Minggu, 13 September 2026 00:00 UTC

Ilustrasi: Belanja Lebih Terencana. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Belanja rumah tangga saat kemarau membutuhkan sedikit perubahan prioritas. Air minum, bahan pangan segar, kebutuhan perlindungan dari panas, hingga penggunaan listrik menjadi lebih relevan ketika hari terasa panas dan kering.
Kondisi itu cukup terasa pada September 2026. BMKG memproyeksikan 169 Zona Musim atau 25,41 persen wilayah daratan Indonesia mengalami puncak kemarau pada September. Jawa Timur sendiri masih berada dalam periode puncak kemarau Agustus–September, dengan cuaca yang cenderung lebih panas dan kering.
Situasi tersebut bukan alasan untuk memenuhi rumah dengan stok berlebihan. Justru, musim kemarau bisa menjadi momentum menyusun belanja berdasarkan kebutuhan yang paling sering digunakan keluarga.
Belanja Rumah Tangga Saat Kemarau Perlu Prioritas
Cuaca memengaruhi kebutuhan rumah lebih banyak daripada yang sering disadari. Ketika suhu terasa panas, konsumsi air bertambah, kipas dan pendingin ruangan lebih sering menyala, sementara bahan makanan tertentu lebih cepat kehilangan kesegarannya.
BMKG pada awal September 2026 memperkirakan sebagian besar Indonesia masih mengalami kondisi relatif kering. Curah hujan selama September bahkan berpeluang kurang dari 50 milimeter per bulan di Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, serta sejumlah wilayah lainnya.
Di Jawa Timur, masyarakat juga diimbau menjaga ketersediaan air serta menggunakannya secara hemat dan bijak selama puncak kemarau. Pesannya sederhana: ketersediaan air perlu menjadi perhatian bersama, termasuk dari tingkat rumah tangga.
Karena itu, daftar belanja dapat dimulai dari barang yang mendukung kebutuhan harian selama cuaca kering. Air minum, buah segar, kebutuhan kebersihan, serta perlindungan ketika keluar rumah lebih layak diprioritaskan daripada belanja impulsif.
Stok Air Secukupnya, Bukan Menimbun Berlebihan
Air menjadi salah satu kebutuhan paling penting selama kemarau. Namun, menyimpan air minum tidak berarti membeli sebanyak mungkin ketika berbelanja.
Data BPS 2025 menunjukkan 93,22 persen rumah tangga Indonesia telah memiliki akses terhadap sumber air minum layak. Angkanya mencapai 97,30 persen di Jawa Timur, dengan 98,60 persen di perkotaan dan 95,63 persen di perdesaan.
Angka tersebut juga mengingatkan bahwa akses belum sepenuhnya merata. Secara nasional, akses air minum layak di perkotaan mencapai 97,02 persen, sedangkan perdesaan berada pada 87,70 persen.
Rumah tangga dapat memperkirakan stok berdasarkan jumlah penghuni dan pola konsumsi biasanya. Sediakan cadangan secukupnya, gunakan wadah bersih dan tertutup, lalu periksa persediaan secara berkala.
Cara tersebut lebih masuk akal daripada membeli banyak air sekaligus tanpa perhitungan. Selain memenuhi ruang penyimpanan, kebiasaan menimbun juga dapat mendorong pengeluaran yang sebenarnya tidak diperlukan.
Perhatikan Buah, Sayur, dan Makanan Segar
Daftar belanja musim kemarau sebaiknya tidak hanya dipenuhi minuman dingin. Buah, sayuran, dan bahan pangan segar tetap penting untuk membuat menu harian terasa lebih ringan dan beragam.
Masalahnya, membeli terlalu banyak bahan segar sekaligus berisiko berakhir menjadi sampah makanan. Belanja untuk beberapa hari sering lebih praktis dibanding memenuhi kulkas untuk periode panjang tanpa rencana menu.
Pola konsumsi rumah tangga memang memiliki bobot besar dalam kehidupan sehari-hari. BPS melalui Susenas September 2025 secara khusus memotret konsumsi dan pengeluaran penduduk sebagai indikator penting kondisi ekonomi dan sosial masyarakat.
Gunakan prinsip sederhana ketika berbelanja: cek isi kulkas terlebih dahulu, susun menu, kemudian tentukan jumlah yang diperlukan. Buah yang matang lebih dahulu bisa ditempatkan di bagian depan agar segera dikonsumsi.
Langkah kecil tersebut membantu rumah tetap memiliki pilihan makanan segar tanpa membuat anggaran belanja bocor karena bahan pangan terbuang.
Waspadai Pengeluaran Listrik yang Ikut Naik
Belanja rumah tangga saat kemarau juga berkaitan dengan barang elektronik. Kipas angin, AC, kulkas, dispenser, dan perangkat pendingin lain cenderung mendapat perhatian lebih ketika udara terasa gerah.
Data PLN menunjukkan konsumsi listrik sektor rumah tangga mencapai 67,14 TWh pada semester pertama 2025. Jumlah itu tumbuh 5,13 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya dan menyumbang 43,14 persen penjualan listrik nasional.
Artinya, keputusan kecil di rumah dapat berpengaruh terhadap konsumsi listrik. Membeli perangkat tambahan karena cuaca panas sebaiknya tetap mempertimbangkan kebutuhan, kapasitas ruangan, serta efisiensi energi.
Sebelum membeli kipas atau pendingin baru, periksa perangkat yang sudah tersedia. Membersihkan kipas, filter AC, atau mengatur sirkulasi udara terkadang lebih masuk akal daripada langsung menambah elektronik.
Prioritas yang sama berlaku saat membeli perlengkapan rumah. Barang yang membantu mengurangi panas secara pasif, seperti tirai atau penutup jendela, bisa dipertimbangkan sesuai kondisi hunian.
Daftar Belanja Membantu Mengendalikan Pengeluaran
Cuaca panas mudah menciptakan pembelian spontan. Minuman dingin, makanan siap santap, perlengkapan pendingin, hingga barang rumah tangga terlihat semakin menggoda ketika tubuh sedang tidak nyaman.
Karena itu, pisahkan kebutuhan menjadi tiga kelompok sederhana: harus tersedia, perlu diisi ulang, dan bisa ditunda. Air minum dan bahan pangan pokok tentu berbeda prioritas dengan barang yang dibeli sekadar karena sedang diskon.
Periksa pula persediaan sebelum pergi ke toko. Sabun, produk kebersihan, air kemasan, atau bahan makanan sering masih tersedia tetapi terlupakan di bagian belakang lemari.
September 2026 juga masih membutuhkan kewaspadaan terhadap kondisi kering. BMKG mencatat 64,5 persen Zona Musim pada kemarau 2026 diproyeksikan mengalami sifat musim bawah normal atau lebih kering dibanding biasanya.
Konteks tersebut membuat belanja rumah tangga saat kemarau lebih baik diarahkan pada kesiapan, bukan kepanikan. Rumah membutuhkan persediaan yang cukup, penggunaan air yang bijak, makanan yang terencana, serta konsumsi listrik yang terkendali.
Pada akhirnya, belanja rumah tangga saat kemarau bukan tentang menambah sebanyak mungkin barang. Kebiasaan paling berguna justru mengetahui apa yang benar-benar dibutuhkan, berapa jumlahnya, dan kapan harus membelinya kembali.
