Minggu, 12 July 2026 11:39 UTC

Founder Bani Insan Peduli (BIP) Ali Zainal Abidin saat memberikan keterangan di Hotel Elmi Surabaya, Minggu, 12 Juli 2026. Foto: Januar
JATIMNET.COM, Surabaya – Founder atau pendiri Bani Insan Peduli (BIP), Ali Zainal Abidin, menegaskan tetap menghormati pendiri Griya Lansia Malang dan Griya Yatim Sidoarjo, Arief Camra, di tengah polemik penarikan dana bantuan senilai Rp2 miliar yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Ali menegaskan tidak memiliki persoalan pribadi dengan Arief dan justru menganggapnya sebagai sosok yang layak dijadikan tempat belajar dalam mengelola lembaga sosial.
Pernyataan tersebut disampaikan Ali saat memberikan keterangan kepada awak media pada Minggu, 12 Juli 2026, sebagai respons atas viralnya video Arief Camra yang menyinggung penarikan dana bantuan dari BIP.
Ali menjelaskan, sejak awal kedatangannya ke Griya Lansia Malang dilandasi keinginan untuk mempelajari tata kelola lembaga sosial sekaligus berbagi dengan para penghuni panti. Menurutnya, pengalaman Arief dalam merawat lansia dan anak yatim menjadi bekal berharga bagi BIP yang masih terus berkembang.
"Saya pribadi tidak ada masalah apa pun sama Bapak Arif. Tidak ada. Yang ada, ialah saya butuh banyak belajar sama beliau. Saya butuh banyak arahan dari beliau. Beliau itu orang hebat karena tengah sabar mengurus para lansia," kata Ali.
BACA: Polisi Buka Sayembara Rp20 Juta untuk Penangkap Buronan Pembunuhan ASN Bangkalan
Ali mengungkapkan, BIP juga melakukan kunjungan ke sejumlah yayasan sosial lainnya sebagai bagian dari studi banding. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkaya pengalaman sebelum merealisasikan rencana pendirian griya lansia di Pamekasan.
"Saya itu ingin belajar atau study banding karena kedepannya saya rencana akan membuka griya lansia di Pamekasan," tuturnya.
Sebagai lembaga yang masih berkembang, Ali mengakui BIP membutuhkan banyak referensi dari pengelola lembaga sosial yang lebih berpengalaman.
"Kami ini masih butuh banyak belajar. Makanya saya menyebut Pak Arif itu guru saya, sahabat saya, dan saya ingin belajar dari beliau," ujarnya.
Ali berharap polemik yang muncul tidak mengganggu hubungan baik antarlembaga sosial. Ia menginginkan seluruh pihak tetap berkolaborasi dan berlomba-lomba dalam memberikan manfaat bagi masyarakat.
BACA: Bercerai dengan Istri, Pria Ini Tega Menghamili Anak Kandungnya
"Saya mendoakan mudah-mudahan Pak Arif dan saya terus berbuat baik, terus fastabiqul khairat," katanya.
Mengenai kemungkinan bertemu dengan Arief Camra, Ali menyatakan dirinya terbuka untuk berdialog kapan pun apabila Arief memiliki waktu.
"Tidak masalah seluangnya guru saya (Arief Camra.red) saya siap untuk belajar lagi," jelasnya.
Di sisi lain, Arief Camra menyambut baik niat setiap pihak yang ingin berbagi kepada masyarakat. Namun, ia menegaskan dirinya tidak merasa pantas disebut sebagai guru.
"Kalau saya, nyuwun sewu, saya tidak layak dijadikan guru. Saya ini hanya orang biasa," kata Arief.
Arief mengatakan, prioritas utamanya adalah memastikan pelayanan kepada para lansia dan anak yatim tetap berjalan optimal. Karena itu, ia menilai setiap pemberian bantuan sebaiknya disertai penjelasan yang jelas mengenai mekanisme, komitmen, dan ketentuan sejak awal agar tidak memunculkan perbedaan persepsi.
BACA: Damkar Surabaya Soroti Kendala Pemadaman di Kampung Padat, Delapan Hidran Lingkungan Disiagakan
"Kalau mau memberi bantuan, dijelaskan klausulnya di depan. Nanti bantuannya seperti ini, komitmennya begini. Jadi semuanya jelas sejak awal," ujarnya.
Arief berharap semangat membantu sesama tetap menjadi tujuan utama seluruh lembaga sosial. Menurutnya, baik BIP maupun Griya Lansia Malang memiliki misi yang sama, yakni memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya lansia, anak yatim, dan kelompok yang membutuhkan.
"Baik BIP maupun Griya Lansia Malang sama-sama menyampaikan harapan agar kegiatan sosial yang dijalankan masing-masing lembaga dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya lansia, anak yatim, dan kelompok yang membutuhkan," jelas Arief.
