JALAN hidupnya seperti lakon sinetron. Ia dikenal sebagai ratu properti di Surabaya, lalu dituduh mencuri dokumen perusahaan oleh suami sendiri. Meski dinyatakan bebas dan berhak memimpin PT Blauran Cahaya Mulia yang membawahkan Empire Palace Surabaya, gedung bertingkat nan megah di Jalan Blauran, ia memilih tinggal di rumah toko.

“(Saya) ini mulai dari nol,” kata Trisulowati alias Chin Chin, Selasa 25 Desember 2018.

Sejak dua tahun terakhir, Ruko itu menjadi kantor sekaligus tempat tinggalnya. Pernikahannya dengan Gunawan Angka Wijaya kini berada di ujung tanduk. Gugatan cerainya masih bergulir di Mahkamah Agung.

Hari itu, tiga anak Chin Chin; Janice, James, dan Lawrence, sedang di “rumah”. Sejak semester lalu, Chin Chin mengirim mereka ke Amerika untuk sekolah. Ia khawatir proses hukum yang ia jalani kini berpengaruh buruk pada perkembangan anaknya.

“Ada panggilan sidang, polisi, kejaksaan ke rumah. Itu kan tak baik buat anak-anak,” katanya.

Ruko 66, demikian rumah toko yang ia tempati, adalah kompleks ruko di Jalan Kedungsari, Kedungdoro, Surabaya. Bangunan bertingkat itu bergaya klasik dengan pilar-pilar besar dan tinggi, serta berhias ornamen berbentuk setengah lingkaran dan segitiga.

Sekilas saat melihat arsitekturalnya, bentuk itu mengingatkan pada Empire Palace. Gedung yang berfungsi sebagai hotel dan ruang pertemuan itu berpilar tinggi dan berkubah setengah lingkaran. Ornamen dindingnya pun serupa meski tak sepenuhnya sama.

“Itu semua saya yang mendesain,” katanya.

Ruko 66 ia dirikan pada 2002. Sementara  Empire Palace, menjadi karya terbesar dan termegahnya, desain dan pembangunannya berlangsung pada 2005. Selain kedua gedung itu, ia juga merancang Royal Palace, ruko di Sidoarjo. Seluruhnya berdesain klasik.

Chin Chin mengatakan suka mendesain bangunan dengan model klasik. Menurut dia, gaya klasik tak lekang oleh zaman dan semakin mahal jika termakan usia. 

Salah satu gedung klasik yang menjadi favorit dan inspirasi karyanya adalah Hotel Majapahit. Bangunan di Jalan Tunjungan itu pernah bernama Hotel Oranje dan Hotel Yamato. Dibangun pada masa kolonial, hotel itu menjadi saksi sejarah peristiwa penyobekan bendera Merah-Putih-Biru oleh kaum pemuda pada 1945.

“Saya suka klasik tapi kokoh,” katanya.

Bagi dia, gedung klasik menyimpan keindahan tersendiri. Tapi indah saja tak cukup dalam bisnis properti.

Menurut arsitek lulusan Universitas Kristen Petra Surabaya tahun 1993 ini, merancang bangunan juga harus memperhatikan unsur fungsi dan kegunaan. Sebagus apa pun bangunan yang dibangun pada akhirnya harus bisa dijual ke konsumen.

Nggak bisa bilang bagus tapi (ternyata) nggak bisa dijual,” katanya.

Ya, sepanjang karir di bisnis properti, Chin Chin tak sekadar merancang dan membangun. Ia sekaligus piawai memasarkan gedung yang ia desain. Karyanya tersebar di sejumlah kota di Indonesia. Dari Surabaya, Sidoarjo, Tangerang, hingga Jakarta. Bentuknya beragam; ruko, gedung perkantoran, dan properti lain.

Jatuh Boleh, Bangun Harus

Meski gugatan cerainya masih berproses di Mahkamah Agung, sejak 2016 Chin Chin sudah berpisah dengan suami. Bercerai, sejatinya tak pernah terlintas di benaknya. Tapi, “(Jadi) perempuan harus mandiri, (juga) tahu diri,” katanya.

Tahun pertama sejak berpisah menjadi hari terberat dalam kehidupannya. Tenaga dan pikiran tersita untuk meladeni proses hukum; kasus pencurian dokumen perusahaan dan gugatan perceraian. Tak banyak pekerjaan yang bisa ia lakukan, terlebih ia sempat masuk bui.

Baru setahun terakhir, ia bisa lebih leluasa menata hidup. Ia memulai berbisnis properti lagi. Setidaknya ada dua proyek pembangunan gedung yang kini ia kerjakan. Sebuah kompleks ruko di Jalan Raden Saleh Surabaya dan perumahan di Krian Sidoarjo.

Roda bisnis itu ia kerjakan dengan bekerjasama dengan seorang kawan. Mereka mempekerjakan sepuluh orang karyawan dan berpusat di ruko yang kini sekaligus menjadi tempat tinggalnya. Lantai pertama jadi kantor dan etalase karya desainnya. Sementara lantai tiga jadi tempat tinggal, lantai dua jadi ruang administrasi.

Menurut Chin Chin, ketahanan ekonomi menjadi faktor utama penyangga ketahanan sebuah keluarga. Seorang perempuan tak sekadar melahirkan, tapi sekaligus bertanggungjawab pada kelangsungan anak-anaknya.

Sejak berpisah dengan suami, praktis kini ia seorang ibu untuk tiga anaknya dan kepala keluarga. “(Jadi) ibu harus bekerja tapi kami tak boleh melupakan fungsi sebagai ibu,” katanya.

Tak mengherankan, di tempat kerjanya kini, Chin Chin membebaskan pekerja perempuan membawa serta anak ke tempat kerja.

Sejak kecil Chin Chin terbiasa bekerja. Ia bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya seorang pengusaha tegel yang meninggal ketika Chin Chin berusia 13 tahun. “Dari kecil saya sudah jualan tempelan (stiker),” katanya mengenang masa kecil.

Menginjak bangku SMA, ia sekolah sembari mencari uang dengan memberikan les untuk anak-anak. Pekerjaan itu berlanjut hingga ia kuliah di Surabaya.

Lulus kuliah pada 1993, ia bekerja di Jakarta. Tahun 1997, kembali ke Surabaya, menikah dengan Gunawan, lalu membangun bisnis properti bersama suami.

Ia membagi sedikit pengalaman berbisnis. Sungguh-sungguh dalam bekerja dan berani menangkap peluang adalah kunci. Pebisnis sukses bukan orang bertangan dingin, tapi seberapa keras mereka berusaha. “Tangannya dingin atau enggak itu sebenarnya proses,” katanya.

Itulah prinsip kemandirian dalam hidupnya. Tapi, “Bukan berarti setelah kita punya bisnis, punya penghasilan lebih kemudian jadi durhaka pada suami,” katanya.

Toh hidup tak selalu berjalan seperti yang diangankan. Rumah tangga Chin Chin diwarnai pertengkaran. Tak jarang, ia mengatakan, menjadi korban kekerasan suami. Baik secara verbal maupun fisik. Imbasnya, tak hanya Chin Chin, anak-anak pun turut menderita akibat pertengkaran itu.

Meski semula takut dicap istri durhaka, akhirnya ia memberanikan diri untuk memutus kekerasan itu. Ia layangkan gugatan cerai. Bagi dia, kesempurnaan tak berarti harus mengorbankan kebahagian diri sendiri. “(Karena) semua orang berhak bahagia. Pak Gun (Gunawan), saya, anak-anak juga,” katanya.

Jatuh iya, bangun kembali itu harus. Kepercayaan dirinya kini kembali. “Nggak ada yang bisa mengubah kita kalau bukan kita sendiri,” katanya.