Logo

Perjuangan Ninik, Ibu Tunggal Tiga Anak di Mojokerto Bertahan Hidup sebagai Badut Doraemon

Reporter:,Editor:

Sabtu, 03 January 2026 00:00 UTC

Perjuangan Ninik, Ibu Tunggal Tiga Anak di Mojokerto Bertahan Hidup sebagai Badut Doraemon

Ninik Istyawati, ibu tunggal 3 anak di Mojokerto saat memenuhi order menjadi badut dan menghibur anak-anak. Foto: Hasan

JATIMNET.COM, Mojokerto – Beberapa waktu lalu viral video badut Doraemon yang menghibur seorang ibu lansia pada peringatan Hari Ibu di Mojokerto, tersimpan kisah hidup penuh perjuangan. Sosok di balik kostum tersebut adalah Ninik Istyawati (30), seorang ibu tunggal dengan tiga anak yang berjuang bertahan hidup demi masa depan buah hatinya.

Nama Ninik Istyawati belakangan menjadi perhatian publik setelah video berdurasi 1 menit 25 detik yang menampilkan momen haru dirinya memberi kejutan kepada sang ibu beredar luas di media sosial. Dalam video itu, Ninik menyamar sebagai badut Doraemon dan berpura-pura mengamen di rumah kontrakan ibunya, Rugiati (52), warga Desa Pugeran, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto.

Dengan iringan lagu Selamat Ulang Tahun dari ponsel, Ninik berjoget ringan sambil membawa bungkusan nasi bebek dan pepes tahu—makanan favorit sang ibu. Tanpa sepengetahuan Rugiati, momen tersebut direkam oleh keponakan Ninik dari belakang.

Kejutan itu mencapai puncaknya ketika Ninik membuka kepala kostum Doraemon tepat di hadapan ibunya. Rugiati sontak terkejut sebelum akhirnya memeluk anaknya sambil menangis haru. Video tersebut kemudian viral dan menuai banyak komentar empati dari warganet.

BACA: Video Badut Doraemon Beri Kejutan Ibu di Mojokerto Viral, Kisah di Baliknya Penuh Haru

"Ibu tidak tahu kalau di dalam badut itu saya. Tahunya setelah aku kasih nasi, topeng saya buka, spontan ibu kaget, kemudian saya menangis," kata Ninik saat ditemui wartawan, Jumat, 2 Januari 2025.

Meski viral, Ninik menegaskan bahwa video tersebut tidak dibuat untuk mencari perhatian. Ia hanya ingin berpamitan dan meminta restu kepada ibunya sebelum menambah penghasilan sebagai badut. Momen itu juga ia niatkan sebagai kado sederhana bertepatan dengan peringatan Hari Ibu.

"Alhamdulillah ibu merestui karena dari segi ekonomi sedang terhimpit, mencari tambahan dengan menjadi badut," ujarnya.

 

Ibu Tunggal dengan Tiga Buah Hati

Di balik momen haru tersebut, kehidupan Ninik sehari-hari penuh dengan lika-liku. Ia merupakan ibu tunggal dengan tiga anak yang masih berusia belia. Pendidikan terakhirnya Madrasah Aliyah di Kecamatan Gondang. Anak sulungnya kini mondok dan duduk di kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (MI), anak kedua bersekolah di TK A, sementara anak bungsunya masih berusia 22 bulan.

Sejak berpisah dengan suaminya pada 2024, Ninik harus memikul sendiri tanggung jawab membesarkan dan menyekolahkan ketiga anaknya. Saat ini, ia tinggal bersama ayahnya, Masrukin (57), di Dusun Ponggok, Desa Wonoploso, Kecamatan Gondang.

Kehidupan Ninik telah ditempa ujian sejak kecil. Orang tuanya bercerai ketika ia duduk di bangku kelas 4 SD. Sejak itu, ia tumbuh dalam kondisi keluarga yang terpisah. Sang ibu kini tinggal di rumah kontrakan bersama suami barunya, sementara Ninik memilih tinggal bersama ayahnya.

 

Bertahan Hidup dengan Beragam Pekerjaan

Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Ninik telah mencoba berbagai pekerjaan halal. Ia pernah berjualan ayam geprek, lontong balap, mi nyemek, tempe penyet, hingga rujak cingur ketika memiliki modal. Saat usaha dagang tidak berjalan, ia membuka jasa pijat capek khusus perempuan dan jasa bersih-bersih rumah.

Ia juga sempat bekerja sebagai ojek konvensional demi menambah penghasilan. Namun, pemasukan dari berbagai pekerjaan tersebut belum mampu memberikan kestabilan ekonomi.

Di sisi lain, beban pengeluaran terus berjalan. Ninik masih harus membayar cicilan pinjaman sebesar Rp1.250.000 per bulan hingga September 2026. Selain itu, ia menanggung biaya pondok pesantren anak sulungnya sebesar Rp600.000 per bulan, belum termasuk kebutuhan sekolah dan kebutuhan hidup sehari-hari.

"Saat pengeluaran bersamaan, bayar pinjaman dan biaya anak di pondok, bikin bingung. Ke orang tua saya tak pernah mengeluh. Karena khawatir menjadi beban pikiran mereka," ungkapnya.

 

Menjadi Badut Doraemon

Dalam kondisi ekonomi yang terhimpit, Ninik akhirnya memilih menjadi badut Doraemon. Pekerjaan ini dipilih karena hanya membutuhkan modal awal satu kali, meski penghasilannya tidak menentu.

Ia menegaskan bahwa dirinya tidak mengamen di jalanan. Ninik menerima jasa foto bersama anak-anak di rumah warga, objek wisata, maupun acara ulang tahun.

"Untuk foto dengan anak-anak saya tidak mematok tarif, seikhlasnya saja. Kalau job event saya tarif Rp100.000 untuk 3 jam, mulai Januari nanti Rp150.000 untuk 4 jam," jelasnya.

Modal awal untuk membeli kostum badut diperoleh dari pinjaman sahabat dekat sebesar Rp500.000 yang hingga kini belum sepenuhnya lunas. Meski demikian, Ninik tetap bersyukur karena pekerjaan tersebut memberinya peluang bertahan hidup.

Penghasilannya sebagai badut tidak menentu. Pernah dalam sehari ia hanya membawa pulang Rp27.000, namun di kesempatan lain bisa memperoleh hingga Rp255.500 saat tampil di salah satu objek wisata.

 

Asa di Balik Kostum Lucu

Meski belum mampu sepenuhnya menopang kebutuhan hidup, Ninik memilih bertahan. Baginya, menjadi badut yang lucu bukan sekadar mencari uang, melainkan bentuk ikhtiar agar anak-anaknya kelak dapat memiliki masa depan yang lebih baik.

Ia percaya bahwa setiap usaha yang dijalani dengan niat baik akan selalu menemukan jalannya.

"Pikiran saya satu, hidup supaya manfaat, rezeki ada jalannya karena Allah SWT tidak tidur. Saya ingin anak-anak saya bisa sukses, tidak hidup susah," tandasnya.