Senin, 15 June 2026 11:11 UTC

Lima pusaka bersejarah Kabupaten Ponorogo dikirab dari Makam Batoro Katong menuju Alun-alun Ponorogo sebagai bagian dari perayaan Grebeg Suro. Foto: Istimewa/Pemkab Ponorogo
JATIMNET.COM, Ponorogo – Ribuan warga memadati sepanjang rute kirab pusaka dari kawasan Makam Batoro Katong menuju Alun-alun Ponorogo, Senin, 15 Juni 2026. Mereka antusias menyaksikan salah satu rangkaian utama Grebeg Suro yang digelar menjelang peringatan Malam Satu Suro atau Tahun Baru Islam.
Sejak prosesi dimulai, masyarakat berjejer di sepanjang jalur kirab untuk melihat langsung iring-iringan pusaka yang menjadi simbol penting dalam sejarah Kabupaten Ponorogo. Keramaian semakin terasa ketika rombongan kirab tiba di Alun-alun Ponorogo sebagai titik akhir prosesi.
Kirab pusaka tidak sekadar menjadi atraksi budaya tahunan. Tradisi tersebut menyimpan makna historis yang erat kaitannya dengan perjalanan pemerintahan Ponorogo. Prosesi itu melambangkan perpindahan pusat pemerintahan dari kawasan Kota Lama menuju pusat pemerintahan yang kini berada di Kota Tengah.
Setelah kirab berakhir, perhatian masyarakat langsung tertuju pada dua tradisi yang selalu dinantikan setiap pelaksanaan Grebeg Suro, yakni jamasan pusaka dan porak gunungan hasil bumi. Warga berbondong-bondong mendekati lokasi kegiatan untuk mendapatkan air bekas jamasan maupun hasil bumi yang tersusun dalam bentuk gunungan.
BACA: UAS Sebut Gontor Berhasil Cetak Generasi Berilmu dan Berakhlak
Dalam prosesi tersebut, panitia mengirab lima pusaka peninggalan bersejarah, yakni Angkin Cinde Puspito, Payung Kiai Tunggul Wulung, Tombak Kanjeng Kiai Tunggul Nogo, Keris Kiai Pamong Angon Geni, serta Tombak Kiai Bromo Geni. Kelima pusaka itu menjadi bagian penting dari jejak sejarah dan identitas Kabupaten Ponorogo.
Kepercayaan masyarakat terhadap nilai keberkahan yang terkandung dalam tradisi tersebut masih terjaga hingga kini. Banyak warga sengaja membawa botol maupun wadah khusus untuk menampung air bekas jamasan pusaka. Sementara itu, hasil bumi yang disusun menjadi gunungan dipercaya melambangkan kemakmuran dan harapan akan rezeki yang berlimpah.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menegaskan bahwa kirab pusaka dan jamasan bukan sekadar ritual budaya, melainkan media untuk mengenang sejarah sekaligus menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.
“Kirab pusaka ini merupakan bagian dari sejarah perjalanan Kabupaten Ponorogo. Melalui kegiatan ini, kita ingin mengingat jasa para leluhur sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap dikenal dan dicintai oleh generasi penerus,” ujar Lisdyarita.
BACA: WN Malaysia Dideportasi Usai Jalani Hukuman Pelanggaran Keimigrasian
Menurutnya, tingginya partisipasi masyarakat membuktikan bahwa Grebeg Suro tetap memiliki daya tarik kuat di tengah arus modernisasi. Antusiasme warga yang memadati jalur kirab menunjukkan bahwa tradisi lokal masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Ponorogo.
Lisdyarita juga berharap rangkaian Grebeg Suro dapat memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata daerah. Berbagai agenda budaya yang rutin digelar setiap tahun dinilai mampu menarik wisatawan untuk datang sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan tradisi dan budaya Ponorogo.
Tradisi berebut air jamasan pusaka serta gunungan hasil bumi kembali menjadi penanda kuat bahwa nilai sejarah, budaya, dan kepercayaan masyarakat masih terpelihara dengan baik. Melalui perayaan Malam Satu Suro, warga tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga memperkuat identitas budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bumi Reog selama bertahun-tahun.
