Minggu, 01 February 2026 23:30 UTC

Sumardi, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur saat meninjau dampak angin puting beliung yang menerjang wilayah Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Minggu, 1 Februari 2025. Foto: Hasan
JATIMNET.COM, Mojokerto – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Sumardi menegaskan pentingnya gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, budaya kerja sama itu dapat memecahkan dan meringangkan setiap permasalahan yang dihadapi bersama. Tak terkecuali dampak angin puting beliung yang merusak beberapa rumah warga dan fasilitas umum (fasum) di Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto.
“Penanganan pascabencana ini harus disengkuyung bareng-bareng. Jangan saling menunggu, apa yang bisa segera dilakukan harus langsung dikerjakan karena ini menyangkut keselamatan dan kehidupan warga,” tegas Sumardi saat meninjau lokasi terdampak bencana, Minggu, 1 Februari 2026.
Dalam kunjungannya, legislator dari Partai Golkar itu juga membagikan 150 paket sembako kepada warga terdampak bencana hidrometeorologi tersebut. Bantuan difokuskan kepada warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat, sedang, hingga ringan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto mencatat, data sementara dampak dari angin puting beliung yang menerjang wilayah Kecamatan Pungging menyebabkan 43 rumah warga dan lima fasum rusak.
Kerusakan bangunan tersebut terjadi di tiga desa, yaitu Balongmasing, Tunggalpager, dan Jabontegal.
Berlindung di Bawah Kasur Saat Angin Mengamuk
Salah seorang korban terdampak, M Erwin, 55 tahun, warga Desa Balongmasin masih mengingat saat angin puting beliung menghantam rumahnya.
“Ini kejadian angin paling parah sepanjang saya tinggal di sini. Separuh rumah hancur, dinding dan tembok ambruk,” ungkapnya.
Peristiwa itu terjadi begitu singkat dan di luar perkiraan. Sesaat sebelum kejadian, Erwin tidak mengira rumahnya bakal diterjang angin puting beliung, meski sebelumnya mendung hitam bergelayut.
Dalam sekejap, hujan deras disertai angin kencang melanda dan menerjang rumah. “Saat itu, saya sedang menyeduh kopi di dapur. Saya melihat atap seng dapur sudah beterbangan. Saya langsung lari ke ruang tengah, mengunci pintu belakang, dan mengajak anak-anak masuk ke kamar pojok. Lalu, mengangkat kasur untuk berlindung,” Erwin menceritakan.
Angin kencang yang berlangsung sekitar 10 menit merusak bagian belakang rumah Erwin yang berada di samping area persawahan. Posisi kediaman tersebut membuat suasana semakin mencekam.
“Suara gemuruhnya bikin anak-anak ketakutan. Pintu depan sampai terhempas karena anginnya kuat sekali,” imbuhnya.
Erwin berharap pemerintah daerah segera membantu perbaikan rumahnya yang rusak parah akibat bencana tersebut.
Anggota DPRD Jawa Timur Sumardi (kanan) memberikan bantuan paket sembako kepada warga terdampak puting beliung di wilayah Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Minggu, 1 Februari 2026. Foto: Hasan
Dusun Manukan Alami Kerusakan Terparah
Kepala Dusun Manukan, Desa Balongmasin, Budi Santoso, 34 tahun menyebut wilayahnya menjadi salah satu titik terparah akibat terjangan angin puting beliung.
“Kerusakan mayoritas pada atap dan dinding rumah warga, ada juga yang tertimpa pohon beringin ratusan tahun di area punden desa,” jelas Budi.
Pemerintah desa, kata dia, telah melakukan pendataan warga terdampak untuk diusulkan mendapatkan bantuan dari Pemkab Mojokerto.
“Kami terus berkoordinasi dengan dinas terkait agar penanganan pascabencana bisa cepat dilakukan,” katanya.
Budi juga mengapresiasi langkah cepat Sumardi yang turun langsung ke lokasi dan menyalurkan bantuan sembako.
“Dengan kedatangan Bapak Sumardi, aspirasi warga bisa tersampaikan. Di Dusun Manukan ada 35 rumah terdampak, dan tadi warga menerima 150 paket sembako,” pungkasnya.
BPBD: Pendataan Masih Berlangsung
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto Rinaldi Rizal Sabirin menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah bergerak cepat menangani dampak bencana hidrometeorologi selama puncak musim hujan.
“Penanganan meliputi pohon tumbang di wilayah Mojosari, Pungging, hingga Jalan Raya Bangsal,” jelasnya.
Ia menegaskan, total kerusakan akibat angin kencang mencakup 43 rumah dan 5 fasum di tiga desa di Kecamatan Pungging.
“Saat ini kami masih fokus melakukan asesmen dan pendataan kerugian materiil. Selanjutnya akan ada penanganan lanjutan dari Pemkab Mojokerto,” tutup Rinaldi.
