Kamis, 12 February 2026 09:00 UTC

Ratusan warga Desa/Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto berebut gunungan hasil bumi dalam tradisi Ruwah Desa yang digelar, Kamis, 12 Februari 2026. Foto: Hasan.
JATIMNET.COM, Mojokerto - Ratusan warga tumplek blek di makam Mbah Suro Hadilogo, sesepuh Desa/Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Kamis, 12 Februari 2026.
Mereka mengikuti tradisi tahunan Ruwah Desa sebagai wujud syukur atas limpahan rezeki dan keselamatan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.
Ruwah Desa yang kali ini mengusung tema "Gemah Ripah Lohjinawi Kerto Tentrem Raharjo' diawali dengan dengan doa bersama di makam Mbah Suro Hadilogo.
Mereka yang telah berkumpul sejak pagi hari turut memanjatkan doa untuk para leluhur yang telah mendahului. Tak ketinggalan, mereka juga memohon keberkahan bagi desa agar senantiasa diberi ketenteraman dan kemakmuran.
Usai prosesi doa bersama, ratusan warga mengikuti arak-arakan pawai gunungan yang berisi aneka hasil bumi. Mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, snack, hingga gerabah plastik.
Suasana semakin semarak ketika warga mulai berebut isi gunungan yang telah disiapkan sebagai simbol sedekah bumi.
BACA: Makna Bersih Rupang dan Tradisi Vegetarian di Klenteng Sumber Naga Probolinggo
Salah satu warga yang ikut dalam kegiatan tersebut, Farah Dwi Azizah mengaku antusias mengikuti tradisi tahunan ini bersama para tetangganya.
"Dapat sayur-sayuran, gerabah buah-buahan juga. Rencananya ya buat kebutuhan sehari-hari dan dimasak," ungkapnya.
Ia juga menyebut keikutsertaannya dalam rebutan gunungan bukan sekadar ingin mendapat hasil bumi. Namun, juga mengharap berkah dari Ruwah Desa yang berlangsung. "Ya mencari keberkahan karena ini sedekah bumi," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pacet Yadi Mustofa menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan bagian dari budaya ruwahan yang telah diwariskan nenek moyang terdahulu secara turun-temurun.
"Sedekah bumi ini adalah tradisi ruwahan untuk mendoakan arwah leluhur yang mendahului kita," terangnya.
BACA: Tradisi Ayam Sap-Sap Pikat Wisatawan Pasir Putih Situbondo
Menurutnya, kemeriahan yang terlihat dalam kegiatan tersebut menjadi gambaran kebahagiaan masyarakat dalam merayakan tradisi.
"Jadi gebyar kegiatan acara ini bagian dari sebuah kegembiraan masyarakat kami untuk mengungkapkan rasa syukur sebagai anak bangsa," katanya.
Ia juga menegaskan bahwa prosesi rebutan hasil bumi bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan memiliki makna kebersamaan dan sedekah.
"Itu simbolnya bagian dari sedekah dan kegembiraan yang mereka kumpulkan untuk kebersamaan," pungkasnya.
Usai mengikuti arak-arakan hasil bumi, warga berkumpul untuk menggelar istigasah bersama mendoakan para leluhur yang telah mendahului.
