Selasa, 16 June 2026 10:51 UTC

Gunungan tumpeng ikan nila dengan total berat 300 kilogram menjadi daya tarik tersendiri dalam Larungan Telaga Ngebel. Foto: Gayuh Satria Wicaksono
JATIMNET.COM, Ponorogo – Perayaan Larungan Telaga Ngebel di Kabupaten Ponorogo pada Selasa, 16 Juni 2026 menghadirkan daya tarik baru yang langsung mencuri perhatian ribuan pengunjung. Dalam prosesi budaya tahunan tersebut, panitia menampilkan tumpeng raksasa berbahan dasar ikan nila dengan bobot lebih dari 300 kilogram.
Keberadaan tumpeng ikan nila menjadi magnet utama bagi masyarakat yang memadati area acara. Bentuknya yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya membuat banyak warga penasaran, ditambah ukuran ikan yang mencapai sekitar 500 gram per ekor sehingga semakin menarik untuk diperebutkan.
Selain tumpeng ikan nila, panitia juga menyiapkan total 22 tumpeng dalam prosesi Larungan Telaga Ngebel tahun ini. Warga yang sejak pagi memadati tepian telaga tampak antusias menunggu kirab tumpeng dan gunungan hasil bumi sebelum ikut berebut isinya.
Tradisi tahunan tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi dan rezeki yang diperoleh selama setahun terakhir. Selain itu, larungan juga menjadi sarana untuk memanjatkan doa agar masyarakat diberikan keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan di tahun yang baru.
BACA: Ribuan Warga Serbu Kirab Pusaka Grebeg Suro Ponorogo, Berebut Air Jamasan dan Gunungan Hasil Bumi
Tingginya antusiasme warga membuat 21 tumpeng yang disediakan di lokasi acara ludes diperebutkan masyarakat. Tumpeng ikan nila yang menjadi ikon baru Larungan Telaga Ngebel pun tidak luput dari serbuan warga yang ingin mendapatkan bagiannya.
Sementara itu, satu tumpeng lainnya yang menjadi ikon Larungan Telaga Ngebel, yakni tumpeng beras merah, dilarung ke tengah telaga. Prosesi tersebut dilakukan sebagai simbol berbagi berkah dengan makhluk hidup yang berada di dalam telaga dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam.
“Larungan di Telaga Ngebel ini merupakan tradisi yang sangat luar biasa. Setiap tahunnya kami mengadakan larungan di Telaga Ngebel. Ini bagian dari nguri-nguri budaya sekaligus menjadi destinasi wisata yang sangat luar biasa,” kata Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita.
Menurut Lisdyarita, tingginya minat masyarakat menunjukkan bahwa tradisi budaya tetap memiliki daya tarik yang kuat di tengah perkembangan zaman. Bahkan, prosesi tahun ini juga menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah hingga luar negeri.
“Yang spesial kali ini ada tumpeng serba ikan dan juga durian. Itu benar-benar kreativitas masyarakat Ponorogo. Semuanya ingin bersama-sama menyengkuyung acara Grebeg Suro sebagai bentuk rasa syukur,” ungkap Lisdyarita.
BACA: Melihat Methik Pari di Ponorogo, Warisan Budaya yang Sarat Nilai Filosofis
Ia berharap tradisi Larungan Telaga Ngebel terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi juga berperan dalam menggerakkan sektor pariwisata serta meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.
“Ini salah satu bentuk kesyukuran kami. Melalui larungan ini kita berdoa semoga masyarakat Ponorogo, khususnya di Ngebel, diberikan kesehatan, kemakmuran, kedamaian, kesejahteraan, dan dijauhkan dari segala macam bahaya,” pungkas Lisdyarita.
