Logo

Mohammad Qoimam, Dokter Muda yang Berhasil Tuntaskan Studi Magister di Beglia dan Prancis

Reporter:,Editor:

Jumat, 16 January 2026 01:00 UTC

Mohammad Qoimam, Dokter Muda yang Berhasil Tuntaskan Studi Magister di Beglia dan Prancis

Mohammad Qoimam Bilqisthi Zulfikar bersama kedua orang tuanya usai diwisuda. Foto: Dokumen Pribadi.

JATIMNET.COM, Surabaya – Perjalanan Mohammad Qoimam Bilqisthi Zulfikar di jalur akademis terbilang moncer. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa) ini berhasil meraih gelar Magister Kesehatan Masyarakat Internasional (European Public Health Master – Europubhealth+) melalui Erasmus Mundus Excellence Scholarship dari Uni Eropa.

Studi magister yang dijalani Qoimam langsung di dua negara Eropa, yakni Belgia dan Prancis. Studinya berlangsung di kampus ternama dengan standar akademik internasional yang ketat.

Pada studi magisternya, Qoimam menjalani tahun pertama di University of Liège, Belgia. Sedangkan tahun kedua di EHESP French School of Public Health, Prancis. Program Europubhealth+ dikenal memiliki ritme akademik yang sangat intens karena menggabungkan pembelajaran lintas negara, lintas budaya, dan lintas disiplin ilmu.

“Di Belgia, saya benar-benar dituntut serius secara akademik. Biostatistik menggunakan software R, ujian oral, sampai simulasi perancangan undang-undang kesehatan menjadi pengalaman yang sangat menantang,” ungkapnya.

BACA: Jabat Rektor Unusa, Prof Triyogi Janji Kembangkan Tiga Sektor Ini

Sementara itu, sistem pembelajaran di Prancis menggunakan model alternate, yakni kombinasi antara perkuliahan dan magang profesional berbayar. Dalam skema ini, Qoimam menjalani magang riset selama 11 bulan bersama Fondation MNH Prancis, dengan fokus pada isu kesehatan tenaga kesehatan.

“Magang riset ini membuka wawasan saya tentang bagaimana kebijakan kesehatan tenaga medis dirancang dan diimplementasikan di tingkat nasional,” katanya.

Qoimam menegaskan, bekal ilmu yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di FK Unusa menjadi modal penting untuk beradaptasi dengan tuntutan akademik internasional.

Menurutnya, fondasi metodologi penelitian dan ilmu kesehatan masyarakat yang ia dapatkan di kampus sangat membantu dalam mengikuti perkuliahan magister yang materinya jauh lebih mendalam.

“Fondasi metodologi dan ilmu Kesehatan Masyarakat yang saya dapatkan di Unusa sangat kuat. Itu membuat saya tidak terlalu kesulitan mengikuti perkuliahan magister, meskipun materinya sangat advance,” jelasnya.

BACA: Dosen dan Mahasiswa Unusa Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Gratis Warga Lansia di Mojokerto

Ia juga menyoroti suasana klinis di University of Liège yang mengingatkannya pada pengalaman kuliah dan praktik di RSI Jemursari, rumah sakit pendidikan FK Unusa.

“Atmosfer klinisnya terasa familiar. Pasien lalu-lalang, dosen mengajar dengan jas dokter. Itu membuat saya merasa seperti kembali ke Unusa,” tambahnya.

Jalur akademis global ditempuh pemuda asal Surabaya ini setelah menyelesaikan pendidikan dokter di FK Unusa selama lebih dari enam tahun. Kemudian, ia menyelesaikan tahap Sarjana Pendidikan Dokter selama empat tahun.

Setelah itu, melanjutkan Program Profesi Dokter selama dua tahun tujuh bulan. Proses pendidikan profesinya sempat mengalami penyesuaian akibat pandemi Covid-19. Namun, hal itu tak menyurutkan semangatnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Pandemi memang membuat proses profesi dokter jadi berbeda, tapi itu justru melatih adaptasi. Dari situ saya semakin yakin untuk melanjutkan studi ke luar negeri,” ujar Qoimam.

BACA: Mahasiswa Profesi Ners Unusa Soroti Hipertensi dan Diabetes pada Lansia

Kepada mahasiswa FK Unusa, Qoimam berpesan agar sejak dini memberikan perhatian besar pada penguasaan bahasa Inggris. Menurutnya, hampir seluruh literatur kedokteran dan jurnal ilmiah internasional menggunakan bahasa Inggris, sehingga kemampuan tersebut menjadi kunci untuk bersaing di tingkat global.

“Hampir semua jurnal dan referensi ilmiah menggunakan bahasa Inggris. Kalau ingin melangkah ke level internasional, kemampuan bahasa ini tidak bisa ditawar,” tegasnya.

Selain itu, ia mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti kegiatan di luar kelas, seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), penelitian, pengabdian masyarakat, serta organisasi kemahasiswaan. Menurutnya, soft skills menjadi faktor penting dalam dunia akademik dan profesional.

“Soft skills seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kerja tim sangat penting, dan itu banyak ditempa lewat organisasi dan aktivitas di luar kelas,” ujarnya.

Prestasi yang diraih Qoimam menjadi bukti bahwa lulusan FK Unusa mampu berkiprah di tingkat global. Capaian ini sekaligus menegaskan komitmen FK Unusa dalam mencetak dokter yang unggul secara akademik, profesional, serta memiliki daya saing internasional.