Pemudik Jalur Udara Tergerus Tiket Mahal

Baehaqi Almutoif

Sabtu, 25 Mei 2019 - 08:47

JATIMNET.COM, Surabaya - Anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo memprediksi jumlah pengguna moda transportasi udara sebagai sarana mudik menurun dua persen pada tahun ini. Penurunan jumlah penumpang ini sebagai imbas dari harga tiket yang mahal.

Politisi Partai Gerindra ini mengatakan pihaknya telah melakukan inspeksi mendadak beberapa pekan kemarin untuk memantau kesiapan bandara, stasiun dan pelabuhan dalam menghadapi arus mudik lebaran.

"Penurunan terjadi terutama pada pengguna transportasi udara, yakni  sekitar dua persen menurut mereka (PT Angkasa Pura). Kereta api naik kira-kira lima persen, dan angkutan laut naik lima persen," ujar Bambang Haryo, Jumat 24 Mei 2019.

BACA JUGA: Topang Arus Mudik, Jalur Pantura Gending Diperlebar 11 Meter

Data Pemprov Jawa Timur menyebutkan, pada musim mudik 2018, jumlah penumpang pesawat sebanyak 1.109.245 orang. Angka itu diperkirakan turun dua persen pada tahun ini. Ditengarai, yang menjadi faktor utama penurunan jumlah penumpang ini adalah harga tiket yang terlalu mahal.

Kendati ada prediksi turun, kesiapan seluruh sarana transportasi untuk arus mudik dan balik terus dimatangkan mulai dari sumber daya manusia yang melayani hingga posko mudik di beberapa titik strategis.  

Selain itu, kesiapan bandara, pelabuhan terminal dalam melayani penumpang juga sudah disiapkan termasuk personel Basarnas, BMKG, maupun TNI dan Polri. "Semua sudah siap menjaga," ungkapnya.

Bambang mengatakan Bandara Internasional Juanda diprediksi akan dipadati pemudik dan penumpang arus balik pada H-7 hingga H+7 lebaran. Untuk puncak arus balik diprediksi pada H-3 lebaran 2019.

Terkait mahalnya harga tiket, Bambang berharap, pemerintah segera mengevaluasi penyebabnya agar tidak terus berlarut sepi penumpang.

BACA JUGA: Basarnas Siagakan SAR Angkutan Lebaran di Jawa Timur

"Permenhub (Nomor 20 Tahun 2019 dengan turunan Keputusan Menteri Nomor 72 Tahun 2019) belum signifikan berpengaruh terhadap jumlah penumpang," bebernya.

Catatan Bambang Haryo, tiket pesawat dapat ditekan dengan pengelolaan bandara dengan berbiaya rendah atau low cost seperti biaya mendarat pesawat, tarif parkir, hingga terminal yang bertarif rendah. Hal ini mengingat sudah 70 persen maskapai di Indonesia yang berbiaya rendah.

"Dari 600 armada pesawat, yang LCC (low cost carrier) sekitar 400 unit. Berarti pemerintah harus ekstra keras untuk memperhatikan ini sehingga nanti landing fee akan lebih murah, apron fee murah, termasuk biaya terminal lebih murah," tandasnya.

Baca Juga

loading...