Sabtu, 04 July 2026 04:00 UTC

Petugas Pemadam kebakaran kota Surabaya memasamkan api yang membakar gudang dikawasan Benowo Surabaya, Jumat, 3 Juli 2026. Foto: Command Center.
JATIMNET.COM, Surabaya – Musim kemarau ekstrem saat ini tidak hanya meningkat potensi kekeringan maupun krisis air bersih di beberapa daerah.
Di Kota Surabaya yang padat penduduk, kebakaran rumah juga patut diwaspadai. Apalagi, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) mencatat lebih 24 kasus kebakaran sepanjang Juni 2026.
Dari puluhan kejadian itu, delapan di antaranya menimpa bangunan perumahan, satu bangunan industri, satu bangunan umum dan perdagangan.
Kemudian, dua kendaraan roda dua, satu kendaraan roda empat, enam kebakaran alang-alang, tiga kebakaran sampah, serta dua objek lainnya.
Kepala Bidang Pemadaman DPKP Kota Surabaya M. Rokhim mengatakan bahwa kondisi cuaca pada musim kemarau menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya kejadian kebakaran, terutama di lahan kosong.
"Jumlahnya agak banyak, separuh lebih dari lahan terbakar baik alang-alang maupun sampah, kemudian selanjutnya rumah atau bangunan," kata Rokhim saat diwawancarai, Sabtu, 4 Juli 2026.
Menurut Rokhim, meningkatnya kejadian kebakaran lahan tidak terlepas dari kondisi cuaca yang memasuki musim kemarau disertai angin yang lebih kencang.
"Iya betul mas, musim kemarau yang membuat ilalang tersebut kering sehingga terjadi gesekan antar ilalang yang membuat api cepat menyala ditambah angin yang kencang," ujarnya saat dikonfirmasi mengenai pengaruh musim kemarau terhadap meningkatnya kebakaran.
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Juni 2026, DPKP telah menangani 118 kejadian kebakaran.
Objek yang paling banyak terbakar adalah rumah atau bangunan perumahan sebanyak 44 kasus, disusul kebakaran sampah sebanyak 18 kejadian, objek lainnya 17 kejadian, serta kebakaran alang-alang 11 kejadian.
Berdasarkan penyebabnya, kebakaran akibat instalasi listrik masih menjadi yang terbanyak dengan 30 kasus. Kemudian, disusul api terbuka sebanyak 23 kasus, sedangkan 65 kejadian lainnya masih dalam proses penyelidikan.
Selama periode tersebut tercatat 16 korban luka-luka dan lima korban meninggal dunia, dengan total kerugian material ditaksir mencapai Rp7,971 miliar.
