Rabu, 05 August 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Segarnya Agustusan. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Es tradisional hampir selalu menemukan penggemarnya saat perayaan 17 Agustus. Ketika lomba berlangsung sejak pagi dan jalan kampung Surabaya mulai terasa panas, meja minuman biasanya menjadi titik yang paling cepat dikerumuni.
Pilihannya bisa sangat akrab. Ada es kelapa muda, cincau, dawet, es buah, hingga minuman sirup yang sejak dulu identik dengan hajatan. Semuanya menyegarkan, tetapi isi gelasnya dapat sangat berbeda.
Di balik es batu yang bergemerincing, ada urusan yang lebih penting daripada warna minuman: cairan yang cukup, gula yang tidak berlebihan, bahan yang bersih, dan porsi yang masuk akal.
Setelah Tarik Tambang, Tubuh Lebih Butuh Cairan
Bayangkan lomba tarik tambang berlangsung menjelang tengah hari. Peserta bergerak aktif, berkeringat, kemudian berdiri di bawah matahari menunggu pertandingan berikutnya.
Rasa haus yang muncul mempunyai alasan sederhana. Tubuh kehilangan cairan melalui keringat, sementara aktivitas fisik dan lingkungan panas dapat meningkatkan kehilangan tersebut.
Kebutuhan cairan setiap orang tidak sama. Usia, aktivitas, kondisi tubuh, makanan yang dikonsumsi, serta lingkungan ikut memengaruhinya. Maka tidak ada satu jumlah minuman yang otomatis cocok untuk semua peserta Agustusan.
Untuk kegiatan lingkungan yang berlangsung beberapa jam, air putih tetap menjadi pilihan paling praktis. Es tradisional lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari konsumsi dan kesenangan acara, bukan satu-satunya sumber cairan.
Cara menyusun meja minuman pun tidak rumit. Air mineral bisa ditempatkan paling mudah dijangkau, kemudian minuman tradisional tersedia sebagai pilihan berikutnya.
Anak yang baru berlari membawa kelereng tidak harus langsung mendapat segelas besar sirup. Begitu pula orang dewasa yang baru selesai tarik tambang.
Dingin dan Manis Sering Datang Bersamaan
Es tradisional Indonesia mempunyai karakter yang sulit dipisahkan dari rasa manis. Sirup, gula merah, susu kental, santan atau campuran beberapa bahan bisa berada dalam satu gelas.
Rasa tersebut memang bagian dari pengalaman menikmati minuman. Persoalannya muncul ketika satu gelas berukuran besar mengandung beberapa sumber gula sekaligus.
Pedoman pola makan sehat WHO yang diperbarui pada Januari 2026 merekomendasikan konsumsi gula bebas kurang dari 10 persen total energi harian. Untuk orang dengan kebutuhan sekitar 2.000 kilokalori sehari, batas itu setara kurang lebih 50 gram atau 12 sendok teh gula. Penurunan hingga 5 persen atau kurang dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.
Gula bebas dalam definisi tersebut mencakup gula yang ditambahkan oleh produsen, juru masak atau konsumen, termasuk gula dalam madu, sirup, jus buah, dan konsentrat jus. Jadi penggunaan gula merah atau sirup berbahan buah tidak otomatis membuat jumlah gula bebas menjadi kecil.
Konteks Indonesia membuat pembicaraan mengenai rasa manis layak ditempatkan secara proporsional. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan menemukan prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 11,7 persen berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah. Berdasarkan diagnosis dokter, angkanya hanya 2,2 persen.
Selisih keduanya mencapai 9,5 poin persentase. Kementerian Kesehatan menyoroti celah tersebut sebagai gambaran masih adanya masyarakat yang belum mengetahui status diabetes mereka.
Data itu tentu bukan alasan untuk menghapus es dawet dari acara kampung. Pendekatan yang lebih realistis justru ada di dapur: sirup tidak harus dituangkan terlalu banyak dan ukuran gelas tidak perlu kelewat besar.
Kelapa, Cincau, dan Buah Membuat Pilihan Lebih Luas
Meja minuman Agustusan akan lebih menarik ketika semua gelas tidak memiliki rasa yang sama.
Es kelapa muda bisa dibuat dengan tambahan gula secukupnya. Cincau dapat dipadukan dengan susu atau kuah yang tidak terlalu manis. Es buah bisa mengandalkan rasa alami semangka, melon atau buah lain, kemudian sirup digunakan sebagai aksen.
Buah punya keuntungan lain. WHO menganjurkan orang berusia di atas 10 tahun mengonsumsi sedikitnya 400 gram buah dan sayuran per hari, bersama setidaknya 25 gram serat pangan alami.
Namun buah potong dan jus tidak persis sama. WHO mengingatkan bahwa jus buah, termasuk yang tidak diberi gula tambahan, dapat mengandung gula bebas dalam jumlah berarti sehingga konsumsinya tetap perlu dibatasi.
Bagi panitia, hal tersebut membuka ide yang cukup sederhana. Buah tidak harus diblender.
Potongan semangka dingin dapat dimasukkan ke dalam gelas bersama es dan sedikit perasan jeruk. Kelapa muda dapat disajikan tanpa sirup berwarna. Pilihan semacam ini bahkan terlihat lebih menarik di meja karena bahan aslinya masih tampak.
Di Surabaya yang terik pada siang hari, sensasi segar tidak selalu membutuhkan rasa yang sangat manis.
Gelas Besar Bisa Menipu Mata
Ada kecenderungan sederhana dalam menikmati minuman: gelas yang lebih besar memberi ruang untuk lebih banyak es, topping, cairan, sekaligus gula.
Pada acara gratis, peserta juga lebih mudah mengambil minuman tanpa mengetahui seberapa manis campurannya.
Panitia dapat mengakalinya melalui ukuran saji. Gelas sedang membuat orang tetap bisa menikmati minuman tradisional tanpa harus menghabiskan porsi besar. Jika masih haus, air putih tersedia.
Pendekatan serupa berlaku untuk minuman dengan tambahan santan atau susu. Tidak perlu semua komponen dimasukkan sebanyak mungkin agar minuman terasa “lengkap”.
Prinsip moderasi tersebut sejalan dengan pedoman WHO yang menempatkan kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman sebagai empat dasar pola makan sehat. WHO juga menyarankan konsumsi makanan tinggi gula bebas, natrium, dan lemak tidak sehat dibatasi.
Bahkan urusan asin tetap relevan dalam satu hari penuh perayaan. WHO menetapkan konsumsi garam orang dewasa sebaiknya kurang dari 5 gram per hari, setara kurang dari 2 gram natrium.
Rata-rata konsumsi natrium orang dewasa secara global pada 2021 diperkirakan mencapai 4.278 miligram per hari, lebih dari dua kali rekomendasi WHO.
Maka yang perlu diperhatikan sebenarnya bukan satu gelas atau satu piring secara terpisah. Ketika sepanjang acara sudah ada gorengan, makanan berbumbu, jajanan manis dan minuman sirup, total konsumsi dapat bertambah tanpa terasa.
Seratus Gelas Juga Perlu Dihitung
Minuman punya persoalan lain setelah acara selesai. Es mencair. Buah yang sudah dipotong kehilangan kesegarannya.
Campuran santan atau susu membutuhkan penanganan lebih hati-hati. Sisa minuman yang sudah tercampur akhirnya lebih sulit dimanfaatkan dibanding botol air yang belum dibuka.
Kajian Kementerian PPN/Bappenas mencatat kehilangan dan sampah pangan Indonesia selama 2000–2019 berada pada kisaran 115–184 kilogram per kapita per tahun. Nilai kerugian ekonominya diperkirakan mencapai Rp213–551 triliun setiap tahun.
Salah satu penyebab yang dicatat Bappenas adalah kelebihan porsi dan perilaku konsumen. Tanpa pengendalian, timbulan kehilangan dan sampah pangan diproyeksikan dapat mencapai 334 kilogram per kapita per tahun pada 2045.
Untuk acara RT, solusinya jauh lebih sederhana daripada persoalan nasional tersebut. Minuman dapat dibuat dalam beberapa batch.
Panitia menyiapkan sebagian lebih dulu. Ketika dispenser mulai kosong, campuran berikutnya baru dibuat. Buah, kelapa dan cincau juga bisa disimpan terpisah sebelum dibutuhkan. Cara itu sekaligus menjaga tampilan dan kesegaran minuman.
Surabaya sendiri memiliki skala aktivitas konsumsi yang besar. BPS mencatat perekonomian kota pada 2025 mencapai Rp830,54 triliun berdasarkan PDRB harga berlaku dan tumbuh 5,87 persen. Perdagangan besar dan eceran bersama reparasi kendaraan menyumbang 26,97 persen struktur ekonominya.
Di tingkat kampung, perayaan Agustus tentu bergerak dalam nominal yang jauh lebih kecil. Namun belanja es batu, kelapa, buah, cincau, gula dan perlengkapan minum tetap mengalir ke pedagang sekitar.
Pada perayaan 81 tahun Kemerdekaan Indonesia nanti, meja minuman di gang-gang Surabaya mungkin tetap punya pola yang sama. Anak-anak datang sambil membawa hadiah lomba, orang dewasa berteduh, dan gelas dingin berpindah tangan dengan cepat.
Untuk es tradisional 17 Agustus, resep terbaik tidak harus yang paling ramai isiannya. Minuman yang cukup dingin, bersih, tidak kelewat manis, dan dibuat sesuai jumlah peserta sudah punya peluang besar untuk habis lebih dulu. Apalagi kalau matahari Surabaya sedang tidak memberi ampun.
