Logo

Sunscreen Jadi Kebutuhan Penting Saat Kemarau

Perlindungan dari matahari bukan sekadar urusan penampilan, tetapi bagian sederhana dari menjaga kulit dalam aktivitas sehari-hari.
Reporter:,Editor:

Minggu, 13 September 2026 05:00 UTC

Sunscreen Jadi Kebutuhan Penting Saat Kemarau

Ilustrasi: Lindungi Diri dari Panas. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Sunscreen saat cuaca panas layak masuk daftar kebutuhan rutin, terutama ketika aktivitas membuat tubuh sering terpapar matahari. Pada musim kemarau, langit yang terasa lebih terik juga membuat perlindungan kulit semakin relevan untuk diperhatikan.

September masih menjadi periode penting dalam musim kemarau 2026. BMKG memproyeksikan puncak kemarau di sebagian wilayah berlangsung hingga Agustus dan September, termasuk di sejumlah kawasan Pulau Jawa.

Kebutuhan sunscreen pun sebaiknya dipandang seperti kebutuhan perawatan diri lainnya. Bukan karena mengikuti tren kecantikan, melainkan karena radiasi ultraviolet tetap memiliki dampak terhadap kesehatan kulit.

 

Sunscreen Saat Cuaca Panas Bukan Hanya untuk Liburan

Pemakaian sunscreen sering dikaitkan dengan pantai, perjalanan wisata, atau aktivitas olahraga di luar ruangan. Padahal, paparan matahari juga terjadi ketika seseorang menjalani rutinitas biasa.

Berjalan menuju tempat makan, mengendarai sepeda motor, menunggu transportasi, hingga beraktivitas di halaman rumah tetap dapat membuat kulit terpapar radiasi ultraviolet.

World Health Organization menyebut radiasi ultraviolet berlebih sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap kanker kulit. WHO memperkirakan lebih dari 1,5 juta kasus kanker kulit terjadi secara global pada 2020.

Pada tahun yang sama, lebih dari 120.000 kematian di dunia dikaitkan dengan kanker kulit. Data tersebut memperlihatkan bahwa perlindungan terhadap paparan UV memiliki dimensi kesehatan yang jauh lebih luas daripada persoalan warna kulit.

WHO juga menjelaskan bahwa perlindungan matahari diperlukan ketika indeks UV mencapai angka 3 atau lebih. Karena itu, memperhatikan UV Index dapat menjadi kebiasaan praktis sebelum menjalani aktivitas di luar ruangan.

 

SPF 30 Menjadi Batas Praktis untuk Aktivitas Harian

Deretan angka pada kemasan sunscreen kadang membuat pembeli bingung. Ada SPF 15, SPF 30, SPF 50, bahkan produk dengan angka lebih tinggi.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia menjelaskan SPF atau Sun Protection Factor menunjukkan kemampuan produk tabir surya melindungi kulit dari paparan sinar UVB.

Untuk aktivitas sehari-hari, memilih produk tidak perlu hanya berpatokan pada angka SPF terbesar. Cara pemakaian, jumlah yang digunakan, aktivitas, serta paparan matahari juga perlu diperhatikan.

American Academy of Dermatology merekomendasikan sunscreen yang memiliki perlindungan broad spectrum, SPF 30 atau lebih tinggi, serta tahan air ketika digunakan untuk aktivitas yang melibatkan air atau keringat.

SPF 30 berarti produk memberikan tingkat perlindungan yang tinggi apabila digunakan dengan benar. Namun, sunscreen bukan perlindungan mutlak yang membuat seseorang bebas berada di bawah matahari selama berjam-jam.

Perlindungan tetap perlu dikombinasikan dengan kebiasaan lain, seperti mencari tempat teduh dan mengenakan pakaian yang membantu menutup kulit.

 

Jumlah dan Cara Pemakaian Sama Pentingnya

Membeli sunscreen berkualitas tidak banyak membantu apabila produknya hanya digunakan sangat tipis. Salah satu kesalahan umum adalah menghemat pemakaian agar satu kemasan bertahan lebih lama.

U.S. Food and Drug Administration menyarankan sunscreen digunakan secara cukup pada seluruh kulit yang tidak tertutup pakaian. FDA juga menganjurkan pengaplikasian sekitar 15 menit sebelum seseorang keluar rumah.

Pemakaian ulang menjadi bagian yang tidak kalah penting. FDA merekomendasikan pengaplikasian kembali setidaknya setiap dua jam, terutama ketika seseorang tetap berada di luar ruangan.

Pemakaian perlu dilakukan lebih sering setelah berenang atau berkeringat, sesuai petunjuk ketahanan air pada produk. Tidak ada sunscreen yang sepenuhnya tahan air sepanjang hari.

Kebiasaan tersebut penting bagi masyarakat yang sering berkendara, bekerja di lapangan, berolahraga, atau berpindah tempat pada siang hari.

Sunscreen yang nyaman digunakan juga biasanya lebih mudah dijadikan kebiasaan. Tekstur yang sesuai jenis kulit dan aktivitas sehari-hari dapat menjadi pertimbangan saat berbelanja.

 

Perlindungan Matahari Tidak Berhenti pada Sunscreen

Sunscreen sebaiknya tidak bekerja sendirian. Perlindungan fisik tetap mempunyai peran besar, terutama ketika seseorang harus beraktivitas cukup lama di luar rumah.

WHO menganjurkan penggunaan pakaian pelindung, topi bertepi lebar, kacamata hitam, serta mencari tempat teduh sebagai bagian dari perlindungan terhadap sinar ultraviolet.

Waktu aktivitas juga dapat diatur. WHO menyebut sinar UV matahari paling kuat sekitar empat jam di sekitar tengah hari, tergantung lokasi dan musim.

Bagi pekerja lapangan atau pengendara motor, menghindari seluruh paparan matahari tentu tidak selalu memungkinkan. Pilihan yang lebih realistis adalah mengurangi paparan langsung sebanyak yang bisa dilakukan.

Payung, topi, pakaian berlengan, hingga memilih area teduh ketika berhenti dapat menjadi perlindungan tambahan. Kebiasaan sederhana tersebut juga tidak membutuhkan belanja produk perawatan dalam jumlah besar.

Pendekatan ini membuat perlindungan kulit terasa lebih praktis. Fokusnya bukan membeli banyak barang, tetapi membangun beberapa lapisan perlindungan sesuai aktivitas.

 

Pilih Sunscreen yang Aman dan Sesuai Kebutuhan

Musim panas sering membuat berbagai produk perlindungan matahari semakin menarik di etalase maupun media sosial. Namun, popularitas sebuah produk tidak otomatis menjadi jaminan bahwa produk tersebut cocok untuk semua orang.

Di Indonesia, kosmetik yang beredar harus memenuhi ketentuan dan mendapatkan notifikasi dari BPOM. Konsumen dapat memeriksa legalitas produk sebelum membeli, terutama ketika menemukan sunscreen dari penjual atau merek yang belum dikenal.

Kebutuhan setiap orang juga berbeda. Seseorang yang lebih banyak berada di ruangan tentu memiliki pola paparan berbeda dibanding pekerja lapangan atau orang yang rutin berolahraga di luar.

Harga mahal juga bukan satu-satunya ukuran. Produk yang legal, memiliki perlindungan memadai, sesuai kondisi kulit, dan nyaman dipakai rutin justru lebih masuk akal menjadi bagian dari belanja rumah tangga.

Pada September yang masih terasa panas, sunscreen saat cuaca panas dapat ditempatkan bersama kebutuhan perlindungan sehari-hari lainnya. Kebiasaan ini semakin bermanfaat ketika dibarengi pakaian pelindung, tempat teduh, dan pengaturan aktivitas.

Perawatan kulit akhirnya tidak harus rumit. Perlindungan yang konsisten dan masuk akal sering lebih berguna daripada membeli banyak produk yang akhirnya jarang digunakan.