
Reporter
Restu C WidariSenin, 22 Februari 2021 - 14:20
Editor
Bruriy Susanto
Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno dan tim, Direktur DRPM ITS Agus Muhamad Hatta dan Prof Dr Ir Muhammad Nuh menyerahkan alat i-nose c-19 kepada Direktur Utama RSI Jemursari dr Bangun Trapsila Purwaka (kanan).
JATIMNET.COM, Surabaya - Perjalanan alat inovasi canggih untuk skrining Covid-19, i-nose c-19, masih terus berlanjut. Alat yang dikembangkan oleh guru besar ITS Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno dan tim dalam tahapan penambahan sampel untuk proses uji profiling.
Dalam rangka penambahan sampel, Prof Drs Ec Ir Riyanarto dan tim melakukan penyerahan empat alat i-nose c-19 di Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari Surabaya, Senin 22 Februari 2021.
Selain bersama tim, profesor yang akrab disapa Ryan ini juga ditemani oleh Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITS Prof Dr Ir Muhammad Nuh dan Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Agus Muhamad Hatta. Tak ketinggalan, hadir pula Direktur Utama RSI Jemursari dr Bangun Trapsila Purwaka. Peresmian penyerahan alat dan uji profiling ini juga ditujukan pada RSI Ahmad Yani, Surabaya.
Dalam sambutannya, Prof Dr Ir Muhammad Nuh mengungkapkan bahwa ini merupakan bagian dari perjalanan i-nose c-19. Setelah didemokan di Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), saat ini berlanjut untuk melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu pengambilan sampel dan melakukan pengujian di beberapa rumah sakit.
Baca Juga: Kemenristek Dukung Pengembangan dan Pembuatan i-nose c-19
Selain di RSI Jemursari dan RSI Ahmad Yani, tim i-nose c-19 juga telah bekerja sama dengan RSUD dr Soetomo dan National Hospital.
“Inovasi baru bisa punya makna ketika sudah bisa dipakai di publik, maka dari itu ini saatnya buat i-nose untuk diujikan ke publik,” kata mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 2009-2014 ini.
Sebagai Principal Inventor, Ryan juga menyampaikan perhatiannya pada masa pandemi yang menuntut untuk segera menghadirkan inovasi baru sebagai bentuk usaha bertahan di situasi ini. Namun, ia menambahkan bahwa untuk menghidupkan inovasi tidaklah mudah, tanpa penelitian yang lanjut maka bisa tertinggal dengan yang lain.
“Sama halnya dengan alat skrining Covid-19, yang semakin hari semakin banyak macam dan metodenya dari rapid antigen sampai PCR,” ia menjelaskan.
Baca Juga: i-nose c-19, Alat Pendeteksi Covid-19 melalui Bau Keringat Ketiak
Namun, guru besar Teknik Informatika ITS ini menegaskan bahwa inovasi alat skrining Covid-19 melalui bau keringat ketiak ini bukan sebagai pengganti tes swab PCR.
Tetapi hanya alat skrining atau deteksi awal Covid-19 sebelum seseorang melakukan swab PCR dan sebagai alternatif untuk mempercepat proses skrining. “Cara kerja i-nose c-19 pun berbeda dengan rapid test berbasis antibodi maupun rapid antigen,” ia memaparkan.
Tak hanya sampai di situ, ia melanjutkan bahwa i-nose c-19 saat ini keefektifannya sudah mencapai minimum 91 persen. “Diharapkan dengan semakin banyaknya sampel yang diuji cobakan pada alat ini nantinya semakin dapat membantu keakuratannya,” ia mengungkapkan.
Penyerahan hibah i-nose c-19 ini mendapatkan sambutan baik dari pimpinan RSI. Dirut RSI Jemursari dr Bangun Trapsila Purwaka menyadari bahwa Covid-19 telah mempengaruhi seluruh dunia.
Baca Juga: Vaksinasi di Surabaya Gunakan Sistem e-Tiket
Begitu juga seluruh dunia sedang berlomba untuk menggalakkan inovasi guna mendeteksi virus ini. "Dengan tes swab PCR yang ada sebenarnya sudah mudah bagi masyarakat untuk mengetahuinya,” ia menuturkan.
Namun, tidak semua orang bisa mengeluarkan biaya untuk melakukan tes yang harganya masih terhitung mahal ini. Hal tersebut bisa disimpulkan bahwa diagnosis dengan cari ini masih menjadi masalah.
“Dengan hadirnya i-nose c-19 ini luar biasa menjawab kebutuhan, juga sudah memenuhi kaidah skrining sehingga bisa dipakai untuk massa,” ia menandaskan.
Nantinya, empat alat i-nose c-19 ini akan diletakkan di ruang rawat inap dua unit dan di ruang rawat jalan dua unit. Karena ini untuk mendukung penelitian dari i-nose c-19, menurut Bangun, maka untuk pengaplikasiannya nanti, orang-orang yang akan dites harus sudah di-swab PCR terlebih dulu. Hal ini berlaku untuk pasien dari luar maupun dari RSI sendiri.
“RSI beruntung bisa diikut sertakan dalam penelitian ini, ke depannya diharapkan bisa dijadikan tools karena murah dan cepat,” ia menekankan.