Selasa, 02 June 2026 08:09 UTC

Sejumlah pekerja proyek pembangunan sekolah rakyat di Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Senin, 1 Juni 2026. Foto: Zainal Abidin
JATIMNET.COM, Sampang – Pembangunan gedung Sekolah Rakyat (SR) di Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, menuai sorotan terkait keterlibatan tenaga kerja lokal. Meski proyek tersebut berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN), sebagian pihak menilai manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat sekitar.
Sorotan itu muncul setelah terungkap bahwa jumlah pekerja lokal yang terlibat dalam proyek masih relatif kecil dibandingkan total tenaga kerja yang bekerja di lokasi pembangunan. Kondisi tersebut dinilai belum sejalan dengan harapan masyarakat terhadap kehadiran proyek berskala nasional.
Berdasarkan data yang dihimpun, proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Sampang melibatkan sekitar 1.015 pekerja. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 150 orang yang berasal dari Kecamatan Camplong, sedangkan sisanya merupakan tenaga kerja dari luar daerah.
Koordinator Jaringan Kawal Pembangunan Jawa Timur, Holil Abdillah, menilai proyek strategis nasional seharusnya mampu membuka peluang kerja yang lebih besar bagi masyarakat setempat.
BACA: Dampak Proyek SR Tuban: Dari Kerusakan Rumah Hingga Hilangnya Nyawa
Menurutnya, pembangunan yang menggunakan anggaran besar tidak hanya bertujuan menghadirkan fasilitas baru, tetapi juga harus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja lokal.
"Proyek pembangunan SR itu menelan anggaran besar. Tapi dalam serapan tenaga kerja, masyarakat setempat belum terlalu terlibat," katanya, Selasa, 2 Juni 2026.
Holil menegaskan bahwa keberhasilan proyek infrastruktur tidak semata-mata diukur dari penyelesaian fisik bangunan. Ia menilai manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat sekitar juga menjadi indikator penting keberhasilan pembangunan.
"Artinya uang pembangunan itu harus bisa berputar di daerah sendiri dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat setempat," kata Holil.
Ia menambahkan, semakin banyak tenaga kerja lokal yang dilibatkan, semakin besar pula dampak ekonomi yang dapat dirasakan warga sekitar proyek.
BACA: Terancam Molor, Proyek Gedung Sekolah Rakyat Sampang Masih 73 Persen
Sementara itu, pihak pelaksana proyek menyatakan keterlibatan pekerja lokal sebenarnya sudah dilakukan. PT Waskita Karya menyebut sekitar 150 warga setempat telah bekerja di proyek sebagai tukang batu maupun helper atau kenek tukang.
Manajer Proyek PT Waskita Karya, Dimas Reza, menjelaskan bahwa kebutuhan tenaga kerja dalam proyek pembangunan Sekolah Rakyat menuntut keterampilan dan kompetensi tertentu. Karena itu, perusahaan harus menyesuaikan proses rekrutmen dengan kebutuhan pekerjaan yang tersedia.
"Kurang lebih 150 orang, kemarin jumlahnya berkurang, banyak yang keluar karena musim tanam tembakau," ungkapnya.
"Pekerjaan seperti ini harus dikerjakan oleh orang-orang yg terampil dengan kualifikasi dan sertifikat keahlian yang sesuai," ujar Dimas.
