yang masih kokoh berdiri merupakan milik Suhartina (89). Rumah tersebut diperkirakan telah berusia lebih dari 200 tahun dan sebagian besar bangunannya masih menggunakan material kayu asli.

“Rumah ini warisan dari leluhur suami saya. Sudah sangat lama, mungkin lebih dari 200 tahun. Dulu semuanya terbuat dari kayu,” kata Suhartina, Kamis, 28 Mei 2026.

Rumah kayu khas Suku Tengger di Bromo tetap lestari dan ramai dikunjungi wisatawan. Foto: Zulafif

Meski beberapa kali direnovasi akibat faktor usia dan cuaca ekstrem, bentuk utama bangunan tetap dipertahankan. Saat erupsi Gunung Bromo pada 2010 lalu, bagian atap rumah bahkan sempat rusak akibat tertimbun abu vulkanik dan pasir.

“Waktu erupsi Bromo, atap rumah sempat rusak terkena abu dan pasir. Setelah itu diperbaiki supaya tetap bisa ditempati,” ujarnya.

Menurut Suhartina, masyarakat Tengger berupaya menjaga bentuk asli rumah adat agar tidak hilang tergerus modernisasi. Tiang kayu, susunan ruang, hingga dapur tradisional masih dipertahankan seperti bentuk awalnya.

“Kami tetap mempertahankan bentuk aslinya. Ruangan dan tiang kayunya tidak diubah,” imbuhnya.

Rumah adat Tengger memiliki tiga bagian utama, yakni padhayohan sebagai ruang tamu, peturon untuk kamar tidur, serta pawon atau dapur yang juga menjadi tempat berkumpul keluarga saat suhu dingin menyelimuti kawasan pegunungan.

Rumah adat Tengger berusia ratusan tahun di Desa Ngadisari menarik perhatian wisatawan. Foto: Zulafif

“Kalau malam dinginnya luar biasa, jadi biasanya keluarga berkumpul di pawon sambil menghangatkan badan,” jelasnya.

Ia menambahkan, masyarakat Tengger memiliki cara tradisional untuk merawat rumah kayu agar tetap kuat dan tahan lama. Dahulu, dinding rumah dicat menggunakan kapur sebelum akhirnya beralih memakai cat biasa.

“Kalau dulu dicat pakai kapur, sekarang sudah menggunakan cat. Warnanya biasanya putih dan biru,” ungkap Suhartina.

Keberadaan rumah adat Tengger kini menjadi salah satu destinasi alternatif wisata budaya bagi wisatawan yang datang ke Bromo saat musim libur panjang. Banyak pengunjung sengaja mendatangi perkampungan warga untuk melihat langsung kehidupan dan budaya masyarakat Tengger yang masih lestari.

Selain mempertahankan rumah adat, masyarakat Tengger juga dikenal menjaga nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun.