Ketupat, Menu Khas Lebaran hingga Penolak Bahaya Gaib

Hari Istiawan

Reporter

Hari Istiawan

Jumat, 31 Mei 2019 - 14:57

JATIMNET.COM, Surabaya – Tradisi seputar Hari Raya Idul Fitri di Indonesia sangat beragam. Beda daerah beda pula bentuk dan kebiasaannya. Salah satunya adalah menu kuliner khas Lebaran, kupat atau ketupat.

Terdapat perbedaan cara penyajian terkait menu ini di beberapa wilayah. Ada yang disajikan pas hari raya, tapi ada juga yang setelah tujuh hari atau yang dikenal dengan Rioyo Kupat (Hari Raya Ketupat).

Di Jawa Timur dan di sebagian Jawa Tengah, waktu penyelenggaraannya jatuh di hari ke-7 Hari Raya Idul Fitri. Sedangkan di DKI Jakarta dan sekitarnya maupun pada wilayah tinggal etnik Melayu lain, dilaksanakan di hari pertama Idul Fitri.

BACA JUGA: Selama Mudik Lebaran, Risma Imbau Warga Jaga Keamanan Kota

Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono dalam tulisannya menyebut, jenis kuliner ini telah ada di Nusantara sejak masa Hindu-Buddha. Hal ini dibuktikan dengan adanya sebutan “kupat” dan kata jadiannya seperti “khupat-kupatan, akupat, atau pakupat” dalam Kakawin Kresnayana (13.2, 31.13), Kakawin Subadra Wiwaha (27.8), Kidung Sri Tanjung (36.f) dan kata “kupatay” dalam Kakawin Ramayana (26.25).

“Ini menjadi petunjuk bahwa penganan kupat telah ada pada abad IX dan lebih marak lagi abad XIV-XV Masehi,” tulis Dwi Cahyono dalam artikelnya yang diunggah di laman Facebook, dikutip Jatimnet.com, 31 Mei 2019.

Dwi Cahyono menjelaskan, “Rioyo Kupat” atau Hari Raya Ketupat yang biasanya diperingati tujuh hari setelah Lebaran. Kekhasannya adalah, penganan ini yang dilengkapi lepet, lontong, dan sayur tewel disajikan dalam acara kenduri di musala, masjid, atau di rumah sesepuh kampung.

BACA JUGA: BPJS Kesehatan Siagakan Dokter di Posko Mudik Terminal Purabaya

Warga lalu mengirim doa kepada arwah para leluhur sebelum penganan tersebut dimakan bersama-sama. Karena itu, lebaran ketupat juga disebut “Kupatan” atau “Slametan Kupat”.

Menurut Dwi Cahyono, tidak semua umat Islam melaksanakan “ Rioyo Kupat”. Ritus ini lebih merupakan ritus adat. Sehingga tidak mengikuti tradisi ini juga tidak dipersoalkan dan tentunya tidak dianggap melanggar syariat Islam.

Namun, kata Dwi, nuansa Islami tetap sangat kental dalam tradisi ini. Sebab, orang-orang yang merayakan adalah orang-orang Islam, kemudian doa yang dipanjatkan bersumber pada ayat suci Alquran dan lokasi selamatan digelar di musala dan masjid.

BACA JUGA: Pemudik Jalur Udara Tergerus Tiket Mahal

Selanjuntya, pelaksanaannya juga dalam satu rangkaian panjang dengan puasa Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. “Di Jawa, Rioyo Kupat juga dianggap sebagai tanda berakhirnya Hari Raya Idul Fitri,” katanya.

Dwi juga menyebut, Rioyo Kupat tak dilaksanakan di semua tempat di Indonesia. Tradisi ini hadir kuat di Jawa. Namun demikian, bukan berarti semua pemangku budaya Jawa melaksanakannya secara ajeg (konsisten).

Meski demikian, tradisi ini sudah dijalankan lintas generasi sejak masa awal perkembangan Islam di Indonesia hingga sekarang.

BACA JUGA: Pencairan Tunjangan Hari Raya Capai 95 Persen

Sebagai suatu panganan khas, kupat tak hanya hadir ketika Hari Raya Idul Fitri. Penganan ini juga menjadi pengganti nasi untuk menu makanan tertentu seperti coto, kethoprak, kupat sayur, dan lainnya.

Selain itu, kata Dwi, ketupat dan ubo rampe lain juga sering ditemukan digantungkan di atas pintu hingga kurun waktu panjang sebagai media penolak bahaya gaib untuk rumah tinggal.

Baca Juga

loading...