Sabtu, 04 July 2026 05:57 UTC

Kepala BKD Jawa Timur, Indah Wahyuni saat diwawancarai, Sabtu, 4 Juli 2026. Foto: Januar
JATIMNET.COM, Surabaya – Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Timur mencatat sekitar 20 hingga 25 aparatur sipil negara (ASN) setiap tahun mengajukan konsultasi maupun permohonan izin perceraian. Persoalan ekonomi menjadi salah satu faktor dominan yang memicu konflik rumah tangga, termasuk akibat jeratan pinjaman online (pinjol) dan praktik judi online.
Kepala BKD Jawa Timur, Indah Wahyuni, mengatakan permasalahan keluarga yang dialami ASN masih menjadi perhatian pemerintah daerah. Menurutnya, tekanan ekonomi tidak hanya mengganggu keharmonisan rumah tangga, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas pelayanan publik karena memengaruhi kinerja pegawai.
"Kalau masalah seperti itu pasti ada. Namun kami berupaya agar paling tidak bisa mencegah permasalahan tersebut," kata Indah Wahyuni di Surabaya, Sabtu, 4 Juli 2026.
Perempuan yang akrab disapa Yuyun itu menjelaskan, BKD Jawa Timur bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) telah menghadirkan aplikasi Pelita ASN (Pendamping Keluarga Terintegrasi ASN). Aplikasi tersebut disiapkan sebagai layanan konsultasi bagi ASN yang menghadapi persoalan keluarga maupun masalah pribadi.
BACA: 3 Tersangka Pungli Dinas ESDM Jatim Tetap Mendapatkan Gaji, Ini Alasan BKD
Melalui Pelita ASN, para ASN dapat berkonsultasi dengan psikolog mengenai berbagai persoalan, mulai dari konflik rumah tangga, pola pengasuhan anak, hingga kondisi psikologis. Pendampingan itu diharapkan mampu mencegah persoalan berkembang menjadi perceraian.
"Kalau ASN mengalami persoalan, baik yang berkaitan dengan dirinya sendiri, keluarga maupun anak-anaknya, mereka bisa berkonsultasi. Di DP3AK sudah tersedia layanan psikolog," ujarnya.
Selain memperkuat ketahanan keluarga, BKD Jawa Timur juga memberikan perhatian terhadap kondisi keuangan ASN. Yuyun menilai tekanan ekonomi akibat pinjaman online dapat memicu konflik dalam rumah tangga sekaligus berdampak pada kesehatan mental dan produktivitas pegawai.
BACA: ASN BPKAD Jatim Divonis Kasus Perzinaan, Terancam Dipecat Jika Putusan Inkrah
Untuk mengantisipasi persoalan tersebut, BKD bekerja sama dengan Bank Jatim melalui aplikasi Rumah ASN yang menyediakan layanan konsultasi keuangan. Dalam layanan itu, ASN dapat memperoleh pendampingan dari perencana keuangan (financial planner) agar mampu mengelola keuangan secara bijak dan terhindar dari pinjaman berbunga tinggi.
"Kami ingin memberikan pemahaman kepada ASN mengenai apa itu pinjol, bagaimana mekanismenya, serta dampaknya. Harapannya mereka tidak sampai terjebak," ujar Yuyun.
Tak hanya menyediakan edukasi literasi keuangan, Bank Jatim juga didorong menghadirkan berbagai pilihan pembiayaan yang lebih aman bagi ASN. Beberapa di antaranya berupa kredit perumahan dengan bunga ringan, pinjaman berjangka panjang, hingga fasilitas pembiayaan untuk mendukung peningkatan kompetensi pegawai.
BACA: Ribuan ASN Pensiun, Pemprov Jatim Prioritaskan Rekrutmen 2026 untuk Jabatan Teknis
Yuyun menegaskan, penguatan ketahanan keluarga dan peningkatan literasi keuangan menjadi bagian dari strategi menjaga profesionalisme ASN. Menurutnya, pegawai yang terbebas dari persoalan rumah tangga maupun tekanan ekonomi akan lebih fokus menjalankan tugas dan memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat.
"Kalau ASN memiliki banyak persoalan, tentu akan berdampak pada kinerjanya sehingga tidak optimal. Dengan adanya Pelita ASN, kami berharap ASN bisa bekerja lebih tenang sehingga kinerjanya juga semakin baik," pungkasnya.
