Logo

Menjemput Kenangan di Lorong Waktu, Serunya Berburu Kuliner Lawas di Pasar Giri Biyen

Reporter:,Editor:

Minggu, 18 January 2026 08:00 UTC

Menjemput Kenangan di Lorong Waktu, Serunya Berburu Kuliner Lawas di Pasar Giri Biyen

Gerbang baru Pasar Panganan Giri Biyen di RT 14 Kajen Tengah Giri menyambut pengunjung yang cukup membludak. Foto: Agus Salim

JATIMNET.COM, Gresik – Suasana riuh tawar-menawar memecah keheningan pagi di Kampung Kajen, Desa Giri, Kabupaten Gresik, Minggu, 18 Januari 2026. Aktivitas jual beli berlangsung sejak pagi hari, menarik perhatian warga yang datang berbondong-bondong.

Namun, suasana pasar ini terasa berbeda. Tidak terdengar bunyi notifikasi dompet digital, apalagi transaksi uang kertas yang berpindah tangan. Pengunjung justru menyaksikan koin logam kuno atau uang gobog beradu di dalam wadah kayu sebagai alat pembayaran.

Dentang uang gobog tersebut menjadi penanda kembalinya tradisi jual beli tempo dulu dalam gelaran Pasar Panganan Giri Biyen Jilid 2. Sebuah pasar tematik yang mengajak masyarakat bernostalgia dan sejenak meninggalkan hiruk-pikuk kehidupan modern.

Begitu memasuki kawasan RT 14–15 Desa Giri, pengunjung langsung disambut nuansa klasik yang kental. Suasana kampung disulap menyerupai pasar tradisional masa lampau dengan balutan konsep sederhana dan alami.

Lapak para pedagang berdiri bersahaja beralas tanah dan anyaman bambu. Tidak ada rak plastik, papan nama modern, atau lampu LED. Seluruh elemen pasar dibuat menyatu dengan lingkungan, menghadirkan kesan hangat dan akrab.

BACA: Pasar Giri Biyen: Kala Rasa Jadul Mengajak Pulang, Ada Cinta dan Kenangan

"Unik sekali. Suasananya benar-benar seperti pasar tradisional zaman dulu. Mulai dari jajanan sampai alat tukar koinnya, semua bikin nostalgia," ujar Keisha, warga Gresik Kota Baru (GKB).

Keisha mengaku sengaja datang bersama keluarga dan rekan-rekannya sejak pagi untuk merasakan pengalaman berbelanja ala masyarakat tempo dulu di Kampung Kajen, Desa Giri.

Antusiasme pengunjung terlihat sangat tinggi. Hanya dalam waktu sekitar dua jam sejak dibuka, ribuan porsi makanan dan minuman yang dijajakan pedagang ludes terjual.

 

Transasksi di Pasar Giri Biyen menggunakan koin logam kuno atau uang gobog yang beradu di dalam wadah kayu. Foto: Agus Salim

 

Pasar ini menjadi ruang rindu bagi masyarakat Gresik akan suasana sederhana dan intim, di tengah ritme kehidupan modern yang serba cepat dan instan.

Pasar Panganan Giri Biyen bukan sekadar tempat transaksi, tetapi juga berfungsi sebagai “museum hidup” kuliner khas Giri yang mulai jarang dijumpai. Nama-nama panganan yang asing bagi generasi muda justru menjadi daya tarik utama.

BACA: Perjuangan Ninik, Ibu Tunggal Tiga Anak di Mojokerto Bertahan Hidup sebagai Badut Doraemon

Beragam makanan tradisional disajikan, mulai Awuk-Awuk Sagu, Gembos, Iwel-Iwel, hingga Kupat Keteg. Untuk menu berat, pengunjung bisa mencicipi Sego Dodo Pyok, Lontong Roomo, hingga Gule Obos yang legendaris.

Sementara itu, minuman tradisional seperti Es Luwo, Es Serbat, dan Wedang Pokak berbahan jahe menjadi pelepas dahaga sekaligus penghangat tubuh.

"Jarang sekali ada acara yang khusus menyajikan makanan jadul seperti ini. Ini sangat bagus untuk mengenalkan kembali kekayaan kuliner kita," tambah Farah, pengunjung asal Randuagung, Kebomas.

Kesuksesan Pasar Panganan Giri Biyen tidak lepas dari peran aktif warga setempat. Desa Giri sendiri dikenal sebagai kawasan bersejarah yang pernah menjadi pusat kerajaan pada masa Sunan Giri.

Kegiatan ini bermula dari gagasan Ketua Tim Penggerak PKK RT 15, yang kemudian berkembang menjadi gerakan kolektif warga RW Kajen bersama komunitas Giri Mbois.

BACA: Geliat Bonsai di Gresik, dari Hobi Jadi Cuan Ratusan Juta

Kepala Desa Giri, Khusnul Falakh, menilai kegiatan tersebut sebagai langkah konkret dalam pengembangan Wisata Giri Kuno (WGK) yang berbasis budaya dan kearifan lokal.

Menurutnya, Pasar Panganan Giri Biyen bukan hanya ajang temu warga, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat dan destinasi kuliner jadul khas Gresik.

"Harapan kami, para pelaku UMKM bisa terus mengembangkan usahanya, tidak hanya saat momen pasar ini saja," ungkap Kades Khusnul.

Ia juga berharap pasar ini menjadi sarana edukasi sejarah yang hidup bagi masyarakat Gresik. Seiring matahari yang kian meninggi dan uang gobog yang telah ditukarkan, Pasar Panganan Giri Biyen pun berakhir.

Meski hanya berlangsung singkat, Pasar Giri Biyen membuktikan bahwa di tengah kehidupan modern, masyarakat tetap menyimpan kerinduan untuk kembali pada tradisi yang sederhana dan penuh kehangatan.