Logo

Melihat Methik Pari di Ponorogo, Warisan Budaya yang Sarat Nilai Filosofis

Reporter:,Editor:

Kamis, 30 April 2026 12:00 UTC

Melihat Methik Pari di Ponorogo, Warisan Budaya yang Sarat Nilai Filosofis

Suasana pelaksanaan tradisi methik pari di areal persawahan Desa Glinggang, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Kamis, 30 April 2026. Foto: Satria

JATIMNET.COM, Ponorogo – Tradisi methik pari atau memetik padi saat memasuki musim panen masih lestari di Desa Glinggang, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo.

Dalam pelaksanaannya, warga yang mayoritas dari kalangan petani mengarak ratusan tumpeng dari balai desa ke areal persawahan desa tersebut. Lantas, meletakannya pada titik yang diyakini menjadi tangga bidadari yang digunakan Dewi Sri untuk turun dari kahyangan ke bumi.

Ketika Dewi Sri yang menjadi simbol kesuburan itu turun di kawasan tersebut, maka keberkahan akan datang.

Nilai kearifan lokal semakin terasa saat sejumlah warga memerankan tokoh masa lalu. Dengan mengenakan pakaian tradisional, mereka turut mengarak tumpeng hingga ke areal persawahan. Mereka juga menari.

"Filosofinya adalah wujud syukur dan harapan agar hasil panen padi melimpah dan membawa berkah bagi warga,” ujar Rianto, tokoh masyarakat Desa Glinggang di sela methik pari, Kamis, 30 April 2026.

BACA: 83 Hektare Lahan Padi di Ponorogo Terendam Air Banjir Terancam Puso 

Untuk mewujudkan harapan itu, para petani juga melakukan budidaya padi dengan baik. Mulai dari proses pembibitan, penanaman, pemberian pupuk, perawatan tanaman, hingga memenuhi irigasi pagi komoditas yang dibudiayakan.

Selain usaha secara kasat mata, mereka juga menanjatkan doa kepada Tuhan sesuai dengan keyakinan masing-masing. Dalam tradisi methik pari, doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh pun dilangsungkan.   

Setelah semua yang hadir memanjatkan doa, tumpeng berisi nasi, sayur, dan lauk-pauk itu disantap bersama di antara bulir padi yang siap dipanen.

Tidak hanya itu, iringan penari yang menjadi Dewi Sri atau kesuburan dan kemakmuran juga ditampilkan dalam pelaksanaan tradisi methik pari kali ini.   

BACA: Ratusan Hektar Sawah Terendam Banjir, Kualitas Padi di Madiun Diprediksi Menurun

Rianto, menjelaskan bahwa tradisi methik tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga memiliki makna mendalam bagi kehidupan masyarakat.

“Tradisi ini mengandung nilai kebersamaan, rasa hormat kepada alam, serta pengingat agar manusia selalu bersyukur atas apa yang diperoleh,” ungkapnya.

Tradisi methik pari yang masih lestari merupakan salah satu indikator tingginya produktivitas petani di Ponorogo. Bahkan, Plt Bupati Lisdyarita menyebut, Kota Reyog tersebut berhasil menampati peringkat 10 besar daerah penghasil padi tertinggi di Jawa Timur.

"Ini kebanggaan kita semua. Namun, kita jangan lengah. Meski panen saat ini sangat baik, kita tetap mewaspadai fenomena El Nino yang diprediksi akan datang," ujar Lisdyarita saat hadir dalam tradisi methik pari di Desa Glinggang.

Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Ponorogo telah menyiapkan skema mitigasi. Mulai dari bantuan perpompaan hingga alat mesin pertanian (alsintan) untuk memastikan lahan tetap produktif meski cuaca ekstrem mengancam.