JATIMNET.COM, Surabaya – Ilmuwan memperkirakan, sekitar 100 juta hingga 1 miliar burung mati setiap tahunnya di Amerika Serikat, akibat membentur gedung, terutama pencakar langit berbahan kaca dan aluminium.

Dalam sebuah laporan terbaru, para aktivis konservasi menyebut AS, sebagai kota maut bagi mahluk bersayap.

Chicago, dengan struktur gedung berkaca, yang menjadi kota tersibuk di AS selama jalur migrasi burung berlangsung, menjadi kota paling bahaya bagi burung.

Lebih dari 5 miliar burung, dari 250 spesies, terbang melalui “kota angin” setiap musim dingin dan semi, dilansir dari The Guardian, Minggu 7 April 2019.

BACA JUGA: Burung Dara Laut Bermigrasi ke Australia

Perjalanan dua kali setahun, mencapai ribuan mil, dengan rute dimulai dari Selatan menuju Utara saat musim semi, dari Amerika Tengah dan Selatan, menyeberangi danau Great Lake menuju Kanada, dan kembali ke Selatan saat musim gugur.

Pencakar langit tersohor di Manhattan, juga menjadi jebakan maut, bagi burung yang sedang bermigrasi.

“Mereka berakhir hinggap di suatu tempat yang asing, seperti tepi jalan, atau dimanapun,” kata Susan Elbin, direktor konservasi dan pengetahuan di Audubon kota New York, sebuah organisasi advokasi burung ternama.

“Ketika siang tiba, dan mereka berangkat mencari lebih banyak makanan, mereka akan terbang ke pepohonan yang mereka anggap adalah pohon, dan dinding gedung berbahan kaca itu, benar-benar merefleksikan pepohonan, dan mereka akan membentur kaca dan kemudian mati,” katanya.

BACA JUGA: Mangrove Wonorejo Surabaya Jadi Tempat Transit Burung Migran

Sebagian besar burung yang bermigrasi di AS, melakukan perjalanan pada malam hari, ketika udara dingin dan tenang, dan sering berbelok melalui kota karena lampunya yang terang.

Ilmuwan telah lama mengetahui, jika burung tertarik pada cahaya, sehingga ketika mereka terbang di atas kota yang terang pada malam hari, mereka secara alamiah tertarik ke arah kota, tanpa sadar jika mereka sedang berada di wilayah yang berbahaya.

Setiap kota dengan struktur gedung kaca dan lampu terang di malam hari, adalah hal yang salah, namun beberapa kota lebih membahayakan dibanding lainnya.

Laboratorium Ornithology Cornell Lab, mempublikasikan studi minggu ini, tentang peringkat kota berdasarkan bahaya yang diberikan kepada burung bermigrasi.

BACA JUGA: Burung Migran yang Singgah di Mangrove Wonorejo 

Houstan dan Dallas, yang juga berada di jalur migrasi burung, masuk dalam daftar tiga teratas kota mematikan, setelah Chicago. New York, Los Angeles, St Louis dan Atlanta, juga menjadi ancaman saat migrasi.

Kayle Horton, penulis dalam penelitian Cornell mengatakan, bahwa peneliti tidak bertujuan untuk mengkritik kota.

“Kami mencoba meningkatkan kesadaran-mencoba untuk memberikan data dan pengetahuan yang mungkin membantu,” katanya.

Sebab, seperti yang dikatakan peneliti, sangat sulit untuk mendapatkan statistik yang bisa dipercaya.

BACA JUGA: Burung Rangkong di Malang Selatan Semakin Langka

Audubon New York melakukan “Studi monitoring koloni” pada September dan April setiap tahun, mengerahkan lusinan relawan ke jalanan perkotaan, untuk melacak burung yang jatuh.

Organisasi ini memperkirakan, sekitar 90 ribu hingga 200 ribu burung mati, akibat menabrak gedung di kota setiap tahunnya. Divisi Audubon lokal, dan kelompok konservasi burung lainnya di dalam AS, mengkoordinasikan sejumlah data yang mirip.

Pada skala nasional, pusat migrasi burung Smithsonian, memperkirakan jumlah burung yang mati mencapai 100 juta hingga 1 miliar pertahunnya, menggunakan data dari beragam varietas milik kelompok yang berbeda di seluruh AS.

Burung tertentu lebih rentan terhadap benturan dengan gedung.

BACA JUGA: Korsel dan AS Berebut Klaim Terdepan dalam Teknologi 5G

Penelitian berbeda dari Universitas Michigan yang diterbitkan minggu ini, menemukan jika burung berkicau, seperti burung pipit dan warblers, lebih rentan menabrak gedung.

Burung berkicau cenderung memancarkan “sinyal terbang” selama migrasi, dan sering berkicau ketika melihat cahaya terang dari perkotaan, dan berpotensi menarik burung lain ke jalur penerbangan yang berbahaya.

Melalui penelitian yang menunjukkan penemuan menyedihkan tentang dampak kota pada burung, konservasionis melihatnya sebagai peluang untuk mengerucutkan aktivitas mereka.

“Setiap literatur baru muncul, kami belajar lebih banyak tentang masalah, dan kami bisa mencari solusi terbaik menggunakan pengetahuan,” kata Kaitlyn Parkins, ahli konservasi biologis di Audubon Kota New York.

BACA JUGA: Mie Combor, Kuliner Khas Kota Kraksaan Probolinggo

Mematikan lampu di gedung pencakar langit, saat malam, selama migrasi burung berlangsung, adalah hal sederhana yang bisa dilakukan untuk membuat perubahan, kata Parkins.

Anggota Audubon nasional melakukan “padamkan lampu”, sebuah gerakan terkoordinasi dengan Audubon lokal untuk mengadvokasi berkurangnya lampu selama migrasi.

Kota seperti New York dan Minnesota, telah berpartisipasi dalam program itu, mematikan lampu-pada gedung milik pemerintah, saat migrasi.

Konservasionis juga mengadvokasi bahwa gedung harus mengadopsi desain “ramah burung”, seperti menggunakan kaca dengan pola, atau lampu yang lebih redup.

BACA JUGA: Lori Lightfoot Terpilih Jadi Wali Perempuan Pertama di Chicago

San Fransisco dan Toronto telah mengadopsi sejumlah prosedur “ramah burung”, sedangkan anggota kota di New York dan Chicago telah mengenalkan undang-undang, untuk mengadopsi pendekatan serupa.

Undang-undang bipartisan yang dikenalkan di Kongres pada Januari , bernama “undang-undang gedung aman burung”, akan meminta gedung federal baru, untuk mengadopsi desain yang melibatkan pertimbangan migrasi burung.

“Kami membutuhkan untuk koeksis dengan ekosistem karena kami adalah bagian dari itu, begitu juga burung,” kata Elbin. “Apa yang baik untuk burung, juga baik untuk manusia,” katanya.