Jumat, 18 September 2026 05:00 UTC

Ilustrasi: Mata nyaman di ruang AC. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Mata kering di ruang AC sering muncul tanpa banyak disadari. Seseorang bisa merasa nyaman dengan suhu ruangan, sementara mata mulai terasa mengganjal, perih, merah, atau cepat lelah.
Kondisi tersebut berkaitan dengan lapisan air mata yang menjaga permukaan mata tetap lembap. National Eye Institute Amerika Serikat menjelaskan mata kering terjadi ketika produksi air mata tidak mencukupi atau air mata tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Kementerian Kesehatan RI juga memasukkan bekerja di ruangan ber-AC atau menggunakan kipas angin sebagai faktor risiko dry eye syndrome. Risiko dapat bertambah ketika keseharian juga diisi aktivitas panjang di depan komputer.
Mata Kering di Ruang AC Bukan Sekadar Kurang Berkedip
Air mata bukan hanya cairan yang muncul ketika seseorang menangis. Lapisan air mata berperan menjaga permukaan mata tetap nyaman dan mendukung penglihatan yang stabil.
Lingkungan kering dapat mempercepat penguapan air mata. National Eye Institute menyebut lingkungan berangin, berasap, atau kering sebagai kondisi yang dapat membuat air mata menguap lebih cepat.
Pendingin udara menjadi relevan karena sebagian orang menghabiskan berjam-jam di kantor, kendaraan, pusat perbelanjaan, maupun kamar ber-AC. National Eye Institute bahkan menyarankan penderita mata kering menghindari paparan langsung AC dan menggunakan humidifier bila udara rumah terlalu kering.
Arah hembusan juga patut diperhatikan. Udara yang terus bergerak mengenai wajah dapat mempercepat pengeringan permukaan mata, meskipun suhu ruangan sebenarnya terasa nyaman.
Karena itu, menurunkan suhu AC bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Posisi tempat duduk terhadap sumber aliran udara juga dapat memengaruhi kenyamanan mata.
Layar dan AC Bisa Menjadi Kombinasi yang Mengganggu
Situasi menjadi lebih kompleks ketika udara kering bertemu kebiasaan menatap layar. Saat berkonsentrasi pada komputer, frekuensi berkedip dapat berkurang.
Referensi klinis American Academy of Ophthalmology mencatat manusia normalnya berkedip sekitar 15–20 kali per menit. Frekuensi tersebut dapat turun secara signifikan ketika bekerja menggunakan perangkat dengan layar.
Berkedip membantu menyebarkan lapisan air mata di permukaan mata. Ketika interval berkedip semakin panjang, permukaan mata terbuka lebih lama sehingga peluang terjadinya kekeringan meningkat.
National Eye Institute juga mencatat penggunaan komputer, tablet, atau smartphone dalam waktu panjang dapat berkaitan dengan mata kering karena seseorang cenderung lebih jarang berkedip.
Inilah yang membuat pekerja kantor dapat mengalami dua pemicu sekaligus. Mata menghadapi udara ruangan yang kering, sementara konsentrasi pada layar mengurangi mekanisme alami untuk menjaga kelembapannya.
Meski begitu, mata kering tidak selalu disebabkan AC atau layar. Usia, lensa kontak, kondisi kelopak mata, obat tertentu, hingga penyakit tertentu juga dapat berperan. Keluhan berulang tetap perlu dinilai berdasarkan kondisi masing-masing.
Sensasi Mengganjal Bisa Menjadi Tanda Awal
Mata kering tidak selalu terasa seperti mata benar-benar kehilangan cairan. Gejalanya justru cukup beragam. National Eye Institute mencatat sensasi seperti ada benda atau pasir di mata, rasa perih atau terbakar, mata merah, sensitif terhadap cahaya, serta penglihatan kabur sebagai beberapa keluhan mata kering.
Menariknya, mata yang berair juga tidak otomatis berarti kelembapannya baik. Gangguan pada lapisan air mata dapat memicu produksi air mata refleks sebagai respons terhadap iritasi.
Kementerian Kesehatan menjelaskan pemeriksaan dry eye dapat melibatkan tes Schirmer untuk mengukur produksi air mata. Pada informasi edukasinya, hasil kurang dari 10 milimeter bagian kertas yang basah setelah lima menit dapat mengarah pada kondisi mata kering.
Angka tersebut bukan alat diagnosis mandiri. Pemeriksaan tetap dilakukan tenaga kesehatan karena penyebab keluhan mata perlu dibedakan dari gangguan lainnya.
Mengubah Lingkungan Kerja Bisa Membantu
Langkah sederhana dapat dimulai dengan mengecek posisi meja. Bila wajah tepat berada di bawah atau di depan hembusan AC, mengubah arah kisi-kisi udara dapat mengurangi paparan langsung.
American Academy of Ophthalmology mencantumkan kelembapan udara rendah, AC, dan kipas ventilasi sebagai faktor lingkungan yang dapat memperburuk gejala mata kering. Perbaikan kelembapan dan ergonomi tempat kerja dapat menjadi bagian dari penanganannya.
Jeda layar juga tetap penting. National Eye Institute pada 2026 kembali mengampanyekan aturan 20-20-20: setiap 20 menit, lihat objek sekitar 20 kaki atau enam meter selama 20 detik.
Selain mengalihkan fokus, waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk berkedip secara sadar. Kebiasaan sederhana ini lebih realistis daripada menunggu mata terasa sangat tidak nyaman sebelum beristirahat.
Menggunakan humidifier dapat menjadi pilihan ketika udara dalam ruangan memang sangat kering. Namun, kebersihan perangkat dan kondisi ruangan tetap perlu diperhatikan agar kelembapan tidak menimbulkan persoalan baru.
Kementerian Kesehatan mengingatkan sistem HVAC yang lembap dan tidak dibersihkan rutin dapat menjadi tempat berkembangnya kontaminan biologis. Pemeliharaan AC serta pembersihan atau penggantian filter secara berkala menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas udara dalam ruangan.
Keluhan Berulang Jangan Selalu Dianggap Normal
Mata kering ringan mungkin terasa sepele karena sering membaik setelah meninggalkan ruangan atau mengistirahatkan mata. Namun, keluhan yang terus muncul tetap membutuhkan perhatian.
National Eye Institute mencatat mata kering berat yang tidak ditangani dalam beberapa kasus dapat merusak kornea, yaitu lapisan bening pada bagian depan mata.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan dry eye syndrome yang dibiarkan dapat berkembang menjadi masalah lebih serius, termasuk infeksi atau peradangan pada permukaan mata. Konsultasi diperlukan untuk menentukan penanganan sesuai penyebabnya.
Penggunaan tetes mata juga sebaiknya tidak sekadar mengikuti produk yang sedang populer. National Eye Institute menyebut artificial tears sebagai salah satu penanganan umum untuk mata kering ringan, tetapi terapi yang tepat tetap bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan.
Ruang ber-AC tidak harus menjadi musuh kesehatan mata. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana udara kering, arah hembusan, durasi bekerja, dan kebiasaan berkedip saling berhubungan.
Mata kering di ruang AC pada akhirnya bisa menjadi sinyal kecil untuk memperbaiki lingkungan kerja. Menghindari hembusan langsung, mengambil jeda layar, dan lebih sadar berkedip dapat menjadi kebiasaan sederhana yang membantu mata tetap nyaman.
