Logo

Dari Bejijong Mojokerto, Rasa Telur Asin Asap Ini Menyebar ke Luar Kota

Reporter:,Editor:

Senin, 09 March 2026 05:00 UTC

Dari Bejijong Mojokerto, Rasa Telur Asin Asap Ini Menyebar ke Luar Kota

Proses pengasapan telur asin asap “Astrow nagihi” Bejijong, Trowulan, Mojokerto, Senin, 9 Maret 2026. Foto : RR/magang

JATIMNET.COM, Mojokerto – Telur bebek yang diasinkan kini semakin banyak dikembangkan oleh para pelaku usaha kuliner. Perpaduan rasa asin, gurih, serta tekstur daging yang sedikit kenyal menghadirkan sensasi tersendiri saat disantap.

Selain dimakan langsung, telur asin juga kerap dipadukan dengan berbagai bumbu pelengkap. Meski demikian, cita rasa khas telur asin tetap menjadi daya tarik utama yang memanjakan lidah.

Seiring berjalannya waktu, kreasi telur asin pun terus bermunculan. Salah satunya telur asin asap yang dikembangkan oleh Edi Purnomo, warga Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Produk inovatif tersebut ia beri label Astrow Nagihi.

Hampir setiap hari, kepulan asap beraroma khas terlihat keluar dari ventilasi rumahnya. Di balik asap tipis yang mengepul dari dapur itu, tersimpan kisah ketekunan dan inovasi seorang pengusaha lokal.

Di tengah maraknya telur asin biasa yang hanya mengandalkan rasa asin dengan kuning telur berminyak, Edi memilih jalur berbeda. Ia memadukan teknik pengasinan tradisional dengan proses pengasapan yang menghasilkan aroma smoky atau berasap yang khas.

BACA: Menjemput Kenangan di Lorong Waktu, Serunya Berburu Kuliner Lawas di Pasar Giri Biyen

Kisah ini bermula dari keresahan Edi melihat pasar telur asin yang mulai jenuh.

“Awalnya saya hanya ingin membuat telur asin biasa untuk dijual ke tetangga. Tapi rasanya terlalu biasa. Saya ingin ada sesuatu yang membuat orang ingat pada produk ini,” kenang Edi sambil membuka baskom berisi telur yang sedang direndam air garam.

Ia kemudian terinspirasi dari teknik pengasapan makanan yang umum digunakan di beberapa daerah. Namun, metode tersebut dimodifikasi khusus untuk telur asin. Dari proses eksperimen itulah lahir produk yang ia beri nama Astrow Nagihi sebagai identitas unik.

Proses pengasapan dilakukan dengan menggunakan sabut kelapa yang ia dapatkan dari pasar. Selain memberi aroma khas pada telur asin, bahan tersebut juga dipilih karena memiliki nilai ramah lingkungan.

“Saya memilih sabut kelapa dari pasar karena sekaligus membantu mengurangi sampah. Limbah yang biasanya dibakar sembarangan bisa dimanfaatkan untuk proses produksi,” jelasnya.

Meski proses pembuatannya lebih lama dan rumit dibandingkan telur asin biasa, permintaan terhadap Astrow Nagihi justru terus meningkat.

BACA: Pasar Giri Biyen: Kala Rasa Jadul Mengajak Pulang, Ada Cinta dan Kenangan

Pelanggan tidak hanya datang dari warga sekitar Bejijong, tetapi juga dari luar kota yang mencari oleh-oleh khas Trowulan yang berbeda. Keunikan tersebut bahkan menjadi daya tarik wisata kuliner tersendiri.

Tak jarang wisatawan yang berkunjung ke kawasan wisata Bejijong, Trowulan, menyempatkan diri mampir ke rumah produksi Edi untuk melihat langsung proses pembuatan telur asin asap sekaligus membeli Astrow Nagihi sebagai buah tangan.

Di tengah hiruk pikuk desa wisata Bejijong, aroma asap yang mengepul dari dapur Edi Purnomo bukan sekadar bau masakan. Ia menjadi simbol ketekunan seorang pelaku UMKM yang berani berinovasi, mengubah telur asin biasa menjadi cerita rasa yang unik dan tak terlupakan melalui Astrow Nagihi. (RR/Magang)