BOM bukan tontonan. Gelegar ledakan di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Ngagel Surabaya memancing keingintahuan yang besar dari masyarakat, Minggu 13 Mei 2018 pagi. Bukannya menyingkir dan menjauh, mereka malah mendekat.

“Ibu, Bapak, mohon mundur karena tempat belum steril. Dikhawatirkan ada bom yang masih aktif. Saya imbau lagi untuk mencari tempat yang aman,” katanya pada kerumunan massa di sekitar gereja. 

Berpakaian serba hitam, sepatu lars, helm berpelindung kaca, rompi anti peluru, dan senapan di tangan, ia tampak garang. Toh kerumunan massa tak segera buyar. Petugas itu lalu membuka kaca helmnya. Siapa sangka, di baliknya tersembunyi wajah perempuan. Satu per satu massa menjauh meski air mukanya menyisakan keheranan. Seolah tak percaya, petugas di depan mereka perempuan.

Halimah Fauz Hadayah nama petugas itu. Pangkatnya Brigadir Dua. Ia adalah satu dari empat polisi wanita anggota Brigade Mobil Polda Jawa Timur. Usianya baru 20 tahun ketika lulus Sekolah Polwan pada Mei 2018 lalu. Saat 500 rekannya memilih berkarir di satuan non Brimob, ia malah mendaftar jadi anggota Gegana.

Bagi Ima –demikian Halimah disapa-, peristiwa serangan bom teroris Surabaya pada Mei itu menjadi pengalaman pertamanya terlibat pengamanan di lapangan. “Itu pertama kali saya memegang senjata dengan peluru tajam di dalamnya,” katanya menceritakan kembali pengalaman itu, Minggu 11 November 2018.

Satu jam berjaga di Gereja Santa Maria Tak Bercela, ia dan timnya bergerak ke lokasi ledakan bom kedua, Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro Surabaya. Kondisinya tak kalah mencekam. Satu bom dilaporkan masih aktif dan bisa meledak kapan saja. Perimeter pengamanan diperluas hingga 100 meter.

Sementara rekannya menjinakkan bom tersisa, Ima pasang mata dan telinga tajam-tajam untuk mengawasi lingkungan sekitar. Serangan susulan dari teroris masih mungkin terjadi. Senapan Steyr AUG di tangan terkokang, siap memuntahkan peluru tajam berkaliber 5,56 jika dibutuhkan. Tugasnya jelas, tembak di tempat untuk ancaman yang datang.

“Saya berharap semoga tidak ada serangan. Tetapi jika ada, tugas saya adalah melumpuhkan mereka (teroris),” katanya.

Laki dan Perempuan Sama Saja

Brimob adalah kesatuan operasi khusus yang bersifat paramiliter milik kepolisian. Sementara Gegana, bertugas lebih khusus lagi. Satuan ini menjalankan tugas operasi menjinakkan bom; menangani ancaman serangan kimia, biologi, dan radioaktif berbahaya; hingga anti teror dan intelijen.

Berbeda dengan satuan lain, Brimob memang lahir untuk menangani kejahatan berintensitas tinggi. “Baru tahun ini Brimob Gegana menerima Polwan,” katanya, menerangkan.

Tak heran, satuan ini tak populer dengan anggota perempuan. Selain itu, stamina yang prima menjadi keharusan bagi personelnya. Latihan fisik yang berat mereka lakoni saban hari dan tak beda porsinya dengan polisi laki-laki.

Di luar jadwal latihan, nyaris tak ada waktu libur untuk mereka. Telepon genggam wajib aktif agar sewaktu-waktu bisa dihubungi, bahkan ketika saat lepas tugas di luar markas.

Nyatanya, tantangan itu tak menjadi rintangan buat Ima. Ia pantang patah arang. “Selama kita masih muda dan punya prestasi ya harus terus dikembangkan,” katanya.

Ia mengatakan bercita-cita menjadi polisi sejak kecil. Hobi olahraga, sederet prestasi di bidang atletik dan basket disandangnya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Sejumlah medali pun ia koleksi. Yang terbaru, ia menyabet predikat runner up di even Kelud Marathon Road Run 2018 pada September lalu.

Selepas Sekolah Menengah Atas, ia mendaftar polisi pada 2016 dari jalur prestasi. Sayangnya gagal. Setahun kemudian ia mendaftar lagi dan lolos. “Didorong oleh orang tua, tahun 2017 saya diterima di Bintara Sepolwan,” katanya.

Menurut dia, kemampuan akademis ditunjang fisik memadai mampu membawanya berkarir di kepolisian. Keyakinan itu terbukti. Ia berhasil membuktikan diri, wanita bisa melakukan pekerjaan yang sama dengan kaum lelaki di kesatuan Brimob Gegana. Bahkan, ia dipercaya menjadi penjinak bom.

Bukan perkara mudah bagi Ima. Bayangkan; dengan tinggi 164 sentimeter dan berat badan 56 kilogram, Ima harus mengenakan pakaian khusus penjinak bom seberat 45 kilogram. Bajunya tebal berlapis baja. Helm pengaman terasa berat dan pengap di kepala meski ada blower di dalamnya.

Dengan kondisi seperti itu tiap pawang bom dituntut profesional. “Lebih ke bagaimana mental kita, bagaimana kita tetap fokus menyelesaikan persoalan dalam kondisi tertekan baik fisik dan psikis,” katanya.

Tapi, ia melanjutkan, semua itu terbayar ketika tugas yang diemban tuntas. Kerasnya latihan –yang porsinya sama dengan kaum laki- membuncahkan rasa bangga. “Perempuan memiliki potensi yang sama dengan laki-laki,” katanya.

Saat ini, ia masih menyimpan satu harapan, bisa melanjutkan pendidikan khusus penerjun dan bergabung di Markas Brimob Jakarta. “”Rasanya lebih ekstrim,” katanya sambil tersenyum.

Kepala Satuan Brimob Polda Jatim Komisaris Besar I Ketut Gede Wijatmika mengatakan masuknya kaum perempuan dalam kesatuan menjadi tanda lunturnya bias gender di kepolisian.

“Kami tidak membedakan gender. Selama yang bersangkutan memiliki fisik dan mental yang bagus kami akan berikan kesempatan berkarir di Brimob,” katanya pada Jatimnet.com, Selasa 13 November 2018.

Menurut dia, masuknya kaum perempuan dalam kesatuan Brimob juga bagian layanan pada masyarakat. “Terutama masalah sterilisasi atau penggeledahan (barang) bawaan wanita, maka Polwan punya peran dalam tugas tersebut,” katanya.