Senin, 16 February 2026 13:00 UTC

Para santri dan masyarakat di sekitar Pondok Pesantren Mahfilud Duror, Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Jember sedang khusyuk mengikuti salat tarawih pada Senin malam, 16 Februari 2026.
JATIMNET.COM, Jember – Ribuan jemaah dan santri di Kabupaten Jember, Jawa Timur, memulai ibadah Salat Tarawih dan Puasa Ramadan 1447 Hijriah lebih awal dibandingkan jadwal yang diperkirakan pemerintah maupun Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Mereka menggelar Salat Tarawih pada Senin malam, 16 Februari 2026, dan menjalankan puasa hari pertama pada Selasa, 17 Februari 2026. Pusat pelaksanaan ibadah berada di Pondok Pesantren Mahfilud Duror, Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Jember.
Desa tersebut terletak persis dengan perbatasan Jember-Bondowoso. Sehingga jamaah juga banyak yang berasal dari Bondowoso.
Sejak selepas Magrib, ratusan jemaah mulai berdatangan ke kompleks pesantren. Mereka memadati musala dan halaman sekitar untuk mengikuti Salat Tarawih yang dipimpin langsung oleh pengasuh pesantren, KH Ali Wafa. Suasana khusyuk dan tertib menyertai pelaksanaan ibadah malam pertama Ramadan tersebut.
“Untuk satu Ramadan tahun ini saya mengawali pada tanggal 17 Februari 2026, jadi malam ini saya tarawih,” ujar KH Ali Wafa, Senin malam, 16 Februari 2026.
Menurutnya, keputusan tersebut telah disosialisasikan kepada santri, alumni, serta masyarakat sekitar jauh hari sebelumnya. Karena itu, para jemaah sudah bersiap menjalankan puasa lebih awal dibandingkan ketetapan resmi pemerintah.
Di lingkungan pesantren, jumlah jemaah yang mengikuti Tarawih mencapai ratusan orang. Sementara secara keseluruhan, pengikut metode penetapan yang sama diperkirakan mencapai ribuan orang yang tersebar di sejumlah daerah, termasuk para alumni pesantren yang kini menetap di luar Jember.
“Untuk jemaahnya sendiri ya masyarakat sini, juga santri-santri saya. Juga ada dari daerah lain, juga para alumni santri sini,” ujarnya.
Salat Tarawih di pesantren tersebut dilaksanakan sebanyak 23 rakaat. KH Ali Wafa juga memastikan puasa Ramadan akan dijalankan secara sempurna selama 30 hari, berdasarkan perhitungan (hisab).
Sebagai pembanding, Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid sebelumnya memprediksi 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Sementara itu, pemerintah masih menunggu hasil sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan secara resmi.
Sedangkan NU juga masih melakukan hilal yang akan dilakukan pada hari Selasa petang ini, 17 Februari 2026. Namun, diperkirakan awal puasa NU akan sama dengan pemerintah.
Perbedaan penetapan awal Ramadan ini bukan kali pertama terjadi. Namun bagi jemaah di lingkungan pesantren tersebut, pelaksanaan ibadah lebih awal merupakan bagian dari keyakinan terhadap metode hisab yang digunakan.
“Masyarakat di sini sudah terbiasa dengan perbedaan, saling toleransi,” pungkas KH Ali Wafa.
