Mitos dan Segar Manis Dawet Jabung Ponorogo

Gayuh Satria Wicaksono
Gayuh Satria Wicaksono

Sabtu, 11 Mei 2019 - 13:29

JATIMNET.COM, Ponorogo – Kota Ponorogo tak hanya dikenal dari kesenian Reog saja. Kota yang berada di ujung barat Provinsi Jawa Timur ini juga memiliki banyak makanan khas.

Sate Ayam Ponorogo untuk jenis makanannya dan Dawet Jabung untuk minuman khasnya. Kali ini, saya akan bercerita soal Dawet Jabung yang konon dikenal hingga di luar Ponorogo.

Di Desa Jabung, tepatnya di perempatan Jabung, Kecamatan Mlarak, terdapat puluhan penjual dawet yang berjejer rapi menggelar jualannya. Salah satu yang terkenal adalah warung dawet Ibu Sumini, yang tepat berada di pojok timur perempatan.

BACA JUGA: Ramadan, Santri Ponorogo Berselawat dan Menabuh Bedug Usai Tarawih

“Kalau di sini memang pusatnya, meski ada banyak dawet jabung di tempat lain, akan tetapi dawet di sini selalu mempunyai rasa yang khas,” kata penjual dawet Sri Muntamah, Jumat 10 Mei 2019.

Mun, sapaan Sri Muntamah menuturkan, dia merupakan generasi ketiga yang meneruskan usaha berjualan dawet milik ibunya ini. pada awalnya, usaha ini dirintis oleh kakeknya (mbah Marto), kemudian diteruskan oleh ibunya, Sumini pada tahun 1983.

Dalam dawet ini ada beragam varian isi mulai cendol, gempol, tape ketan hitam, santan, dan gula jawa atau gula merah. Cendol terbuat dari tepung kanji. Sedang gempol dari tepung beras yang harus selalu dibuat pada hari sebelum dawet itu dia jajakan. Terlebih santan harus selalu baru.

BACA JUGA: Anak Punk Hamil Terjaring Razia Satpol PP Ponorogo

“Harus santan baru. Karena kalau tidak, 2 atau 3 jam akan basi. Bahkan untuk membuat cendol tidak jarang harus bangun sebelum subuh," katanya.

Ketika memasuki bulan Ramadan ini, Mun lebih memilih untuk membuka warungnya pukul 15.00 WIB. Pada hari biasa, ia sudah mulai berjualan sejak pukul 09.00 WIB dan biasanya kurang lebih 500 mangkuk dawet per hari terbeli.

Pada Ramadan kali ini, ia hanya menarget 300 bungkus dawet, karena jika bulan puasa para pelanggannya lebih banyak yang membungkus. Per mangkuk atau per bungkus, ia jual Rp 3.500.

BACA JUGA: Tanamkan Jiwa Menabung, Kades Bringinan Bagikan 500 Kotak Tabungan

“Kalau puasa saya buat porsinya sedikit, jadi sebelum Magrib sudah habis, jika hari biasanya saya jualannya sampai sore hari,” imbuhnya.

Mitos

Dawet Jabung juga mempunyai mitosnya sendiri terutama bagaimana menyajikan dawet kepada pembelinya. Ketika sang penjual dawet menyerahkan mangkuk dawet dengan beralaskan lepek, pembeli hanya boleh mengangkat mangkuknya saja.

“Kalau diambil sama lepeknya, dulu ada mitos harus menikahi penjualnya,” terangnya.

Ia bercerita banyak warga yang kecele ketika mengambil mangkok dawet selalu diambil beserta lepeknya. Bukan hanya warga luar daerah yang tidak mengetahui mitos tersebut, tetapi warga Ponorogo juga tak banyak yang tahu mitos tersebut.

BACA JUGA: Menikmati Keindahan Telaga Ngebel dari Puncak

Mun sendiri tak tahu bagaimana mitos itu berawal. Yang jelas, kata dia, mitos ini sudah berkembang lama semenjak Dawet Jabung semakin terkenal. Semua penjual Dawet Jabung ketika menyerahkan Dawet pasti dengan cara menempatkan lepek di bawah mangkuknya.     

Perempatan Jabung, pusat pedagang dawet ini berada di jalur strategis karena dekat dengan akses masuk Pondok Gontor, atau hanya berjarak tiga kilometer dari pondok. Ia menduga keberadaan pondok ikut andil menjadikan minuman ini terkenal.

“Ketika ada kelulusan atau pendaftaran pondok, banyak warga dari luar kota bahkan luar pulau Jawa selalu mampir ke membeli Dawet Jabung,” katanya.

Baca Juga

loading...