Senin, 14 September 2026 14:15 UTC

Ilustrasi: Debu Tersembunyi di Sofa. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Sofa dan karpet menjadi bagian rumah yang hampir selalu bersentuhan dengan aktivitas penghuni. Kita duduk, berjalan, bermain bersama anak, hingga menerima tamu di atas permukaan tersebut.
Berbeda dengan lantai keramik atau meja, debu pada material kain sering tidak langsung terlihat. Warna dan tekstur serat dapat menyamarkan partikel yang telah terkumpul selama beberapa hari.
Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat menjelaskan debu dalam ruang dapat mengandung serbuk sari, spora jamur, bulu hewan, kotoran tungau dan kecoak, serta sel kulit manusia. Aktivitas berjalan hingga membersihkan rumah dapat membuat debu yang sudah mengendap kembali terangkat ke udara.
Karena itu, sofa dan karpet layak mendapat perhatian khusus ketika membersihkan rumah. Bukan karena keduanya harus selalu steril, melainkan karena permukaan berlapis kain membutuhkan cara perawatan berbeda dibanding lantai keras.
Sofa dan Karpet Menangkap Debu dari Aktivitas Harian
Debu di ruang keluarga tidak datang dari satu sumber. Sebagian terbawa dari lingkungan luar, sementara sebagian lainnya dihasilkan oleh aktivitas yang berlangsung di dalam rumah.
EPA menyebut partikulat dalam ruang dapat berasal dari memasak, membersihkan rumah, pembakaran lilin, hingga penggunaan sejumlah produk konsumen dan perawatan pribadi. Partikel dari luar bangunan juga dapat masuk ke dalam rumah.
Ketika partikel tersebut mengendap pada sofa atau karpet, keberadaannya bisa sulit dikenali. Debu dapat masuk di antara serat kain, sambungan dudukan, bagian bawah bantal sofa, serta sudut karpet yang jarang dipindahkan.
Masalahnya tidak selesai ketika debu mengendap. Berjalan di atas karpet atau duduk di sofa dapat membuat sebagian partikel kembali terangkat.
Inilah alasan ruang keluarga yang tampak rapi belum tentu bebas dari penumpukan debu. Permukaan tekstil membutuhkan pemeriksaan yang berbeda dibanding meja atau lantai.
Membersihkan Sofa dan Karpet Perlu Jadwal Rutin
Sofa mungkin baru dibersihkan ketika terkena noda makanan atau minuman. Padahal, debu bisa menumpuk jauh sebelum noda terlihat.
EPA merekomendasikan karpet dan furnitur berlapis kain divakum setiap minggu atau lebih sering sesuai kebutuhan. Lembaga tersebut juga menyarankan penggunaan vacuum cleaner dengan filter HEPA untuk membantu menahan sebagian debu agar tidak kembali keluar bersama udara mesin.
Frekuensi seminggu sekali bukan aturan mutlak untuk semua rumah. Hunian dekat jalan ramai, rumah dengan hewan peliharaan, atau ruang keluarga dengan aktivitas tinggi mungkin membutuhkan pembersihan lebih sering.
Sebaliknya, ruang yang jarang digunakan bisa memiliki kebutuhan berbeda. Kondisi aktual rumah tetap menjadi pertimbangan utama.
Saat membersihkan sofa, jangan hanya melewati permukaan dudukan. Lepaskan bantal jika desain furnitur memungkinkan, kemudian periksa sambungan, lipatan kain, sandaran, dan area di bawahnya.
Karpet juga sebaiknya dibersihkan hingga bagian yang sering tertutup meja atau furnitur ringan. Area tersebut mudah terlewat karena tidak terlihat dalam aktivitas sehari-hari.
Debu Halus Berkaitan dengan Kualitas Udara
Debu yang terlihat hanyalah sebagian dari persoalan partikulat. Ukuran partikel menjadi salah satu aspek penting dalam pembahasan kualitas udara.
WHO menetapkan panduan PM2.5 sebesar 5 mikrogram per meter kubik untuk rata-rata tahunan dan 15 mikrogram per meter kubik untuk rata-rata 24 jam. Untuk PM10, panduannya masing-masing 15 dan 45 mikrogram per meter kubik.
Indonesia memiliki standar kesehatan lingkungan tersendiri. Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 menetapkan batas tertinggi PM10 untuk udara dalam ruang permukiman sebesar 70 mikrogram per meter kubik dalam durasi 24 jam.
Regulasi tersebut juga menetapkan suhu udara dalam ruang permukiman pada kisaran 18–30 derajat Celsius. Kelembapan ditetapkan pada 40–60 persen, sedangkan laju ventilasi berada pada 0,15–0,25 meter per detik.
Angka tersebut tidak berarti setiap keluarga harus memiliki alat ukur partikulat di ruang tamu. Data itu menunjukkan bahwa kualitas udara dalam ruang memiliki parameter kesehatan yang dapat diukur, bukan sekadar dinilai berdasarkan aroma atau tampilan rumah.
Permenkes yang sama mensyaratkan udara dalam ruang memiliki sirkulasi dan pertukaran udara, terhindar dari paparan asap, tidak berbau, serta terbebas dari debu.
Cara Membersihkan Juga Menentukan Debu yang Terangkat
Membersihkan rumah terkadang justru membuat udara terasa lebih berdebu untuk sementara. Hal ini bisa terjadi ketika partikel yang mengendap kembali terangkat selama proses pembersihan.
EPA menyebut berjalan, menyapu, membersihkan debu, dan menggunakan vacuum cleaner dapat mengaduk debu kembali ke udara. Karena itu, metode yang digunakan perlu diperhatikan.
Untuk permukaan keras di sekitar sofa, kain lembap lebih disarankan dibanding membersihkan menggunakan kain kering. Kelembapan membantu menangkap partikel agar tidak mudah beterbangan kembali.
Orang dengan asma atau alergi juga disarankan meninggalkan area yang sedang divakum. Tujuannya mengurangi kemungkinan menghirup debu yang sementara terangkat selama proses pembersihan.
Kelembapan rumah pun tidak perlu dibuat terlalu tinggi demi mengatasi udara kering. EPA menyarankan kelembapan relatif dijaga di bawah 60 persen dan, bila memungkinkan, sekitar 30–50 persen untuk membantu mengendalikan kontaminan biologis.
Acuan Indonesia berada pada rentang 40–60 persen untuk udara dalam ruang permukiman. Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya melihat konteks standar dan kondisi bangunan ketika mengelola kelembapan rumah.
Ruang Keluarga Nyaman Tidak Harus Terlihat Sempurna
Sofa dan karpet tidak perlu dihindari hanya karena dapat mengumpulkan debu. Keduanya tetap memberi kenyamanan dan karakter pada ruang keluarga.
Hal yang lebih penting adalah memasukkan furnitur berbahan kain ke dalam rutinitas kebersihan. Menyedot sofa dan karpet secara berkala jauh lebih realistis daripada menunggu keduanya terlihat sangat kotor.
Perhatikan pula area tersembunyi. Celah dudukan, bagian bawah sofa, pinggir karpet, dan sudut yang tertutup furnitur sering menjadi lokasi debu bertahan lebih lama.
Permukaan keras di sekitarnya dapat dilanjutkan dengan kain lembap atau pel lembap. EPA menyebut metode tersebut membantu mencegah partikel yang sudah mengendap kembali masuk ke udara.
Pada akhirnya, sofa dan karpet yang menjadi tempat debu menumpuk tidak perlu membuat penghuni khawatir berlebihan. Yang dibutuhkan adalah rutinitas pembersihan yang konsisten dan sesuai karakter rumah.
Ruang keluarga tetap bisa terasa hangat, nyaman, dan penuh tekstur. Perbedaannya, area berbahan kain tidak lagi menjadi bagian yang terlupakan ketika rumah dibersihkan.
