Logo

Dari Usaha Rumahan, Rengginang Tiga Generasi Asal Mojokerto Tembus Pasar Asia

Reporter:,Editor:

Rabu, 25 February 2026 01:00 UTC

Dari Usaha Rumahan, Rengginang Tiga Generasi Asal Mojokerto Tembus Pasar Asia

Bagus Dwi Purnomo, salah seorang pengusaha saat menunjukan rengginang hasil dari produksinya yang akan dikirim ke Hong Kong. Foto: Hasan.

JATIMNET.COM, Mojokerto – Pamor rengginang sebagai camilan tradisional kembali meningkat pada Ramadan tahun ini. Permintaan di tingkat produsen melonjak drastis. Tidak hanya pasar lokal dan nasional, tetapi juga dikirim hingga ke Hong Kong dan Malaysia.

Permintaan dari luar negeri itu diterima Bagus Dwi Purnomo, pengusaha rengginang asal Sawahan Gang 2, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Oleh karena itu, dapur produksinya semakin sibuk seperti bulan puasa tahun-tahun sebelumnya. Kesibukan ini guna mengejar target dari permintaan yang ordernya telah masuk sejak awal Februari 2026.

BACA: Dapur Banana Cake dan Bolen di Jetis Mojokerto, Sumber Rezeki Para Ibu

Lantas, hingga awal Ramadan atau Rabu, 25 Februari 2026, Bagus telah dua kali mengirimkan 3.000 pieces rengginang ke Hong Kong.

“Alhamdulillah, permintaannya meningkat. Biasanya, pengiriman ke Hong Kong sekali dalam sebulan dengan jumlah 1.500 piece. Bulan ini, (pengirimannya) dua kali,” ujar pemuda 32 tahun ini saat ditemui di rumahnya.

Selain Hong Kong, rengginang hasil produksi Bagus juga dikirim ke Malaysia. “Kalau yang di Malaysia masih 100 piece, mintanya masih sedikit,” katanya.

Tak hanya pasar ekspor, permintaan dari berbagai daerah di Jawa Timur juga meningkat menjelang Hari Raya Idulfitri. Toko-toko di sejumlah kota rutin melakukan pemesanan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

"Alhamdulillah, untuk di lokal, terutama di Jawa Timur, Madiun, Magetan, kemudian Surabaya, Malang, Tulungagung, Trenggalek, toko-toko juga meminta kiriman," terangnya.

BACA: Dari Guru Pesantren Jadi Pengusaha Sepatu Digital, UMKM Asal Nganjuk Tembus Pasar Ekspor

Rengginang yang diekspor maupun dikirim ke daerah lain itu diproduksi Budi bersama enam pekerja. Mulai dari proses merendam beras ketan, lalu dicuci dan dimasak hingga matang.

Setelah matang, ketan dibentuk menjadi bulatan kecil dan dijemur. Namun karena saat ini masih musim hujan, proses pengeringan dibantu menggunakan oven sebelum akhirnya digoreng.

"Untuk kapasitas produksi kami sebanyak 100 kilogram bahan baku per hari," ujar penerus usaha keluarga generasi ketiga ini.