Selasa, 23 June 2026 16:08 UTC

Iin Sutiyani menunjukkan dagangan yang dihadirkan di Grand Final Pro Futsal League (PFL) 2026, Selasa, 23 Juni 2026. Foto: Januar
JATIMNET.COM, Surabaya – Di tengah kemeriahan Grand Final Pro Futsal League (PFL) 2026, kisah inspiratif datang dari Iin Sutiyani, pelaku usaha ultra mikro asal Yogyakarta yang pernah terjebak tekanan utang rentenir sebelum akhirnya berhasil bangkit dan mendapatkan kesempatan berjualan di ajang olahraga nasional tersebut.
Kehadiran Iin di arena pertandingan bukan sekadar aktivitas jualan. Ia menjadi bagian dari program pemberdayaan yang digagas PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui PNM Mekaar, yang memberikan kesempatan kepada 20 nasabah terpilih untuk membuka lapak usaha di area Grand Final PFL 2026.
Program ini dirancang sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan usaha ultra mikro agar pelaku usaha kecil memiliki akses pasar yang lebih luas di luar lingkungan sehari-hari.
Bagi Iin, momen tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan hidupnya setelah bertahun-tahun berjuang menghadapi tekanan ekonomi keluarga.
Ia mengisahkan, pada masa sulit, usaha kecil yang dijalankannya menjadi satu-satunya penopang ekonomi keluarga. Kondisi semakin berat ketika suaminya sakit, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Dalam situasi terdesak, ia akhirnya mengambil pinjaman cepat yang membawanya masuk ke jerat rentenir.
BACA: Cara Membuat Anggaran Bulanan yang Realistis
Setiap hari, Iin harus memutar otak agar dagangannya laku sekaligus memenuhi kewajiban cicilan harian yang terus menumpuk. Sebagian besar pendapatannya habis untuk membayar utang sehingga usaha yang dijalankan sulit berkembang.
“Dulu, setiap hari rasanya seperti dikejar waktu. Bukan hanya memikirkan dagangan harus laku, tetapi juga tagihan pinjaman harian yang terus datang. Dengan kondisi suami yang sakit dan usaha kecil sebagai tumpuan keluarga, tekanan itu membuat langkah saya terasa berat,” ujar Iin Sutiyani, Selasa, 23 Juni 2026.
Tekanan tersebut tidak hanya mengganggu kondisi keuangan, tetapi juga berdampak pada psikologisnya. Kekhawatiran terhadap tagihan harian membuat ruang geraknya semakin terbatas, kondisi yang juga dialami banyak pelaku usaha ultra mikro lainnya yang belum memiliki akses pembiayaan formal.
Dalam banyak kasus, rentenir kerap menjadi pilihan karena proses pencairan yang cepat dan mudah. Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat bunga tinggi dan sistem pembayaran yang justru menjerat pelaku usaha dalam siklus utang berkepanjangan.
BACA: Demi Pertahankan Usaha, Sebagian Pengusaha Kecil Lari ke Rentenir
Perubahan besar dalam hidup Iin terjadi ketika ia bergabung sebagai nasabah PNM Mekaar. Melalui program ini, ia mendapatkan akses pembiayaan yang lebih aman serta pendampingan untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Perlahan, kondisi usahanya mulai stabil. Ia tidak lagi dihantui tagihan harian dan dapat lebih fokus mengembangkan usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Setelah bergabung dengan PNM Mekaar, saya perlahan bisa mendapatkan akses modal yang lebih aman dan menata usaha dengan lebih tenang. Sekarang, bisa berjualan di Grand Final PFL 2026 menjadi kebanggaan tersendiri, karena saya merasa usaha kecil seperti kami juga punya kesempatan untuk tumbuh dan dihargai,” tuturnya.
Kesempatan berjualan di Grand Final PFL 2026 menjadi pengalaman baru bagi Iin. Di tengah ribuan penonton dan suasana pertandingan yang meriah, ia merasakan langsung peluang untuk memperkenalkan produk usahanya ke pasar yang lebih luas.
BACA: Kesalahan Keuangan yang Berdampak Jangka Panjang
PNM sebagai sponsor utama PFL 2026 memanfaatkan momentum tersebut untuk menghadirkan ruang promosi bagi pelaku usaha ultra mikro. Langkah ini dinilai penting karena banyak pelaku usaha kecil memiliki produk berkualitas, namun masih terbatas dalam akses promosi dan pasar.
Direktur Utama PNM, Kindaris, menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya dengan modal usaha. Pelaku usaha ultra mikro juga membutuhkan ruang tumbuh dan akses pasar yang lebih luas untuk meningkatkan taraf hidup keluarga mereka.
“Bagi perempuan ultra mikro, modal bukan sekadar uang. Modal adalah kesempatan untuk bernapas lebih lega, berdiri lebih kuat, dan melanjutkan perjuangan dengan harapan baru. Ketika mereka diberi ruang untuk tumbuh, yang bergerak bukan hanya usahanya, tetapi juga keluarganya dan ekonomi di sekitarnya,” kata Kindaris.
Ia menambahkan, kehadiran nasabah PNM Mekaar di ajang nasional seperti Grand Final PFL 2026 menjadi bentuk nyata komitmen perusahaan dalam memperkuat ekonomi kerakyatan. Melalui kesempatan ini, pelaku usaha dapat merasakan langsung dinamika pasar yang lebih besar sekaligus memperluas jaringan usaha.
BACA: Tak Mampu Bayar Hutang Selama 27 Tahun, Perabotan Rumah Milik Warga Mojokerto Diambil Rentenir
Kisah Iin menjadi bukti bahwa akses pembiayaan yang tepat dapat mengubah arah kehidupan seseorang. Dari perempuan yang sebelumnya dibayangi tekanan rentenir, kini ia mampu berdiri percaya diri di ajang olahraga nasional sambil memasarkan produknya kepada masyarakat luas.
Di tengah riuhnya pertandingan futsal dan sorak penonton, cerita seperti Iin menjadi pengingat bahwa pemberdayaan ekonomi tidak hanya soal modal dan angka, tetapi juga tentang harapan, keberanian, dan kesempatan untuk keluar dari tekanan menuju kehidupan yang lebih baik.
Melalui kehadiran 20 nasabah PNM Mekaar di Grand Final PFL 2026, PNM berharap semakin banyak pelaku usaha ultra mikro yang mampu bangkit, terbebas dari jerat rentenir, dan berkembang menjadi bagian penting dari penggerak ekonomi akar rumput nasional.
