Sabtu, 21 March 2026 00:14 UTC

Ilustrasi ketupat. Foto: Pixabay/Hartono
JATIMNET.COM — Tradisi Lebaran di Jawa Timur tak berhenti pada 1 Syawal. Sepekan setelah Hari Raya Idulfitri, masyarakat di berbagai daerah seperti Madura, Lamongan, hingga Gresik masih melanjutkan perayaan melalui tradisi Kupatan atau Lebaran Ketupat.
Kupatan biasanya digelar pada hari ketujuh atau kedelapan bulan Syawal, setelah umat Muslim menuntaskan puasa sunnah enam hari. Momentum ini menjadi penutup rangkaian ibadah Ramadan sekaligus ajang mempererat silaturahmi antarwarga.
Dalam praktiknya, masyarakat akan membuat ketupat, lalu membagikannya kepada tetangga, kerabat, hingga tamu yang datang. Di beberapa daerah seperti Lamongan dan Gresik, tradisi ini bahkan dirayakan secara meriah dengan arak-arakan hingga doa bersama.
Filosofi “Ngaku Lepat”
Lebih dari sekadar tradisi kuliner, Kupatan menyimpan filosofi mendalam. Kata “ketupat” atau “kupat” dalam bahasa Jawa diyakini berasal dari frasa “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan.
Dikutip dari NU Online, makna ini mencerminkan esensi Idulfitri, yakni saling memaafkan dan kembali ke fitrah. Dengan menyantap ketupat bersama, masyarakat seolah menegaskan komitmen untuk membersihkan diri dari kesalahan masa lalu.
BACA: Penumpang Bandara Juanda Tembus 266 Ribu, Arus Mudik Lebaran 2026 Mulai Meningkat
Selain itu, dalam kajian budaya Jawa, ketupat juga dimaknai sebagai simbol kompleksitas kesalahan manusia. Anyaman janur yang rumit melambangkan dosa, sementara isi ketupat yang putih mencerminkan kesucian setelah memohon ampun.
Harul Maarif dalam jurnal yang diterbikan IAIN Kediri menulis, bahwa tradisi Kupatan merupakan bentuk akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal Jawa, yang menekankan nilai kesucian, harmoni sosial, dan silaturahmi.
Lebaran Ketupat dan Nilai Sosial
Tradisi Kupatan tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga sosial. Dalam pelaksanaannya, masyarakat biasanya membuka rumah untuk tamu, menyajikan hidangan, serta berbagi makanan.
Kupatan disebut sebagai tradisi yang melestarikan nilai sedekah, memperkuat silaturahmi, dan memuliakan tamu.
Nilai kebersamaan ini sangat terasa di desa-desa Jawa Timur. Warga saling mengunjungi, membawa ketupat, dan berbagi cerita setelah menjalani bulan Ramadan. Tradisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Idulfitri bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga relasi sosial.
Sebaran Tradisi di Jawa Timur
Di Jawa Timur, tradisi Kupatan memiliki variasi unik di tiap daerah. Di Madura, tradisi ini dikenal sebagai bagian dari “toron” atau momen pulang kampung yang sarat nilai kekeluargaan.
Sementara di Lamongan dan Gresik, Kupatan sering dikemas dalam bentuk festival rakyat, lengkap dengan kirab ketupat dan doa bersama. Bahkan di beberapa wilayah, ketupat digantung sebagai simbol harapan akan keberkahan dan keselamatan.
BACA: Sungai Meluap di Kutorejo Mojokerto, Rumah Warga dan Jalan Tergenang Jelang Lebaran
Keberagaman ini menunjukkan bahwa Kupatan bukan sekadar ritual, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa Timur yang terus diwariskan lintas generasi.
Tradisi yang Tetap Relevan
Di tengah modernisasi, tradisi Kupatan masih bertahan karena mampu beradaptasi dengan zaman. Nilai yang diusung—maaf, kesucian, dan kebersamaan—tetap relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Kupatan menjadi pengingat bahwa setelah menjalani Ramadan, manusia tidak hanya kembali suci secara spiritual, tetapi juga harus memperbaiki hubungan sosial.
