Minggu, 13 September 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Belanja Tetap Terkendali. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Mengatur belanja bulanan saat kemarau menjadi semakin relevan ketika cuaca panas memunculkan kebutuhan tambahan. Air minum, minuman dingin, produk perawatan tubuh, hingga penggunaan perangkat pendingin bisa membuat pengeluaran bergeser tanpa disadari.
September 2026 masih bertepatan dengan periode kemarau di berbagai wilayah Indonesia. BMKG memproyeksikan 64,5 persen Zona Musim mengalami kemarau dengan sifat bawah normal atau lebih kering dibanding kondisi biasanya.
Situasi tersebut bukan alasan untuk memangkas semua kebutuhan. Strategi yang lebih realistis adalah membedakan kebutuhan penting, pengeluaran tambahan karena cuaca, dan pembelian impulsif yang sebenarnya dapat ditunda.
Belanja Bulanan Saat Kemarau Mudah Berubah
Anggaran rumah tangga sangat berkaitan dengan pola konsumsi sehari-hari. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan rata-rata pengeluaran per kapita masyarakat Indonesia mencapai sekitar Rp1,57 juta per bulan pada Maret 2025.
Sekitar Rp775.516 dari jumlah tersebut digunakan untuk kelompok makanan. Sementara pengeluaran bukan makanan berada di kisaran Rp794.174 per kapita per bulan.
Komposisinya hampir berimbang. Pengeluaran makanan menyumbang sekitar 49,41 persen, sedangkan kebutuhan bukan makanan mengambil sekitar 50,59 persen dari rata-rata pengeluaran per kapita.
Angka nasional tersebut tentu bukan patokan anggaran setiap keluarga. Biaya hidup berbeda menurut wilayah, jumlah anggota keluarga, pendapatan, kebutuhan transportasi, dan pola konsumsi.
Namun, datanya memberikan gambaran bahwa belanja makanan hanya merupakan satu bagian dari pengeluaran. Tagihan rumah, transportasi, komunikasi, perawatan diri, dan kebutuhan lainnya juga harus mendapatkan ruang.
Ketika cuaca panas menambah beberapa pengeluaran kecil sekaligus, keseimbangan tersebut dapat berubah.
Minuman dan Jajan Kecil Bisa Menggerus Anggaran
Cuaca terik membuat minuman dingin mudah terasa seperti kebutuhan. Es kopi, teh kemasan, minuman rasa buah, hingga layanan pesan antar sering menjadi pengeluaran spontan.
Satu transaksi mungkin tidak terasa besar. Masalah muncul ketika kebiasaan tersebut berulang hampir setiap hari.
Misalnya, pengeluaran Rp15.000 untuk minuman selama 20 hari kerja sudah mencapai Rp300.000. Jika nilainya Rp25.000, totalnya menjadi Rp500.000 dalam periode yang sama.
Perhitungan tersebut hanya ilustrasi sederhana. Namun, cara ini menunjukkan mengapa pengeluaran kecil perlu dilihat dalam nilai bulanan, bukan hanya harga satu kali transaksi.
BPS juga menunjukkan kelompok makanan dan minuman jadi merupakan bagian penting pola konsumsi masyarakat. Dalam publikasi pengeluaran konsumsi, kategori ini dipisahkan dari padi-padian, sayuran, buah-buahan, serta kelompok bahan pangan lainnya.
Saat kemarau, keluarga dapat menyiapkan pilihan minuman di rumah sebelum beraktivitas. Membawa botol minum isi ulang juga membantu mengurangi pembelian spontan sekaligus memastikan air lebih mudah dijangkau.
Tujuannya bukan melarang jajan. Memberikan batas anggaran justru membuat jajan tetap bisa dinikmati tanpa mengganggu kebutuhan utama.
Kebutuhan Kesehatan Tetap Menjadi Prioritas
Penghematan selama musim kemarau sebaiknya tidak dilakukan dengan mengorbankan kebutuhan dasar. Air minum yang aman, makanan bergizi, dan perlindungan dari panas tetap perlu ditempatkan sebagai prioritas.
Kementerian Kesehatan menyarankan masyarakat mencukupi kebutuhan air dan tidak menunggu haus ketika menghadapi cuaca panas. Masyarakat juga dianjurkan menghindari minuman berkafein, minuman berenergi, alkohol, dan minuman sangat manis secara berlebihan.
Air menjadi perhatian yang sangat relevan bagi rumah tangga Indonesia. BPS mencatat 93,22 persen rumah tangga secara nasional memiliki akses terhadap sumber air minum layak pada 2025.
Di Jawa Timur, proporsinya mencapai 97,30 persen. Angka tersebut terdiri dari 98,60 persen rumah tangga perkotaan dan 95,63 persen rumah tangga perdesaan.
Akses yang tinggi tetap perlu dibarengi penggunaan air secara bijak, terlebih selama kemarau. Membeli air secara berlebihan bukan satu-satunya cara menjaga persediaan.
Rumah tangga dapat menghitung kebutuhan berdasarkan jumlah penghuni, pola konsumsi, dan kondisi pasokan di lingkungan masing-masing. Cadangan yang wajar lebih berguna daripada stok besar yang tidak terencana.
Tagihan Listrik Perlu Masuk Perhitungan
Pengeluaran akibat cuaca panas tidak selalu terlihat saat berbelanja. Sebagiannya baru muncul ketika tagihan listrik datang atau saldo listrik prabayar lebih cepat berkurang.
PLN mencatat konsumsi listrik sektor rumah tangga mencapai 67,14 TWh pada semester pertama 2025. Angka tersebut naik 5,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Rumah tangga menyumbang 43,14 persen dari total penjualan listrik PLN pada periode tersebut. Angka itu menjadikan rumah tangga sebagai kelompok konsumen terbesar.
Kipas, AC, kulkas, dispenser, dan perangkat lain memiliki karakter konsumsi energi berbeda. Semakin besar daya dan semakin lama waktu pemakaian, semakin besar energi yang diperlukan.
Karena itu, anggaran kemarau tidak hanya perlu menyediakan uang untuk membeli barang. Penggunaan perangkat setelah pembelian juga harus diperhitungkan.
Langkahnya dapat dimulai dengan kebiasaan sederhana. Gunakan pendingin ketika dibutuhkan, tutup paparan matahari langsung ke ruangan, dan bersihkan perangkat secara berkala agar bekerja optimal.
Gunakan Tiga Pos untuk Mengendalikan Belanja
Membuat anggaran rumah tangga tidak harus dimulai dengan spreadsheet rumit. Tiga kelompok pengeluaran sudah cukup untuk membantu melihat prioritas.
Kelompok pertama berisi kebutuhan wajib seperti makanan pokok, air, tagihan, transportasi, dan kebutuhan kesehatan. Kelompok kedua dapat menampung kebutuhan musiman akibat kemarau.
Produk perlindungan matahari, tambahan air minum, atau biaya penggunaan pendingin dapat masuk kelompok tersebut sesuai kebutuhan keluarga.
Kelompok ketiga adalah pengeluaran fleksibel. Minuman kekinian, makanan pesan antar, dekorasi rumah, atau pembelian karena promosi bisa ditempatkan di sini.
Setelah pembagian dilakukan, cek transaksi secara berkala. Tidak perlu menunggu akhir bulan untuk mengetahui anggaran sudah terlalu banyak digunakan.
BPS mencatat konsumsi rumah tangga tetap menjadi komponen terbesar produk domestik bruto Indonesia. Pada 2025, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh struktur PDB berdasarkan pengeluaran, memperlihatkan besarnya peran keputusan konsumsi masyarakat dalam perekonomian.
Dalam skala keluarga, keputusan tersebut jauh lebih sederhana. Setiap rupiah yang dikeluarkan perlu mengikuti kebutuhan dan kemampuan masing-masing rumah.
Mengatur belanja bulanan saat kemarau akhirnya bukan berarti hidup dengan banyak larangan. Tujuannya adalah memberikan ruang bagi kebutuhan yang benar-benar penting tanpa membiarkan pengeluaran kecil berjalan tanpa batas.
Cuaca boleh berubah, kebutuhan tambahan juga bisa muncul. Namun, daftar belanja, pencatatan sederhana, dan prioritas yang jelas membuat keuangan rumah tangga lebih siap menghadapi perubahan tersebut.
