Sabtu, 04 July 2026 07:51 UTC

Sejumlah hidran yang ada di kampung Pulo Wonokromo disiapkan untuk antisipasi kebakaran di perkampungan padat penduduk di Surabaya, Sabtu, 4 Juli 2026. Foto: Januar
JATIMNET.COM, Surabaya – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya -sebelumnya disebut Damkar- meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran di kawasan permukiman padat dengan menyiagakan delapan hidran lingkungan. Keberadaan fasilitas tersebut menjadi solusi untuk mempercepat penyaluran air ketika mobil pemadam tidak dapat mencapai lokasi akibat akses jalan yang sempit.
Kepala Bidang Pemadaman DPKP Kota Surabaya, M. Rokhim, menjelaskan bahwa hidran yang dipasang merupakan jenis hidran kering. Fasilitas itu berfungsi sebagai titik penyambung selang pemadam saat armada hanya bisa berhenti di lokasi yang masih dapat dilalui kendaraan.
"Daerah padat penduduk, sifatnya hidran kering, untuk membantu damkar gelar selang yang digunakan saat mobil pemadam kebakaran tidak sanggup menjangkau ke lokasi kebakaran," kata Rokhim, Sabtu, 4 Juli 2026.
DPKP Surabaya menempatkan delapan hidran lingkungan di sejumlah kawasan padat penduduk, yakni Jalan Kupang Krajan Gang Masjid, Jalan Kupang Krajan Lor II–Kupang Krajan III, Jalan Kaliwaron V, Jalan Ngagel Timur V, Jalan Kebon Dalem V–Kebon Dalem VII, Keputran Kejambon I–Keputran Kejambon II, Jalan Pulowonokromo Wetan Gang I, serta Jalan Jajartunggal Timur III.
BACA: Musim Kemarau, Ancaman Kebakaran Menghantui Warga Surabaya
Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan seluruh hidran tersebut masih dalam kondisi baik dan siap dioperasikan sewaktu-waktu. Beberapa unit berada di dekat fasilitas umum, seperti tempat sampah, namun akses menuju hidran tetap terbuka sehingga tidak menghambat proses penanganan saat terjadi kebakaran.
Di kawasan Kampung Pulowonokromo, misalnya, tersedia sekitar empat hidran lingkungan yang menjadi penunjang penanganan kebakaran di wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi.
"Beberapa kampung padat penduduk ini berbeda-beda tergantung panjang dan mudah diaksesnya dengan kendaraan pemadam kebakaran," jelas Rokhim.
BACA: Akses Gang Sempit hingga Warga Berebut Selang, DPKP Surabaya Ungkap Kendala Pemadaman Kebakaran
Meski demikian, warga menilai jumlah hidran lingkungan masih perlu ditambah agar perlindungan terhadap permukiman padat semakin merata. Warga Wonokromo, Ayu Kartika Sandi, mengatakan hingga kini kampung tempat tinggalnya belum memiliki fasilitas tersebut.
Menurut Ayu, ancaman kebakaran bisa muncul kapan saja akibat berbagai penyebab, mulai dari cuaca ekstrem, korsleting listrik, kelalaian saat memasak, hingga puntung rokok. Karena itu, menurutnya, kesiapsiagaan masyarakat harus terus ditingkatkan.
"Kalau di kampungku hidran tidak ada. Buat urgensi seperti P3K atau antisipasi kebakaran masih kurang," jelasnya.
Ayu juga menekankan pentingnya membangun kesadaran warga dalam mencegah kebakaran sejak dini. Ia menilai kewaspadaan pemilik rumah, semangat gotong royong antarwarga, serta dukungan perangkat lingkungan menjadi faktor penting untuk meminimalkan risiko kebakaran.
BACA: Diduga Karena Puntung Rokok, Rumah Dua Lantai di Jagir Surabaya Ludes Terbakar
"Selain itu, pihak RT dan RW juga sebaiknya menyediakan hidran di kampung-kampung agar kebakaran tidak meluas," ujar Ayu.
Pendapat serupa disampaikan warga Surabaya lainnya, Zainal. Menurutnya, keberadaan hidran di kawasan permukiman padat akan mempercepat penanganan awal ketika kebakaran terjadi sehingga api tidak mudah merambat ke bangunan lain.
"Semakin cepat pasokan air tersedia, semakin besar peluang kebakaran dapat dikendalikan sebelum membesar," jelasnya.
